GUMULYA DJUHARTO
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI ALETHEIA

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

LABORATORIUM IBADAH BAGI ORANG PERCAYA-ANALISA NARASI 1 SAMUEL 1 GUMULYA DJUHARTO
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 4, No 1 (2016): MARET 2016
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v4i1.46

Abstract

Abstract: Reading Hannah‘s success to overcome life‘s dilemma proved that the true worship based on the sincerity of heart will be a kind of laboratory and clinic for healing. It is a place where believers had an experience of recovery process and finding solution even though someone can give an unsuitable reaction toward their condition. As long as the attitude of trusting God becomes an integral part of believer‘s life, they can always find hope in God.  Keywords: Laboratory, Worship, Reaction, Finding Solution
ANALISA NARASI TENTANG RELASI DAUD DENGAN ABSALOM DALAM 2 SAMUEL 13-19 GUMULYA DJUHARTO
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 3, No 1 (2015): MARET 2015
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v3i1.32

Abstract

Penelitian terhadap relasi Daud dengan Absalom menjadi pelajaran berharga terkait relasi orang tua dengan anak, khususnya relasi seorang ayah dengan anak laki-lakinya. Setelah membaca teks seputar Daud dan Absalom, penulis diyakinkan bahwa masalah relasi yang tidak terjalin konstruktif di antara keduanya diakibatkan oleh hilangnya komunikasi langsung dua arah di antara mereka berdua. Hilangnya jenis komunikasi seperti itu coba dilengkapi oleh narator melalui berbagai cara. Pertama, menampilkan peran Absalom terhadap Tamar pasca pemerkosaan yang dilakukan Amnon, yang sebenarnya lebih tepat bila peran tersebut dilakukan oleh Daud sebagai ayah kandung Tamar : memahami permasalahan yang terjadi dan perasaan Tamar; menolong Tamar melewati masa sulit dan membelanya; memberikan ketenangan emosional kepada Tamar. Kedua, menampilkan ketidakpekaan Daud terhadap permintaanpermintaan Absalom yang berujung pada pembunuhan terhadap Amnon. Penulis melihat jika Daud memenuhi permintaan untuk hadir dalam acara pengguntingan bulu domba, pertumpahan darah tidak akan terjadi. Ketiga, melalui nasihat tidak langsung dari perempuan Tekoa melalui rekayasa kasus yang sebenarnya mengandung tindakan-tindakan penting yang seharusnya dilakukan Daud, antara lain: menjadi penengah di tengah konflik yang terjadi; mencegah agar konflik tidak makin meluas; menyelesaikan masalah dengan bijak; menyampaikan kata-kata yang menenangkan hati; dan memberikan teladan hidup. Penulis melihat semuanya ini adalah pemaparan tentang sisi melankolis Daud yang justru melemahkan kepemimpinan Daud, khususnya kepemimpinan dalam keluarga. Ironisnya, melalui pemaparan relasi dengan anak buah dan rekan-rekannya, Daud justru menampilkan sisi melankolis, yang bukan melemahkan, melainkan justru memperkuat sisi kolerik kepemimpinan Daud. Akhirnya, penulis melihat bahwa semua tragedi di tengah keluarga Daud Penelitian terhadap relasi Daud dengan Absalom menjadi pelajaran berharga terkait relasi orang tua dengan anak, khususnya relasi seorang ayah dengan anak laki-lakinya. Setelah membaca teks seputar Daud dan Absalom, penulis diyakinkan bahwa masalah relasi yang tidak terjalin konstruktif di antara keduanya diakibatkan oleh hilangnya komunikasi langsung dua arah di antara mereka berdua. Hilangnya jenis komunikasi seperti itu coba dilengkapi oleh narator melalui berbagai cara. Pertama, menampilkan peran Absalom terhadap Tamar pasca pemerkosaan yang dilakukan Amnon, yang sebenarnya lebih tepat bila peran tersebut dilakukan oleh Daud sebagai ayah kandung Tamar : memahami permasalahan yang terjadi dan perasaan Tamar; menolong Tamar melewati masa sulit dan membelanya; memberikan ketenangan emosional kepada Tamar. Kedua, menampilkan ketidakpekaan Daud terhadap permintaanpermintaan Absalom yang berujung pada pembunuhan terhadap Amnon. Penulis melihat jika Daud memenuhi permintaan untuk hadir dalam acara pengguntingan bulu domba, pertumpahan darah tidak akan terjadi. Ketiga, melalui nasihat tidak langsung dari perempuan Tekoa melalui rekayasa kasus yang sebenarnya mengandung tindakan-tindakan penting yang seharusnya dilakukan Daud, antara lain: menjadi penengah di tengah konflik yang terjadi; mencegah agar konflik tidak makin meluas; menyelesaikan masalah dengan bijak; menyampaikan kata-kata yang menenangkan hati; dan memberikan teladan hidup. Penulis melihat semuanya ini adalah pemaparan tentang sisi melankolis Daud yang justru melemahkan kepemimpinan Daud, khususnya kepemimpinan dalam keluarga. Ironisnya, melalui pemaparan relasi dengan anak buah dan rekan-rekannya, Daud justru menampilkan sisi melankolis, yang bukan melemahkan, melainkan justru memperkuat sisi kolerik kepemimpinan Daud. Akhirnya, penulis melihat bahwa semua tragedi di tengah keluarga Daud Penelitian terhadap relasi Daud dengan Absalom menjadi pelajaran berharga terkait relasi orang tua dengan anak, khususnya relasi seorang ayah dengan anak laki-lakinya. Setelah membaca teks seputar Daud dan Absalom, penulis diyakinkan bahwa masalah relasi yang tidak terjalin konstruktif di antara keduanya diakibatkan oleh hilangnya komunikasi langsung dua arah di antara mereka berdua. Hilangnya jenis komunikasi seperti itu coba dilengkapi oleh narator melalui berbagai cara. Pertama, menampilkan peran Absalom terhadap Tamar pasca pemerkosaan yang dilakukan Amnon, yang sebenarnya lebih tepat bila peran tersebut dilakukan oleh Daud sebagai ayah kandung Tamar : memahami permasalahan yang terjadi dan perasaan Tamar; menolong Tamar melewati masa sulit dan membelanya; memberikan ketenangan emosional kepada Tamar. Kedua, menampilkan ketidakpekaan Daud terhadap permintaanpermintaan Absalom yang berujung pada pembunuhan terhadap Amnon. Penulis melihat jika Daud memenuhi permintaan untuk hadir dalam acara pengguntingan bulu domba, pertumpahan darah tidak akan terjadi. Ketiga, melalui nasihat tidak langsung dari perempuan Tekoa melalui rekayasa kasus yang sebenarnya mengandung tindakan-tindakan penting yang seharusnya dilakukan Daud, antara lain: menjadi penengah di tengah konflik yang terjadi; mencegah agar konflik tidak makin meluas; menyelesaikan masalah dengan bijak; menyampaikan kata-kata yang menenangkan hati; dan memberikan teladan hidup. Penulis melihat semuanya ini adalah pemaparan tentang sisi melankolis Daud yang justru melemahkan kepemimpinan Daud, khususnya kepemimpinan dalam keluarga. Ironisnya, melalui pemaparan relasi dengan anak buah dan rekan-rekannya, Daud justru menampilkan sisi melankolis, yang bukan melemahkan, melainkan justru memperkuat sisi kolerik kepemimpinan Daud. Akhirnya, penulis melihat bahwa semua tragedi di tengah keluarga Daud seharusnya dapat diselesaikan dan tidak makin melebar apabila Daud meneladani mentalitas Ahimaas yang bertindak bukan untuk memuaskan pribadi tertentu, atau bukan untuk mendapatkan keuntungan, atau bahkan bukan untuk mendapatkan posisi penting atau penghargaan orang lain melainkan kerinduan yang besar untuk menyatakan kebenaran yang bila semuanya ini dilakukan dengan bijaksana, dia akan menjadi pemimpin yang tidak pernah menggadaikan kebenaran yang diyakininya. Bahkan, dia berpotensi menjadi pemimpin yang menjadi agen perubahan bagi orang-orang dan lingkungan sekitarnya.  Kata kunci :  Relasi orang tua dengan anak, Sisi melankolis dan   kolerik Daud, Kepemimpinan Daud, Kebijaksanaan
DESIRAN ANAK PNAH ILAHI DI ATARA GEMURUH AIR : ANALISA TEKS PROSA DAN PUISI HAKIM-HAKIM 4-5 GUMULYA DJUHARTO
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 6, No 2 (2018): SEPTEMBER 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v6i2.76

Abstract

Abstrak: Hakim-hakim 4 dan 5 berbicara tentang peristiwa yang sama, yaitu kemenangan bangsa Israel terhadap Yabin, raja Kanaan dan Sisera, panglimanya. Berbicara dari sudut pandang literatur, adalah penting untuk menggarisbawahi bahwa Hakim-hakim 5 disusun terlebih dahulu, dan segera setelah itu, Hakim-hakim 4 dalam bentuk tulisan. Pendekatan seperti itu dapat menolong sinkronisasi Hakim-hakim 4 dengan Hakim-hakim 5. Bahkan, itu akan menolong pengembangan pemahaman teks terkait peran dan keterlibatan bangsa Israel dalam peperangan melawan Sisera, Panglima Perang Kanaan. Hasil sinkronisasi teks tersebut akan meningkatkan pentingnya peran pemimpin untuk menyadarkan umat tentang dukungan ilahi, yang bukan hanya memperkuat mereka di saat lemah, tetapi juga memperlengkapi dan mempertajam “senjata-senjata” mereka untuk meraih kemenangan. Kunci utamanya terletak pada kerinduan diri untuk terlibat dan bekerjasama dalam agenda Allah dengan cara bekerja bersama dan bergandengan tangan untuk menyelesaikan tujuan dan rencana Allah dalam generasi kita.  Kata kunci: Teks Lisan, Teks Tertulis, Sinkronisasi, Keterlibatan Diri, Dukungan Ilahi, “Senjata-Senjata” yang Dipertajam, Agenda Allah