Stefanus Suheru
Sekolah Tinggi Teologi Kingdom

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MEMBACA TEKS KEKERASAN DALAM YOSUA 11 DAN IMPLIKASINYA BAGI KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA DI INDONESIA Stefanus Suheru
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 1, No 2 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v1i2.120

Abstract

AbstractThis research addresses the problem of violence in the name of religion increasingly widespread in Indonesia. Ironically, the violence is getting legitimacy of scriptural texts, including the Bible. This means, that violence is not only driven by external motives such as political, economic and social development. Internal motives can also make a major contribution, even a major problem. Violence has theological roots, one of them, related to the interpretation of religious texts which, when understood literally, is able to present the figure of a violent religion. Solutions offered in this study is the reading of narratives of violence, with the text of Joshua 11 as an example, using the method of narrative analysis. The results showed that the text of Joshua 11 violence can not justify a Christian to be violent. The image of God as the Divine Warrior is ambiguous, kherem implementation that does not ignore the grace of salvation for outsiders to be insiders, and Israel's war put the violence in the name of religion in a position that is not relevant to the lives of Indonesia plural. Violence texts as core testimonies need to be matched with texts of peace as counter testimonies.AbstrakPenelitian ini membahas masalah kekerasan atas nama agama yang semakin marak di Indonesia. Ironisnya, kekerasan ini mendapatkan legitimasi dari teks-teks kitab suci, termasuk Alkitab. Hal ini berarti, kekerasan tidak hanya dipicu oleh motif-motif eksternal seperti kepentingan politik, ekonomi dan sosial.  Motif internal juga dapat memberikan kontribusi yang besar, bahkan merupakan masalah utama.  Kekerasan memiliki akar teologis, yang salah satunya, terkait dengan interpretasi teks-teks keagamaan yang ketika dipahami secara literal, mampu menghadirkan sosok agama yang penuh kekerasan. Solusi yang penulis tawarkan dalam penelitian ini adalah pembacaan narasi kekerasan, dengan teks Yosua 11 sebagai contoh, dengan menggunakan metode analisis naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teks kekerasan Yosua 11 tidak bisa dijadikan pembenaran orang Kristen untuk melakukan kekerasan. Citra Allah sebagai Divine Warrior yang ambigu, pelaksanaan kherem yang tidak menutup anugerah keselamatan bagi outsiders sehingga menjadi insiders, dan perang Israel yang bersifat kasuistik, menempatkan kekerasan atas nama agama pada posisi yang tidak relevan dengan kehidupan Indonesia yang majemuk.Teks-teks kekerasan sebagai core testimony perlu ditandingkan dengan teks-teks perdamaian sebagai counter testimony.
Teologi Kerajaan Berdasarkan Injil Matius Stefanus Suheru
STT Kingdom Vol 1 No 2 (2021): KINGDOM : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : STT KINGDOM BALI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.782 KB)

Abstract

Studi ini berfokus pada penggunaan khusus dari istilah Kerajaan dalam Injil Matius. Ada dua alasan utama peneliti memilih topik ini. Pertama, Matius adalah kitab yang menghubungkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sehingga pembahasan Kerajaan dalam Injil pertama ini sangat penting. Kedua, konsep Kerajaan ditampilkan secara mencolok dalam Injil Matius; karena sebenarnya, itulah tema sentral kitab tersebut. Untuk tercapainya kajian tersebut, peneliti menggunakan Metode literer atau tinjauan pustaka dengan pendekatan deskriptif dan analitis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa Kerajaan Allah merupakan pemerintahan Allah yang telah memasuki zaman ini melalui kehadiran Yesus dan akan menjadi sempurna dalam pemerintahan-Nya pada saat kedatangan-Nya yang kedua kalinya di waktu yang akan datang.
Karakter Warga Kerajaan Allah Berdasarkan Ucapan Bahagia Dalam Injil Matius 5:3-12 Stefanus Suheru
STT Kingdom Vol 2 No 1 (2022): KINGDOM : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : STT KINGDOM BALI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.472 KB)

Abstract

Ucapan Bahagia seringkali disalahmengerti sebagai rangkaian kata-kata mutiara yang indah dan ideal belaka, tetapi tidak relevan dan tidak mungkin untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam konteks Khotbah di Bukit (Matius 5-7) dan isi kitab Injil Matius secara keseluruhan, ucapan bahagia ini menjadi penting karena merupakan prinsip-prinsip mendasar dari Kerajaan Allah dan menjadi karakter Kerajaan bagi setiap warga Kerajaan yang memasukinya. Dengan metode literer ditemukan ciri-ciri karakter pemerintahan Kerajaan yang terutama adalah kerendahan hati terhadap Tuhan dan belas kasihan terhadap manusia. Dengan kasih karunia Allah yang melimpah karakter Kerajaan ini termanifestasi dalam kehidupan warga Kerajaan-Nya.
Karakter Warga Kerajaan Allah Berdasarkan Ucapan Bahagia Dalam Injil Matius 5:3-12 Stefanus Suheru
STT Kingdom Vol 2 No 2 (2022): KINGDOM : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Publisher : STT KINGDOM BALI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.589 KB)

Abstract

Kerajaan Allah merupakan tema sentral dari pengajaran Yesus. Banyak upaya untuk memahami sifat Kerajaan Allah telah dilakukan dengan hasil yang sangat bervariasi. Artikel ini akan menjadi upaya lain untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh Yesus tentang Kerajaan Allah. Secara khusus artikel ini akan menganalisis perumpamaan-perumpamaan di Matius 13, sebagai metode Yesus yang sederhana untuk mengungkapkan gagasan tentang Kerajaan Allah. Untuk tercapainya kajian tersebut, peneliti menggunakan metode literer atau tinjauan pustaka dengan pendekatan deskriptif dan analitis. Hasil penelitian ini menemukan bahwa Kerajaan Allah mencapai pertumbuhan dan keberhasilan yang luar biasa, namun bekerja dengan cara-cara yang tidak spektakuler. Kerajaan Allah memiliki nilai yang luar biasa, namun ada harga yang harus dibayar. Kerajaan Allah mendatangkan sambutan yang penuh sukacita sekaligus oposisi yang sengit. Kerajaan Allah ada pada masa kini dan penghakiman di masa depan. Kerajaan itu berkelanjutan dengan "yang lama," namun mengarahkan kembali lintasannya dengan cara-cara yang baru. Dan Kerajaan Allah menuntut kesetiaan kepada kitab suci Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, dan mengajarkannya kepada orang lain secara akurat, sebagaimana ditekankan oleh Yesus sebagai dasar bagi setiap ahli Taurat yang dimuridkan