Ira Dillenia
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DAMPAK PENGANGKATAN ARTEFAK BAWAH LAUT TERHADAP KERUSAKAN TERUMBU KARANG BERDASARKAN INDIKATOR TUTUPAN SUBSTRAT DAN PARAMETER LINGKUNGAN Ofri Johan; Ira Dillenia; Rainer Arif Troa
Jurnal Kelautan Nasional Vol 12, No 3 (2017): DESEMBER
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (903.868 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v12i2.6247

Abstract

Artefak bawah laut yang merupakan bagian dari situs arkeologi maritimyang memiliki nilai sejarah yang tinggi dan sering ditemukan pada kawasan ekosistem terumbu karang. Keberadaannya mungkin dapat memberikan dampak positif dibidang pariwisata, namun bagaimana dampaknya terhadap lingkungan belum dikaji jika dilakukan pengangkatan apabila artefaknya memiliki nilai lebih tinggi yang perlu diselamatkan. Penelitian ini telah dilakukan pada Situs Kelarik Dalam, Perairan Karang Semapi, Natuna pada tiga waktu berbeda yaitu tanggal 11 – 22 April 2016, 6 – 11 Mei 2017 dan  7-11 September 2017. Penelitian bertujuan untuk melihat dampak pengangkatan artefak terhadap kondisi terumbu karang disekitarnya sebagai dasar informasi untuk mengantisipasi rencana pengangkatan artefak secara resmi nanti oleh pemerintah. Penelitian menggunakan metode transek foto bawah air dengan ukuran 58x44 cm. Garis transek dibentangkan dari titik nol di lokasi pusat artefak ditemukan dengan membentangkan 4 rol meteran sepanjang 30 m ke semua arah mata angin yaitu utara, selatan, timur dan barat. Pengambilan foto dilakukan setiap 1 meter kemudian dianalisa dengna program CPCe dengan menetapkan 30 titik sampel setiap fotonya. Masing-masing transek dibagi 3 zona sesuai jarak dari pusat artefak yaitu 0-10 m (Zona 1), 10-20 m (Zona 2) dan 20-30 m (Zona 3), berturut-turut mewakili lokasi terdekat, sedang dan terjauh. Data yang dikumpulkan adalah tutupan karang hidup dan tutupan substrat kategori lain danjenis karang. Hasil penelitian diperoleh terdapat perbedaan tutupan karang hidup antara lokasi yang dekat 0-10m  (6,9%), sedang 10-20m (20,3%) dan terjauh 20-30m (18,5%). Lokasi terdekat terdampak oleh aktifitas pengangkatan artefak akibat sering terpapar sedimen dan kekeruhan perairan dengan lebih jelas lagi ditandai oleh tingginya rubble (26,4%) dan rock (50,4%). Jarak sedang dan terjauh memiliki tutupan karang yang lebih tinggi dibandingkan lokasi terdekat. Perlu pertimbangan yang bijak untuk pengangkatan artefak yang ada di kawasan ekosistem terumbu karang dengan memperhatikan dampak kematian terhadap biota yang ada di sekitarnya termasuk terumbu karang.
GEODINAMIKA KAWASAN TIMUR INDONESIA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP POTENSI SUMBER DAYA DASAR LAUT Rainer Arief Troa; Eko Triarso; Ira Dillenia
Jurnal Kelautan Nasional Vol 11, No 1 (2016): APRIL
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (864.088 KB) | DOI: 10.15578/jkn.v11i1.6062

Abstract

Kawasan Timur Indonesia menyimpan potensi sumber daya dasar laut yang tinggi. Interaksi tiga lempeng besar dunia: Lempeng Pasifik, Hindia-Australia, dan Eurasia menjadikan kondisi geodinamikanya aktif dan kompleks. Tujuan penulisan untuk mengungkap potensi sumber daya dasar laut sebagai implikasi kondisi geodinamika. Metode penelitian menggunakan analisis tektonika berdasarkan tinjauan regional evolusi tektonik yang ditunjang metode tomografi seismik dengan hipotesis bahwa potensi sumber daya dasar laut sebagai implikasi kondisi geodinamikanya berkaitan erat dengan keberadaan gunungapi bawah laut dan aktivitas hidrotermal. Hasil penelitian menunjukkan potensi tersebut berada pada zona aliran fluida magma di bawah kerak bumi, diindikasikan anomali kecepatan rendah gelombang-S pada tomogram seismik. Hasil pengamatan ROV di Perairan Sangihe-Talaud mengindikasikan adanya peluruhan sebagian magma menerobos kerak bumi, muncul ke permukaan dasar laut membentuk cerobong hidrotermal gunungapi bawah laut Kawio Barat pada kedalaman 1890 meter. Di perairan dangkal Halmahera, manifestasi aktivitas hidrotermal berupa semburan air panas dari dasar laut. Di dataran pasang surut, temperatur mata air panas mencapai 80-100oC, sedangkan dari tipe alterasi batuannya diindikasikan temperatur bawah permukaan >200oC. Disimpulkan bahwa potensi sumber daya dasar laut terkait aktivitas hidrotermal dan gunungapi bawah laut di perairan Sangihe-Talaud adalah berasosiasi dengan mineralisasi logam pada cerobong hidrotermal. Di Halmahera, potensinya berupa uap panas hidrotermal yang dapat dimanfaatkan untuk energi terbarukan berbasis panas bumi. Implikasi kebencanaan juga melekat akibat kondisi geodinamika sehingga penelitian mitigasi bencana dan model adaptasinya disarankan dilakukan juga pada Kawasan Timur Indonesia.