Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Industri Paleolitik Pada Endapan Alluvial Kali Maron (Pacitan, Jawa Timur) Berdasarkan Analisis Retus Dubel Driwantoro; Francois Semah; Andri Purnomo
Berkala Arkeologi Vol 21 No 2 (2001)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1594.726 KB) | DOI: 10.30883/jba.v21i2.838

Abstract

Kali Maron merupakan situs arkeologi yang temuannya sudah tidak insitu, karena analisis sedimentologi telah membuktikan bahwa artefak litiknya merupakan basil endapan sungai. Keletakan kali Maron yang sangat dekat dengan laut (hilir), tidak memungkinkan terdapat geomorfologi teras yang jelas : artefak litik ditemukan pada dasar sungai. Akan tetapi, banyaknya kandungan artefak pada endapannya (7, 7 % dari total batuan) menjadikan kali Maron sebagai situs yang sangat kaya. Keberadaan artefaknya yang belum pernah terusik, membuat peninjauan terhadap industri Maron cukup representatif dari segi statistik. Keberadaan alluvial dari artefak yang telah dijelaskan sebelumnya (transportasi jauh maupun dekat sebelum pengendapan) mengakibatkan juga proporsi-proporsi menjadi berarti, di mana situs kali Maron mencerminkan secara menyeluruh kegiatan eksploitasi artefak litik di daerah sekitarnya.
INDUSTRI PALEOLITIK PADA ENDAPAN ALLUVIAL KALI MARON, PACITAN, JAWA TIMUR BERDASARKAN ANALISIS RETUS Dubel Driwantoro; Francois Semah; Andri Purnomo
AMERTA Vol. 21 (2001)
Publisher : Badan Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

.
INDUSTRI PALEOLITIK PADA ENDAPAN ALLUVIAL KALI MARON (PACITAN, JAWA TIMUR) BERDASARKAN ANALISIS RETUS Dubel Driwantoro; Francois Semah; Andri Purnomo
Berkala Arkeologi Vol. 21 No. 2 (2001)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30883/jba.v21i2.838

Abstract

Kali Maron is an archaeological site whose artifatcs are no longer insitu, because sedimentological analysis has proven that its lithic artifacts are the result of river sediment. The location of the Maron River which is very close to the sea (downstream), does not allow a clear geomorphology of the terraces: lithic artifacts are found on the river bed. However, the large amount of artifact content in the sediment (7, 7% of the total composition) makes the Maron river a very rich site. The existence of these artifacts that have never been disturbed makes the Maron industry quite representative from a statistical point of view. The alluvial matrix of the artefacts previously described (disctance of transportation before deposition) also means significant proportions, where the Maron river site fully reflects the exploitation of lithic artifacts in the surrounding area.
THE SANGIRAN FOSSIL SHELL ASSEMBLAGES CATALOGUE Marie Grace Pamela Garong Faylona; Pierre Lozouet; Anne-Marie Sémah; François Sémah; Metta Adityas
AMERTA Vol. 38 No. 2 (2020)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Katalog Himpunan Fosil Kerang Sangiran. Makalah ini merupakan pemutakhiran himpunan fosil cangkang Sangiran di Jawa Tengah. Tujuannya untuk mendokumentasikan dan menyajikan gastropoda dan kerang dari seri Kalibeng atas dan Pucangan Bawah Kubah Sangiran dari periode Plio-Pleistosen. Tercatat 61 taksa moluska hingga tingkat genus. Informasi yang dikumpulkan dari kumpulan moluska ditentukan oleh sejarah geologi dan lingkungan Sangiran. Mereka diasosiasikan dengan fasies yang berbeda: a) napal masif dan lempung biru, b) lapisan batugamping lempung, c) lempung kelabu berlumpur, d) breksi vulkanik dan lahar dan e) lempung hitam, dan terdiri dari sedimen yang merepresentasikan lingkungan laut hingga rawa yang mengarah ke perkembangan kontinental. Pola kuantitatif yang dicatat dalam kumpulan moluska menjelaskan palaeo-lingkungan dan hubungan antara kumpulan palaeodataset yang mapan dari analisis dan tingkat variabilitas dalam data paleontologi. Selain itu, cangkang yang teridentifikasi dapat digunakan sebagai referensi untuk perwakilan taksonomi Sangiran dan moluska di lapisan Kalibeng dan Pucangan Cekungan Solo di Jawa Tengah. Abstract. This paper is an update of fossil shell assemblages of Sangiran in Central Java. It is aimed to document and present the gastropods and bivalves from the Upper Kalibeng and Lower Pucangan series of the Sangiran dome from the Plio-Pleistocene period. There are 61 mollusc taxa recorded up to the genus level. Information gathered from mollusc assemblages are determined by the geological and environmental history of the Sangiran. They are associated with different facies: a) massive marls and blue clays, b) layered clayey limestone, c) silty gray clay, d) volcanic breccia and lahars and e) black clays, and composed of sediments representing marine to swampy environments leading to continental development. The quantitative patterns recorded in mollusc assemblages elucidate the palaeoenvironment and the relationship between the established palaeodatasets of analysis and the levels of variability in palaeontological data. Moreover, the identified shells may be utilized as a reference for Sangiran and molluscan taxonomic representative in Kalibeng and Pucangan layers of Solo Basin in Central Java.