Muhibbin Muhibbin
UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

KEBERAGAMAAN ETNIS MUSLIM TIONGHOA DI JAWA TIMUR; Studi Terhadap Jamaah Masjid Cheng Hod di Jember dan Surabaya: Ethnic Diversity of Chinese Muslims in East Java; A Study Of Cheng Hod Mosque Worshipers in Jember and Surabaya Muhibbin Muhibbin; Ali Hasan Siswanto
Fenomena Vol 18 No 1 (2019): FENOMENA: Journal of the Social Sciences
Publisher : LP2M UIN KH.Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v18i1.14

Abstract

Keberadaan masjid Chengho di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah ekpedisi laksamana chengho yang singgah di nusantara, baik yang ada di daerah perkotaan Surabaya dan Pedesaan Jember. Dilihat dari bangunan, arsitek dan ornament-ornamentnya, masjid chengho sangat unik dan memiliki ciri khas sendiri. Masjid chengho dengan berbagai ornamennya merupakan symbol dari ekspresi keberagamaan etnis muslim tionghoa untuk meneguhkan identitas keislamannya dan ketionghoannya. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada ekspresi keberagamaan etnis tionghoa di Surabaya dan jember dengan tiga rumusan masalah yaitu tipologi etnik tionghoa jamaah masjid chengho di Jember dan Surabaya. Etnik muslim Tionghoa memfungsikan masjid Chengho di Surabaya dan Jember dan ekpresi keberagamaan etnik muslim tionghoa jamaah masjid Chengho di Surabaya dan Jember. Untuk menjawab rumusan masalah ini, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Geertzian dan Weberian. Melalui dua pembacaan ini dihasilkan Pertama; tipologi masyarakat etnit tionghoa yang berada di jember dapat dilihat dari tiga komponen yaitu agama yang dipeluknya, pilihan profesiya dan kesenian budayanya. Kedua; masyarakat memfungsikan masjid chengho baik di Surabaya maupun di jember dapat dilihat pada tiga hal yaitu fungsi ibadah, fungsi social budaya dan fungsi politik. Ketiga; Ekspresi keberagamaan etnis muslim tionghoa dapat dilihat dari tiga area yaitu area budaya, area ibadah dan area social-politik. The existence of the cheng ho mosque in Indonesia cannot be separated from the history of Admiral cheng ho's expedition that stopped in the archipelago, both in the urban area of Surabaya and Rural Jember. Judging from the buildings, architects, and ornaments, the cheng ho mosque is unique and has its characteristics. Cheng ho mosque, with its various decorations, is a symbol of the expression of Chinese Muslim ethnic diversity to reinforce its Islamic identity and ketionghoannya. Therefore, this study focused on the face of Chinese ethnic diversity in Surabaya and jember with three problem formulations, namely the typology of Chinese ethnic cheng ho mosque worshipers in Jember and Surabaya. Ethnic Chinese Muslims function at Cheng ho mosque in Surabaya and Jember and express the diversity of ethnic Chinese Muslims congregation Chengho mosque in Surabaya and Jember. To answer the formulation of this problem, this study uses qualitative methods with Geertzian and Weberian approaches. Through these two readings generated first, the typology of the Chinese ethnic community in jember can be seen from three components, namely the religion it embraces, the choice of profession, and Cultural Arts. Second, the community functioning of the cheng ho mosque both in Surabaya and in jember can be seen in three things: the function of worship, socio-cultural functions, and political processes. Third, the expression of Chinese Muslim ethnic diversity can be seen in three areas: cultural, worship, and socio-political.
GURITA KAPITALISME: SISI LAIN DUNIA YANG DATAR? Resensi Buku Muhibbin
Al'Adalah Vol. 17 No. 1 (2014)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam buku The World is Flat: Sejarah Ringkas Abad ke-21 ini, Thomas L. Friedman menjelaskan betapa globalisasi telah mencapai tingkat yang sama sekali baru (2009: 8). Seperti halnya Christhoper Columbus yang melakukan penjelajahan dunia sehingga ia dapat memastikan bahwa dunia itu memang bulat (2009: 3), Thomas L. Friedman dengan logika yang hampir mirip, memastikan bahwa dunia ini adalah datar (2009: 4). The flat world bagi Friedman, dijadikan kiasan (metafor) terhadap pandangan tentang dunia sebagai lapangan permainan untuk persaingan global (2009: 7) dalam perdagangan dimana semua kompetitor memiliki kesempatan yang sama.
Relasi Tokoh Agama dan Calon Kepala Desa dalam Pemilihan Kepala Desa Mulyorejo Kecamatan Silo Kabupaten Jember Mohammad Amin Risqi Maulidi; Muhibbin Muhibbin
Icon: Islamic Communication and Contemporary Media Studies Vol. 1 No. 1 (2022): Icon: Islamic Communication and Contemporary Media Studies
Publisher : Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pilkades a village head election activity which is considered closest democratic event to village community. Various elements of village community took part in  success of  democratic party, all groups took part in  village political contestation, such as success team to become village head candidates. The focus of the problems: 1) What are the reasons for the village head candidates to involve religious leaders in the 2021 village head election in Mulyorejo Village? 2) How to build communication between village head and religious leaders in 2021 Pilkades in Mulyorejo Village? 3) What is the impact of the involvement of religious leaders on village head candidates in the 2021 village head election in Mulyorejo Village? The objectives of study: 1) to describe  reasons for village head candidates to involve religious leaders in the Pilkades in Mulyorejo Village. 2) to describe how the candidate for village head builds communication with religious leaders. 3) to describe the impact of the involvement of religious leaders on village head candidates. The researcher descriptive qualitative approach. Data collection: interviews, documentation, observation. The data analysis: data collection, data reduction, data presentation,conclusion drawing. Research conclusions; 1) Broadly speaking, the reasons for the four candidates to involve religious leaders are varied, but of course to gather people's voices. 2) Relationships built by prospective village heads with religious leaders use massive and repeated approaches. 3) The impact  the involvement of religious leaders certainly reaps positive and negative impacts such as disappointment and satisfaction felt by the four candidates.
Pesantren and Media Imperialism: Resistance Against the Hegemony of Mainstream Media in Constructing the Issue of Radicalism-Terrorism in Indonesia Muhibbin; Abdul Choliq; Kun Wazis
Mediakita Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Mediakita : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam
Publisher : Fakultas Usluhuddin dan Dakwah UIN Syekh Wasil Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/mediakita.v9i2.2759

Abstract

The contemporary media landscape has undergone profound transformations in the digital age, fundamentally altering how information is produced, disseminated, and consumed across global societies. This study examines the intersection of media imperialism and Islamic educational institutions (pesantren) in Indonesia, focusing on how these traditional institutions resist hegemonic mainstream media narratives regarding radicalism and terrorism. Through qualitative research methodology employing in-depth interviews and content analysis, this research investigates how pesantren develop counter-narratives and alternative media strategies to challenge dominant discourse. The findings reveal that pesantren employ various forms of media resistance, including the establishment of independent media outlets, strategic use of digital platforms, and community-based communication networks. These institutions demonstrate remarkable adaptability in navigating contemporary media challenges while maintaining their cultural identity and educational mission. The study contributes to understanding media imperialism in the Indonesian context and highlights the agency of religious institutions in contesting hegemonic representations. The research concludes that pesantren’s media resistance strategies serve not only as corrective measures against misrepresentation but also as forms of cultural preservation and democratic participation in public discourse.
KEBERAGAMAAN ETNIS MUSLIM TIONGHOA DI JAWA TIMUR; Studi Terhadap Jamaah Masjid Chengho di Jember dan Surabaya: Ethnic Diversity of Chinese Muslims in East Java; A Study Of Chengho Mosque Worshipers in Jember and Surabaya Muhibbin Muhibbin; Ali Hasan Siswanto
Fenomena Vol 18 No 1 (2019): FENOMENA: Jurnal Penelitian Islam Indonesia
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v18i1.14

Abstract

Keberadaan masjid Chengho di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari sejarah ekpedisi laksamana chengho yang singgah di nusantara, baik yang ada di daerah perkotaan Surabaya dan Pedesaan Jember. Dilihat dari bangunan, arsitek dan ornament-ornamentnya, masjid chengho sangat unik dan memiliki ciri khas sendiri. Masjid chengho dengan berbagai ornamennya merupakan symbol dari ekspresi keberagamaan etnis muslim tionghoa untuk meneguhkan identitas keislamannya dan ketionghoannya. Oleh karena itu, penelitian ini difokuskan pada ekspresi keberagamaan etnis tionghoa di Surabaya dan jember dengan tiga rumusan masalah yaitu tipologi etnik tionghoa jamaah masjid chengho di Jember dan Surabaya. Etnik muslim Tionghoa memfungsikan masjid Chengho di Surabaya dan Jember dan ekpresi keberagamaan etnik muslim tionghoa jamaah masjid Chengho di Surabaya dan Jember. Untuk menjawab rumusan masalah ini, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Geertzian dan Weberian. Melalui dua pembacaan ini dihasilkan Pertama; tipologi masyarakat etnit tionghoa yang berada di jember dapat dilihat dari tiga komponen yaitu agama yang dipeluknya, pilihan profesiya dan kesenian budayanya. Kedua; masyarakat memfungsikan masjid chengho baik di Surabaya maupun di jember dapat dilihat pada tiga hal yaitu fungsi ibadah, fungsi social budaya dan fungsi politik. Ketiga; Ekspresi keberagamaan etnis muslim tionghoa dapat dilihat dari tiga area yaitu area budaya, area ibadah dan area social-politik. The existence of the cheng ho mosque in Indonesia cannot be separated from the history of Admiral cheng ho's expedition that stopped in the archipelago, both in the urban area of Surabaya and Rural Jember. Judging from the buildings, architects, and ornaments, the cheng ho mosque is unique and has its characteristics. Cheng ho mosque, with its various decorations, is a symbol of the expression of Chinese Muslim ethnic diversity to reinforce its Islamic identity and ketionghoannya. Therefore, this study focused on the face of Chinese ethnic diversity in Surabaya and jember with three problem formulations, namely the typology of Chinese ethnic cheng ho mosque worshipers in Jember and Surabaya. Ethnic Chinese Muslims function at Cheng ho mosque in Surabaya and Jember and express the diversity of ethnic Chinese Muslims congregation Chengho mosque in Surabaya and Jember. To answer the formulation of this problem, this study uses qualitative methods with Geertzian and Weberian approaches. Through these two readings generated first, the typology of the Chinese ethnic community in jember can be seen from three components, namely the religion it embraces, the choice of profession, and Cultural Arts. Second, the community functioning of the cheng ho mosque both in Surabaya and in jember can be seen in three things: the function of worship, socio-cultural functions, and political processes. Third, the expression of Chinese Muslim ethnic diversity can be seen in three areas: cultural, worship, and socio-political.
Arus Informasi Mengenai Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Jember Dalam Menarik Minat Calon Mahasiswa: The Flow of Information About the State Islamic Institute of Jember in Attracting Prospective Students Muhibbin Muhibbin
Fenomena Vol 1 No 1 (2002): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v1i1.270

Abstract

Despite various promotional programmes, STAIN Jember has not seen a significant annual increase in new student enrolment, suggesting suboptimal use of mass media in its socialisation processes. Drawing on communication theory and information diffusion models, this study investigates the volume of information received by prospective students, their information sources, the media channels used, and existing barriers. A survey was conducted, distributing questionnaires to 600 senior high school students across Jember, Situbondo, and Banyuwangi, selected through proportional cluster sampling. The findings reveal that although prospective students actively use television, radio, newspapers, and the internet to meet their information needs, STAIN Jember remains heavily reliant on brochures and banners, with 63% of respondents never having received an enrolment brochure. Furthermore, 57.2% expressed interest in enrolling, yet 64.5% never actively sought information about the institution, indicating a critical information gap. The study concludes that ineffective socialisation, limited use of mass media, and a lack of student involvement in campus activities exacerbate this asymmetry. It is recommended that STAIN Jember establish formal collaborations with the Department of Religious Affairs and the Department of Education, optimise multi-channel media strategies, and involve high school students in campus events to enhance information accessibility and institutional appeal. Meskipun memiliki berbagai program promosi, STAIN Jember belum mengalami peningkatan signifikan dalam jumlah pendaftar mahasiswa baru setiap tahunnya, yang mengindikasikan pemanfaatan media massa yang belum optimal dalam proses sosialisasi. Berdasarkan teori komunikasi dan model difusi informasi, penelitian ini menyelidiki volume informasi yang diterima calon mahasiswa, sumber informasi, saluran media yang digunakan, serta hambatan yang ada. Metode survei diterapkan dengan menyebarkan kuesioner kepada 600 siswa SLTA di Jember, Situbondo, dan Banyuwangi, yang dipilih melalui teknik proportional cluster sampling. Temuan menunjukkan bahwa meskipun calon mahasiswa aktif menggunakan televisi, radio, koran, dan internet untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka, STAIN Jember masih sangat bergantung pada brosur dan spanduk, dengan 63% responden tidak pernah menerima brosur pendaftaran. Lebih lanjut, 57,2% menyatakan berminat mendaftar, tetapi 64,5% tidak pernah secara aktif mencari informasi tentang STAIN Jember, yang menunjukkan kesenjangan informasi yang kritis. Penelitian menyimpulkan bahwa sosialisasi yang tidak efektif, keterbatasan penggunaan media massa, dan kurangnya keterlibatan siswa dalam kegiatan kampus memperparah asimetri ini. Direkomendasikan agar STAIN Jember menjalin kerja sama formal dengan Departemen Agama dan Dinas Pendidikan, mengoptimalkan strategi multi-channel media, serta melibatkan siswa sekolah menengah dalam kegiatan kampus untuk meningkatkan aksesibilitas informasi dan daya tarik institusi.
Pola Dakwah Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) kepada Masyarakat Muslim Tionghoa di Kabupaten Jember: The Da'wah Approach of the Islamic Monotheism Faith Development Association (PITI) to the Chinese Muslim Community in Jember Regency Muhibbin Muhibbin
Fenomena Vol 2 No 1 (2003): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v2i1.320

Abstract

The Chinese Muslim community in Indonesia, as an ethnic and religious minority, faces complex challenges in maintaining its Islamic identity while navigating cross-ethnic social interactions, often hindered by historical exclusivism and cultural barriers. Using a qualitative case study approach with data collection techniques including participant observation, in-depth interviews, and documentation, this research examines the social interaction models and da'wah patterns developed by the Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) in Jember. The findings reveal that PITI Jember, established in 1991, has developed da'wah activities across socio-religious, economic, and educational domains, including regular religious gatherings (pengajian), religious consultations, ta'aruf (mutual introduction), and preacher cadre training. Despite operating at a growth stage rather than an advanced developmental stage, the organization demonstrates dynamic activities that foster inclusive interactions among Chinese Muslims, Chinese non-Muslims, and non-Chinese Muslims. Key obstacles include limited human resources, a lack of a dedicated mosque facility, and persistent perceptions of exclusivism. This study concludes that PITI Jember successfully promotes assimilation and ukhuwah Islamiyah (Islamic brotherhood) through value-based approaches and recommends strengthening institutional capacity and public-private partnerships to enhance da'wah effectiveness. Masyarakat Muslim Tionghoa di Indonesia, sebagai minoritas etnis dan agama, menghadapi tantangan kompleks dalam mempertahankan identitas keislaman sekaligus menjalin interaksi sosial lintas etnis yang sering terhambat oleh eksklusivisme historis dan hambatan budaya. Menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus dengan teknik pengumpulan data observasi terlibat, wawancara mendalam, dan dokumentasi, penelitian ini mengkaji model interaksi sosial dan pola dakwah yang dikembangkan oleh Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) di Jember. Temuan menunjukkan bahwa PITI Jember yang berdiri tahun 1991 mengembangkan tindakan dakwah di bidang sosial keagamaan, ekonomi, dan pendidikan, meliputi pengajian, konsultasi agama, ta’aruf, serta pengkaderan dai. Meskipun masih dalam taraf pertumbuhan dan belum memasuki taraf perkembangan yang intensif, organisasi ini menunjukkan dinamika kegiatan yang mampu mendorong interaksi inklusif antara Muslim Tionghoa, non-Muslim Tionghoa, dan Muslim non-Tionghoa. Hambatan utama meliputi keterbatasan sumber daya manusia, belum adanya sarana masjid, serta anggapan masyarakat bahwa PITI adalah organisasi eksklusif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa PITI Jember berhasil mendorong pembauran dan ukhuwah Islamiyah melalui pendekatan nilai-nilai keagamaan, dengan rekomendasi penguatan kapasitas kelembagaan dan kemitraan lintas sektor untuk meningkatkan efektivitas dakwah.
Mitos Watu Loso Dan Praktik Slametan Masyarakat Using Dusun Krajan Desa Alasmalang Singojuruh Banyuwangi Nita Kurniawati; Muhibbin Muhibbin
Meyarsa: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Dakwah Vol. 2 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/meyarsa.v2i2.4586

Abstract

Mitos merupakan cerita irrasional yang dikaitkan dengan suatu kepercayaan agama yang merupakan warisan bangsa primitif. Meskipun di zaman modern seperti sekarang ini, masih banyak orang yang masih memegang teguh mitos yang merupakan warisan nenek moyang yang di wariskan dari generasi ke generasi. Kepercayaan terhadap mitos bagian dari kebudayaan yang telah mengakar. Seperti mitos Watu Loso dan praktik slametan yang sampai saat ini masih dipercaya oleh masyarakat Using Dusun Krajan Desa Alasmalang Singojuruh Banyuwangi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskripif dengan jenis pendekatan naratif. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa: Mitos Watu Loso dalam praktik slametan diproduksi sebagai upaya memohon keselamatan. Proses reproduksi mitos tidak bisa lepas dari peran beberapa tokoh dengan masyarakat yang saling berkomunikasi secara efektif untuk melestarikannya. Tokoh yang paling dominan dalam reproduksi mitos adalah Muraji yang merupakan tokoh adat sekaligus keturunan Buyut Karti (generasi ke-4). Kepercayaan terhadap mitos Watu Loso diperkuat dengan beberapa momen mistis ketika mengadaka hajatan dan melakukan semedi di Watu Loso. Hujan angin, desel mati, dan janur roboh merupakan dampak karena tidak melalukan slametan di Watu Loso. Adanya sosok kerbau berkepala ular yang selalu menampakkan diri pada orang yang melakukan semedi, dipercaya sebagai (danyang) penunggu Watu Loso agar tidak memiliki niatan untuk mendapatkan sesuatu dari Watu Loso dengan jalan pintas.