Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : JURNAL BIOMEDIK

HUBUNGAN TINGGI BADAN DENGAN PANJANG KAKI PADA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNSRAT Paluta, Reniwaty S.; Tanudjaja, George N.; Pasiak, Taufiq F.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.1.2013.2611

Abstract

Abstract: Identification of a dead body is important in determining the clarity of one’s identity. Height is an important parameter in the process of identification and is one of the fields of study of physical anthropology. It is expected that the height can be determined by using the measurements of long bones, such as metatarsal bones and phalanges. This study aimed to find out the relationship between the height and foot length in the students of Faculty of Medicine University of Sam Ratulangi, Manado. This was a descriptive analytic study with cross-sectional design. Samples were selected by using systematic sampling methods. As samples, we used 74 students (registered in 2010) comprising 37 males and 37 females. Data were analyzed with a Pearson correlation analysis as well as a simple linear regression analysis. The results showed that there was a strong correlation between height and foot length with the correlation coefficients (r) of 0.846 for all samples, 0.520 for male students, and 0.711 for female students. The simple linear regression analysis resulted in three formulas: male height = 112.930 + 2.361 × foot length; female height = 4.223 + 64.241 × foot length; and overall height = 4.717 + 54.729 × foot length. Conclusion: There was a strong relationship between the heights and the foot lengths of students at the Faculty of Medicine University of Sam Ratulangi University Manado. Keywords: identification, height, foot length.   Abstrak: Identifikasi ialah pemeriksaan penting dalam menentukan kejelasan identitas seseorang. Tinggi badan merupakan parameter penting dalam proses identifikasi dan bidang telaah antropologi ragawi. Tinggi badan diharapkan dapat ditentukan dengan menggunakan pengukuran tulang-tulang panjang, diantaranya tulang metatarsal dan falang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tinggi badan dengan panjang kaki pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan rancangan cross-sectional. Sampel berjumlah 74 mahasiswa yang terdaftar pada tahun 2010, terdiri dari 37 laki-laki dan 37 perempuan. Sampel dipilih menggunakan cara systematic sampling. Data dianalisis dengan uji korelasi Pearson dan analisis regresi linier sederhana.  Hasl penelitian memperlihatkan terdapatnya hubungan kuat antara tinggi badan dan panjang kaki dengan koefisien korelasi (r) keseluruhan 0,846, pada laki-laki 0,520, dan pada perempuan 0,711. Dari hasil analisis regresi linier sederhana didapatkan rumus Tinggi Badan (TB) laki-laki = 112,930 + 2,361 × panjang kaki, TB perempuan = 64,241 + 4,223 × panjang kaki, dan secara keseluruhan TB = 54,729 + 4,717 × panjang kaki. Simpulan: Terdapat hubungan antara tinggi badan dan panjang kaki pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Kata kunci: identifikasi, tinggi badan, panjang kaki.
GAMBARAN HISTOLOGIK AORTA TIKUS WISTAR DENGAN DIET LEMAK BABI SETELAH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN PEPAYA Panjaitan, Friska W. F.; Kaseke, Marie M.; Tanudjaja, George N.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.1.2013.2610

Abstract

Abstract: Papaya leaves contain several antioxidants (flavonoid, tanin, and vitamin C) which have antiatherogenic effects that may inhibit the progression of an atherosclerotic lesion. One of the risk factors causing atherosclerosis is the consumption of food containing highly saturated fatty acids e.g. lard. Low density lipoproteins (LDL) accumulate within the intima and then are oxidized (LDL-ox). This LDL-ox is ingested by macrophages, resulting in foam-cell formation (early lesion of atherosclerosis). This study aimed to find out the histological features of the aorta of wistar rats having lard diets without the addition of the papaya leaf extract; having lard diets along with the papaya leaf extract; and having lard diets followed by papaya leaf extract. This was an experimental study on 16 wistar rats divided into 4 groups: group I without treatment (negative control group), group II lard diet for 14 days (positive control group), group III lard diet with papaya leaf extract for 14 days (treatment group I), and group IV lard diet for 14 days, and then followed by papaya leaf extract for 14 days (treatment group II). It was found that the aorta of group I showed adipose cells in the intima and media layers; group II and III showed foam cells in both layers; and group IV showed foam cells in fewer numbers than group II. Conclusion: The aorta histological features of wistar rats given lard diets for 14 days, with or without papaya leaf extract, showed foam cells in the intima and media layers. Papaya leaf extraxt added to lard diets had no effect on decreasing foam cells (no protective effect), meanwhile papaya leaf extract following lard diets showed a reduction of foam cells (therapeutic effect). Keywords: papaya leaf, lard dietary, foam cells, wistar rat.   Abstrak: Daun pepaya mengandung antioksidan (flavonoid, vitamin C) yang berefek anti-aterogenik, sehingga diharapkan dapat menghambat perkembangan lesi aterosklerosis. Salah satu faktor risiko penyebab aterosklerosis yaitu makanan yang berkandungan tinggi asam lemak jenuh, antara lain lemak babi. Konsumsi lemak jenuh berlebihan dapat mengganggu fungsi sel endotel, sehingga lipoprotein berdensitas rendah (LDL) dapat masuk dan menjadi LDL teroksidasi (LDL-oks). Makrofag menangkap LDL-oks dan menjadi sel busa (lesi dini aterosklerosis). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histologik aorta tikus wistar dengan diet lemak babi tanpa pemberian ekstrak daun pepaya, diet lemak babi bersamaan pemberian ekstrak daun pepaya, dan setelah diet lemak babi dilanjutkan pemberian ekstrak daun pepaya. Penelitian ini bersifat eksperimental. Subyek penelitian terdiri dari 16 ekor tikus wistar yang dibagi menjadi empat kelompok: kelompok I tanpa perlakuan (kelompok kontrol negatif); kelompok II dengan diet lemak babi selama 14 hari (kelompok kontrol positif); kelompok III dengan diet lemak babi serta pemberian ekstrak daun pepaya selama 14 hari (kelompok perlakuan I); dan kelompok IV dengan diet lemak babi selama 14 hari, dilanjutkan pemberian ekstrak daun pepaya selama 14 hari (kelompok perlakuan II). Hasil penelitian memperlihatkan gambaran histologi aorta kelompok I tampak perlemakan; pada kelompok II terdapat sel-sel busa; pada kelompok III masih terdapat sel-sel busa; dan pada kelompok IV terdapat sel-sel busa, namun dalam jumlah yang lebih sedikit dibandingkan pada gambaran kelompok II. Simpulan: Tikus wistar dengan diet lemak babi selama 14 hari, baik dengan maupun tanpa ekstrak daun pepaya, memperlihatkan gambaran histologik adanya sel-sel busa pada tunika intima dan tunika media aorta. Pemberian ekstrak daun pepaya bersamaan dengan diet lemak babi tidak berefek menurunkan jumlah sel busa (tidak ada efek protektif) sedangkan pemberian ekstrak daun pepaya setelah diet lemak babi berefek mengurangi jumlah sel-sel busa yang terbentuk (efek terapi). Kata kunci: daun pepaya, diet lemak babi, sel-sel busa, tikus wistar.
PERAN VITAMIN C TERHADAP PIGMENTASI KULIT Kembuan, Melisa Veronica; Wangko, Sunny; Tanudjaja, George N.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 4, No 3 (2012): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.4.3.2012.1215

Abstract

Abstract: The effective use of vitamine C for skin care has been widely recognized, in particular its use to make the skin more radiant. This is related to the action of vitamine C as a powerful antioxidant which can be easily absorbed by the body. Several clinical trials found that vitamine C had a positive effect as a skin pigmentation lightener. Some treatment for pigment disorders, in this case the management of melasma and senile lentigos, includes vitamine C as a systemic treatment. Keywords: vitamin C, pigmentation, melanocyte.   Abstrak: Efek vitamin C untuk kecantikan kulit telah banyak diterapkan, khususnya  penggunaan vitamin C untuk efek pencerahan kulit. Hal ini berkaitan dengan sifat vitamin C yang merupakan antioksidan kuat dan dapat diserap mudah oleh tubuh. Dari beberapa pengujian klinis ditemukan bahwa efek vitamin C terhadap pigmentasi mempunyai hasil positif yaitu dapat mencerahkan kulit. Beberapa pengobatan untuk masalah kelainan pigmen dalam hal ini penatalaksanaan melasma dan lentigo senilis menggunakan vitamin C untuk pengobatan sistemik. Kata kunci: vitamin C, pigmentasi, melanosit.
PERSARAFAN LIDAH Tanudjaja, George N.
JURNAL BIOMEDIK : JBM Vol 5, No 3 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.3.2013.4348

Abstract

Lidah merupakan suatu organ muskuler yang sangat mobil dan mempunyai bentuk yang dapat berubah-ubah dalam waktu yang singkat sesuai dengan kemauan dan kebutuhan. Pada saat istirahat lidah menempati bagian terbesar kavitas oris proprium atau rongga mulut utama.   Organ ini terdiri dari tiga bagian, yaitu radiks lingua, korpus lingua dan apeks lingua. Radiks atau basis adalah bagian posterior yang terikat, terutama ke dasar mulut. Fungsi lidah berhubungan dengan proses-proses mengunyah atau penghancuran makanan, mengecap, menelan, berbicara dan membersihkan mulut, tetapi fungsi utamanya ialah untuk mengantarkan makanan ke dalam faring ketika menelan dan membentuk kata-kata saat berbicara. Sebagian besar lidah terdapat di dalam kavum oris dan sebagian kecil lagi di dalam orofaring. Komponen utama lidah ialah otot-otot yang diliputi oleh membran mukosa pada bagian dorsum lingua, apeks lingua, dan bagian lateralnya.
PERBANDINGAN KADAR GULA DARAH POST-PRANDIAL PADA WANITA OBES SENTRAL DENGAN DAN TANPA RIWAYAT KELUARGA PENYAKIT KARDIOVASKULAR Widyaningrum, Arum P. S.; Wangko, Sunny; Tanudjaja, George N.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 5, No 1 (2013): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.5.1.2013.2609

Abstract

Abstract: Inflammatory process plays some important roles in the occurence of insulin resistance in obesity which inhibits the glucose molecules from entering the cells. In obesity, adipocytes produce active biological molecules called adipokines, some of which worsen the inflammatory process. Insulin resistance results in increases of fasting and post-prandial blood glucose. This study aimed to determine the comparison of post-prandial glucose in central obese women with and without family histories of cardiovascular diseases. This was a cross sectional design study, using a purposive sampling method. This study was carried out at Kairagi Weru Lingkungan IV, Manado.There were 44 respondents that met the inclusion criteria. The data used were BMI, waist circumference, questionnaires, and 2-hour-post-prandial blood glucose examinations. The results showed that most of the respondents were 46-50 years old. For all respondents, there was no significant correlation (P > 0.05) between ages and post-prandial blood glucose levels, or between the BMIs and post-prandial blood glucose levels. The statistic analysis showed that there was no correlation (P = 0.680) between cardiovascular disease family histories and post-prandial blood glucose levels. Besides that, there was no significant difference (P = 0.209) between post-prandial blood glucose levels among samples with or without cardiovascular disease family histories. Conclusion: There was no significant difference in the 2-hour-post-prandial blood glucose levels among the central obese women with or without family histories of cardiovascular diseases. Keywords: cardiovascular disease, central obesity, family history, postprandial.    Abstrak: Reaksi inflamasi berperan dalam resistensi insulin pada obesitas yang mengakibatkan glukosa sulit memasuki sel. Pada obesitas, adiposit menghasilkan molekul biologis aktif, yaitu adipokin; beberapa di antaranya memperburuk proses inflamasi. Resistensi insulin menghasilkan peningkatan kadar gula darah puasa dan post-prandial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kadar gula darah dua jam post-prandial pada wanita obes sentral dengan atau tanpa riwayat keluarga penyakit kardiovaskular. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan dilakukan di Kelurahan Kairagi Weru Lingkungan IV pada bulan Oktober-November 2012. Sampel sebanyak 44 orang, yang didapatkan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data diperoleh melalui pemeriksaan IMT dan LP, pengisian kuesioner, serta pemeriksaan kadar gula darah dua jam post-prandial. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar sampel berusia 46-50 tahun. Analisis statistik menunjukkan untuk semua sampel tidak terdapat korelasi bermakna (P > 0,05) antara usia dan kadar gula darah post-prandial, atau antara IMT dan kadar gula darah post-prandial. Tidak terdapat korelasi (P = 0,680) antara sampel yang dengan atau tanpa riwayat keluarga penyakit kardiovaskular dan kadar gula darah post-prandial. Selain itu, tidak terdapat perbedaan bermakna (P = 0,209) antara kadar gula darah post-prandial blood glucose levels pada sampel dengan dan tanpa riwayat keluarga penyakit kardiovaskular. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kadar gula darah dua jam postprandial pada wanita obes sentral dengan dan tanpa riwayat keluarga penyakit kardiovaskular. Kata kunci: obes sentral, postprandial, penyakit kardiovaskular, riwayat keluarga.
GANGGUAN MANSET ROTATOR SENDI BAHU Suatu tinjauan anatomik Tanudjaja, George N.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 6, No 3 (2014): JURNAL BIOMEDIK : JBM Suplemen
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.6.3.2014.6332

Abstract

Abstract: Rotator cuff of glenohumeral joint is a group of muscles and their tendons which surrounds and protects the wholeness of the glenohumeral joint and functions as a shoulder rotator. Shoulder pain is commonly found and is mostly caused by tendinitis of the rotator cuff or subacromial bursitis. There are four important muscles of this rotator cuff: supraspinatus, infraspinatus, teres minor, and subscapularis (SITS) muscles. Among them, the most troublesome is the tendon of supraspinatus muscle that functions as a sheet as well as the abductor of glenohumeral joint. Therefore, tendinitis of this muscle is associated with spontaneous pain and disturbance in lifting the superior extremity. This cuff structure shows that tendons of the SITS muscles together with the capsule of genohumeral joint and the joint structure itself enable a very wide range of motion with a consequence of being troubled easily.Keywords: glenohumeral, rotator cuf, tendon, jointAbstrak: Manset rotator sendi bahu adalah sekelompok otot dan tendonnya yang mengelilingi dan menjaga keutuhan articulatio genohumerale dengan fungsi lain sebagai rotator brachium. Nyeri bahu sering ditemukan dan umumnya disebabkan oleh tendinitis manset rotator atau bursitis subacromiale. Di antara keempat tendines, yang tersering mengalami gangguan yaitu tendon m. supraspinatus yang selain sebagai pembungkus juga berfungsi sebagai abduktor articulatio glenohumerale sehingga selain nyeri spontan juga ditemukan kesulitan mengangkat membrum superior. Struktur manset ini menunjukkan bahwa tendines keempat otot tersebut bergabung dengan capsula articularis genohumerale dengan struktur sendinya yang memungkinkan pergerakan bahu yang sangat luas tetapi dengan konsekuensi akan lebih mudah terjadi gangguan.Kata kunci: sendi bahu, manset rotator, tendon, articulatio