AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana slametan ruwatan mengalami pergeseran, dari yang semula Jawa menjadi ruwatan kombinasi Jawa dan Islam. Ruwatan merupakan salah satu slametan (selamatan) untuk memohon keselamatan yang menjadi tradisi masyarakat Jawa Kejawen. Slametan ini diperuntukkan bagi suatu keluarga yang jumlah dan urutan jenis kelamin anaknya termasuk ke dalam orang-orang sukerta, yaitu orang yang harus melakukan ruwatan untuk memohon keselamatan. Pada masa sekarang, ruwatan sudah banyak ditinggalkan orang. Hal ini terkait dengan semakin banyaknya masyarakat Jawa yang menjadikan syariat Islam sebagai pedoman hidup dan mulai meninggalkan ajaran-ajaran selain itu. Dalam setiap pelaksanaannya, ruwatan digelar dengan melibatkan para tetangga dan saudara terdekat. Permasalahan menjadi muncul ketika salah satu keluarga Jawa berniat mengadakan ruwatan di tengah-tengah masyarakat yang mulai meninggalkan dan tidak mempercayai tradisi tersebut. Untuk menjembatani hal ini, keluarga yang ingin menggelar ruwatan memadukan acaranya dengan kegiatan yang Islami. Hal yang sama juga dilakukan sang dalang dengan memadukan pertunjukan wayang Batara Kala dengan ajaran Islam, bahkan dengan membacakan salah satu ayat Al Quran. Sang Dalang juga memberikan makna yang berbeda pada tokoh Batara Kala yang dikaitkan dengan ajaran Islam tentang konsep waktu. Penelitian ini dilakukan di Desa Sumberejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi partisipasi dengan wawancara mendalam. AbstractThis paper aims to find out how slametan Ruwatan experienced a shift, from which Java originally became ruwatan combination of Java and Islam. Ruwatan is one of slametan (salvation) to ask for the salvation that became the Javanese tradition of Kejawen. This Slametan is destined for a family whose number and sex sequence of sons belongs to the sukers, that is, one who must perform ruwatan to ask for salvation. In the present time, Ruwatan has been abandoned by many people. This is related to the increasing number of Javanese people who make the Shari'a of Islam as a guide of life and begin to abandon the teachings other than that. In every implementation, Ruwatan performed by involving the neighbors and closest relatives. Problems arise when one of the Javanese families intends to hold ruwatan in the midst of a society that begins to leave and does not believe in the tradition. To bridge this, families who want to hold Ruwatan combine the show with Islamic activities. The same thing is done by the puppeteer by combining Batara Kala puppet show with the teachings of Islam, even by reading one verse of the Qur'an. The Dalang also gives a different meaning to the character of Batara Kala which is associated with Islamic teachings about the concept of time. This research was conducted in Sumberejo Village, Gedangan District, Malang Regency, East Java. The research method used in this research is participant observation with in-depth interview.