Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Korelasi Sikap Lengan Rangka Manusia Dengan Jenis Kelamin Pada Kubur Primer Membujur Dari Situs Kubur Masa Perundagian Fadhila Arifin Aziz
Berkala Arkeologi Vol 10 No 2 (1989)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1522.299 KB) | DOI: 10.30883/jba.v10i2.543

Abstract

Sisa-sisa kubur yang ditemukan di berbagai tempat kepulauan Indonesia, merupakan salah satu bukti kegiatan manusia masa lampau yang berhubungnn dengan aspek religi. Dalam praktek penguburannya terkandung unsur gagasan sub-sistem religi yang memiliki aspek supernatural, teknologi, dan kondisi sosial yang terwujud dalam perlakuan mayat. Data arkeologi berupa sisa kubur dari masa perundagian yang ditemukan selama ini, memberikan informasi mengenai hal di atas (Soejono 1975: 72-76). Keanekaragaman baik dalam variasi dan corak khusus kubur maupun daerah persebarannya, ditunjukkan oleh sisa-sisa kubur masa perundagian ini.
Landsekap Pertamanan: Kajian Atas Data Tekstual Fadhila Arifin Aziz
Berkala Arkeologi Vol 14 No 2 (1994): Edisi Khusus
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.936 KB) | DOI: 10.30883/jba.v14i2.637

Abstract

The use of textual data can be considered as evidence of cultural testimony in accordance with the events and circumstances of that time. Textual data in the form of inscriptions as a source of written history can also be considered as a reflection of social facts that come from ideas (cognition) and collective behavior of a group of people with a certain cultural background. In-depth exploration and study of the contents of the inscription will enrich both epigraphic knowledge itself and ancient Indonesian history.
Situs Gilimanuk (Bali) Sebagai Pilihan Lokasi Penguburan Pada Awal Masehi Fadhila Arifin Aziz
Berkala Arkeologi Vol 15 No 3 (1995): Edisi Khusus
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.734 KB) | DOI: 10.30883/jba.v15i3.669

Abstract

Observations on the context of burials, in general, are a human skeleton associated with burial goods in the form of net-stamped potteries. In addition, the collection of other burial items found in the context of the tomb are beads (glass, shells, rocks), pots, cups, bowls, incense, jars, tajak, machete, eye and mouth masks, earrings, bracelets (glass, terracotta, bronze, shells), pentagonal plates, and animal remains (chickens, dogs, and pigs). All of the above burial goods are found in both childhood, adult and male and female burials.
Karakteristik Dan Sebaran Situs Kubur Tempayan Di Asia Daratan Dan Kepulauan, Kawasan Asia Tenggara Fadhila Arifin Aziz
Berkala Arkeologi Vol 18 No 2 (1998)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1629.92 KB) | DOI: 10.30883/jba.v18i2.784

Abstract

Sebagian besar situs kubur tempayan di atas masing-masing memiliki karakteristik khusus, baik dalam cara penempatan rangka dalam tempayan, bahan yang digunakan, bentuk dan hiasan, tata letak dan penyebarannya dalam satuan lokasi, dan lain-lain. Pada beberapa situs kubur tempayan ditemukan bersama dengan kubur tanpa wadah, bahkan ada pula yang letaknya berdarnpingan dengan kubur-kubur dari masa berikutnya. Karya tulis ini merupakan suatu tinjauan terhadap kubur-kubur tempayan baik karakteristik maupun sebaran beberapa Situs Kubur Tempayan yang terdapat di Kawasan Asia Tenggara.
Strategi Penelitian Dan Pemanfaatan Data Kubur Bagi Studi Wilayah Di Bali Fadhila Arifin Aziz
Berkala Arkeologi Vol 20 No 1 (2000)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1160.592 KB) | DOI: 10.30883/jba.v20i1.808

Abstract

Bali, sampai kini dikenal dengan kekayaan nilai-nilai dan budaya yang bersifat unik. Proses pembentukan ·budaya di beberapa wilayah Bali memiliki perbedaan dan keragaman sejak masa plestosen sampai masa resen melalui proses terjadinya persentuhan komunitas-komunitas dari luar Bali. Dengan menerapkan kerangka pikir yang lebih sistematis, hasil penelitian arkeologi yang berorientasi wilayah dan kawasan Bali diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi kajian kebudayaan nusantara, khususnya Bali diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi kajian kebudayaan nusantara. Sumbangan di atas dapat berupa informasi gagasan ideologi maupun bentuk-bentuk fisik peninggalan masa lampau yang sampai kini masih tampak.
STRATEGI SUBSISTENSI KOMUNITAS PENGHUNI GUA LAWA DARI MASA HOLOSEN Fadhila Arifin Aziz
AMERTA Vol. 23 No. 1 (2004)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

.
POTENSI BEBERAPA SITUS PERMUKIMAN ARKEOLOGI DALAM PERENCANAAN PENGEMBANGAN WISATA DI KAWASAN BALI BARAT: SUATU SUMBANGAN PEMIKIRAN Fadhila Arifin Aziz
AMERTA Vol. 20 (2000)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

.
LIMBAH CANGKANG MOLUSKA DARI SITUS GUA BABI: KAJIAN MODEL SUBSISTENSI Fadhila Arifin Aziz
AMERTA Vol. 21 (2001)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

.
POTENSI SITUS ARKEOLOGI KAWASAN KERINCI, JAMBI: IKON BUDAYA AUSTRONESIA Fadhila Arifin Aziz
AMERTA Vol. 28 No. 1 (2010)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kawasan Kerinci merupakan salah satu lokasi yang memiliki keanekaragaman warisan budaya masa lampau. Secara administrative, kawasan ini berada di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Wilayah ini pada masa sekarang masih tergolong daerah terpencil akibat sarana transportasi dan komunikasi yang terbatas. Kondisi geografis yang bergunung dan berbukit dengan danau dan anak-anak sungai merupakan faktor penyebab utama sektor pertanian (berladang, berkebun) menjadi andalan pendapatan daerah. Informasi tentang sumberdaya arkeologi di Jambi dapat dikatakan sangat sedikit dijumpai, baik dalam buku pelajaran sekolah, leaflet informasi budaya dan pariwisata, maupun yang dikeluarkan pemerintah daerah atau lembaga terkait di pusat. Namun cukup membuktikan bahwa daerah Jambi memiliki potensi sumberdaya budaya materi sejak masa prasejarah (mesolitik) sampai masa kolonial. Salah satu wilayah Jambi, yaitu di kawasan sekitar Danau Kerinci, sampai kini masih dijumpai bukti sumberdaya budaya materi yang memiliki karakter dari masa prasejarah. Oleh karena itu penelitian untuk mengungkapkan sejarah asal budaya di Jambi dalam hubungannya dengan penutur dan budaya Austronesia menjadi penting untuk dikaji dengan perspektif arkeologi. Kata Kunci: Potensi situs, Kawasan, Budaya Austronesia ABSTRACT. Archaeological Sites Potential on Kerinci Region, Jambi: Icon of Austronesia Culture Kerinci region is a location that has a diversity of cultural heritages of the past. Administratively, this area is located in Kerinci Regency, Jambi Province (formerly part of west Sumatra). This area today is still relatively remote due to limited transportation and communication facilities. Geographical conditions and steep mountainous with lakes and tributaries are the main factors driving the agricultural sector (farming, gardening) as the main regional income. Informations about archaeological resources from the early history of the cultural heritage in Jambi can are very rarely found in school books, leaflet of culture and tourism information, eventhough local government or related institutional in the central. But there was supporting evidence that the area of Jambi has the potency of cultural heritage since prehistoric (Mesolithic) to the Colonial periods. In one area of Jambi, which is around Kerinci region, until now can still be found evidences of material culture with prehistoric characters. There are remains of archaeological sites in the Lakes Kerici region from prehistoric times (Mesolithic until Palaeometalic) to indicate the beginning of civilization in communities that already have the technology (equipment), social organization, beliefs and so on. Therefore, research to express the historical values of cultural origin of Jambi in connection with the Austronesian speaking and culture is important to examine using Archaeological perspectives. Key words: Sites Potential, Region, Culture of Austronesia
THE JAR BURIAL SITE OF LOLO GEDANG, SOUTHWEST OF KERINCI LAKE, JAMBI Fadhila Arifin Aziz
AMERTA Vol. 29 No. 1 (2011)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Situs Tempayan Kubur dari Lolo Gedang, di Barat Daya Danau Kerinci, Jambi. Kawasan Danau Kerinci merupakan salah satu lokasi yang memiliki keanekaragaman warisan budaya masa lampau. Secara administratif, kawasan ini berada di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Wilayah ini pada masa sekarang masih tergolong daerah terpencil akibat sarana transportasi dan komunikasi yang terbatas. Kondisi geografis yang bergunung dan berbukit dengan danau dan anak-anak sungai merupa-kan faktor penyebab utama sektor pertanian sebagai andalan pendapatan daerah. Daerah pegunungan Sumatera merupakan salah satu wilayah kepulauan Asia Tenggara yang kurang menjadi perhatian dalam arkeologi. Salah satu wilayah Jambi, yaitu sekitar Danau Kerinci sampai kini masih dijumpai bukti benda budaya materi berupa artefak memiliki karakter budaya masa prasejarah. Tinggalan arkeologi yang ada di situs-situs kawasan Danau Kerinci dari masa prasejarah (mesolitik sampai perundagian) mengindikasikan peradaban awal dengan komunitas yang telah memiliki tingkat teknologi (peralatan), organisasi sosial, kepercayaan dan sebagainya. Progam penelitian berupa survei dan ekskavasi dalam kesatuan zona geografi dan lingkungan telah dilakukan sejak van der Hoop (1932) yang mengawali studinya terhadap megalitik di dataran tinggi Pasemah pada sekitar tahun 1930-an. Penemuan van der Hoop memicu penelitian serupa baik di Pasemah dan Kerinci 2009). Fokus karya tulis ini memberikan penekanan pada salah satu situs kawasan Kerinci, yaitu Situs tempayan kubur di Lolo Gedang. Hasil ekskavasi menemukan beberapa tempayan kubur di Situs Lolo Gedang (sektor II) yang sangat menonjol dengan slip berwarna merah pada permukaan bagian luar dan dalam dengan berbagai ukuran dan bentuk khas lokal. Tempayan kubur ini mengandung kubur sekunder dengan bekal kubur (beliung, serpih, periuk kecil, manik-manik, perhiasan perunggu) ditemukan di dalam dan luar konteks kubur. Kata kunci: Kubur Tempayan, Situs Lolo Gedang, Danau Jambi Abstract. The area of Kerinci Lake is one of the locations that have varied archaeological heritages. Administratively, this area is located in the Regency of Kerinci, the Province of Jambi. Until now it remains a remote area due to limited access of transportation and communication. Its mountainous and hilly geographic condition with lakes and river tributaries is the main factor of local income. which is from agricultural sector (in fields/plantations). The hilly areas of Sumatra are among the places in Southeast Asian Archipelago that have not been sufficiently investigated in terms of archaeology. Up to the present, in an area in Jambi Province, which is the one around the Kerinci Lake, can still be found material culture in forms of artifacts with prehistoric characteristics. The prehistoric (from mesolithic up to paleometalic periods) remains found at the sites around Kerinci Lake indicate that there was an early civilization supported by communities with quite advanced technology (tools), social organization, and belief. Research program in forms of surveys and excavations in geographical and environmental units have been carried out since van der Hoop (1932) began his study on megalithic in the highlands of Pasemah in 1930's. Van der Hoop's discovery led to similar researches in Pasemah and Kerinci. This paper is focused on one of the sites in Kerinci, which is the Jar burial of Lolo Gedang (Aziz et al. 2009-2010). Results of excavation yield a number of burial jars in various sizes at the site (Sector II), which are dominantly treated with red slip on both their outside and inner surface; they have several local shapes that are unique to this site. The jars are secondary burials with funeral gifts of adzes, flakes, small pots, beads, and bronze ornaments within and outside the burial context. Keywords: Jar Burial, Lolo Gedang Site, Kerinci Lake, Jambi