Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Skenario Tsunami Menggunakan Data Parameter Gempabumi Berdasarkan Kondisi Batimetri (Studi Kasus : Gempabumi Maluku 28 Januari 2004 ) Robby Wallansha; Wiko Setyonegoro
Jurnal Segara Vol 11, No 2 (2015): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1228.947 KB) | DOI: 10.15578/segara.v11i2.9094

Abstract

Maluku merupakan salah satu daerah di timur Indonesia yang memiliki potensi tsunami yang cukup tinggi, ini dibuktikan dengan lebih dari 25 kejadian tsunami yang terekam di daerah Maluku dari tahun 1629 – 2006 (katalog database tsunami online Gusiakov (2005), Puspito (2007) dan Katalog Gempa Merusak dan Tsunami BMKG), tsunami yang terbesar terjadi pada tanggal 17 Pebruari 1674 yang menewaskan lebih dari 2900 orang dengan run-up hingga mencapai 80 meter dan menghancurkan kota Ambon dan juga pada tanggal 12 Oktober 1899 yang menenggelamkan kota Amahai di Pulau Seram dengan korban tewas mencapai 4000 orang. Oleh karena itu perlu dilakukan pembuatan skenario tsunami untuk mendapatkan kemungkinan tinggi run-up yang bersumber di daerah perairan Maluku dengan menggunakan software Tsunami L-2008. Berdasarkan Katalog Gempabumi Signifikan dan Merusak 1821 – 2009 yang dikeluarkan BMKG, bahwa pada tanggal 28 Januari 2004 telah terjadi gempabumi di Maluku mengakibatkan tsunami yang terobservasi di Namlea, dengan epicenter 3,110 LS – 127,300 BT dengan kekuatan Mw = 6,6 SR. Dalam pembuatan skenario tsunami dalam penelitian ini dengan merubah nilai magnituda gempabumi (Mw=7,0 SR, Mw=7,5 SR. Mw=8,0 SR) berdasarkan referensi setelah itu menggunakan hubungan rumusan empiris dari Hanks and Kanamori untuk mendapatkan nilai slip (m) sekaligus membuat beberapa kombinasi skenario tsunamidengan mempertahankan nilai momen seismik dan merubah nilai luas fault dan slip (m), untuk momen seismik didapatkan berdasarkan rumusan empiris dari Wells and Coppersmith (1994) sedangkan untuk luas fault berdasarkan rumusan empiris dari  Papazachos et al (2004) dengan mengasumsikan bahwa luas fault berbentuk persegi panjang. Dari sebelas skenario tsunami yang dibuat dari setiap magnituda gempabumi diperoleh tinggi run-up tertinggi untuk Mw=7,0 SR yaitu dengan tinggi 0,59 m di daerah Huamual sedangkan terendah di daerah Latuhalat dengan tinggi run-up 0,09 m, untuk Mw = 7,5 SR diperoleh tinggi run-up tertinggi mencapai 2,73 m di Huamual dan terendah 0,36 di Latuhalat, dan untuk Mw = 8,0 SR didapatkan tinggi run-up tertinggi hingga 8,19 m di Huamual dan terendah di Latuhalat dengan tinggi run-up 0,94 m.
Model Propagasi tsunami Akibat Longsoran Gunung Anak Krakatau Besera Dampaknya Bagi Penduduk di Area Selat Sunda Wiko Setyonegoro
Prosiding Vol 7 No 1 (2025): SNISTEK
Publisher : LPPM Universitas Putera Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33884/psnistek.v7i1.10737

Abstract

Since 1883, the eruption of Mount Krakatoa in the Sunda Strait has generated destructive tsunamis. The most recent silent tsunami occurred on December 22, 2018, in Pandeglang Regency, Banten Province, killing 437 people. The source of this tsunami occurred suddenly and without any warning signs by the public. We suspect that the tsunami at Mount Anak Krakatau was a longsoran tebing Gunung Anak Krakataue phenomenon, where the side of the volcano collapsed directly into the surrounding seawater, triggering the propagation of tsunami waves. These waves propagated transversely following the ocean-bottom bathymetry structure around the tsunami source to the tsunami-affected area. This study used topographic and bathymetry data from FABDEM and BATNAS, respectively. The resulting landslide generated a tsunami with a height of 0.36–2.76 meters at 13 observation points, and was recorded as reaching a height of up to 27 meters on Rakata Island, located very close to Mount Anak Krakatau.