Renny Tade Bengu
Sekolah Tinggi Teologi Injili Efrata Sidoarjo

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

STRATEGI MENGEMBANGKAN PELAYANAN MISI DENGAN PENDEKATAN CONNECTING SEBAGAI ROLE MODEL PELAYANAN PENGINJILAN BAGI REMAJA DI ERA DIGITAL Renny Tade Bengu
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol. 7 No. 2 (2023): Vol. 7 No. 2 Desember (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v7i2.147

Abstract

Bagaimana sikap gereja dan orang tua dalam pelayanan kepada generasi milenial di dunia yang serba digital serta teknologi di era digital ini. Kekhawatiran terbesar bagi gereja apabila tidak ada lagi remaja yang memiliki kerinduan dalam pelayanan sehingga masa depan gereja mengalami stagnasi. Maka dibutuhkan strategi penginjilan bagi remaja di era digital untuk mendorong generasi Kristen memiliki semangat pelayanan bagi gereja di era digitalisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif, di mana pengumpulan data dilakukan melalui triangulasi dengan menggabungkan berbagai teknik pengumpulan data. Data yang terkumpul dianalisis secara holistik dengan tujuan memperoleh informasi yang lebih lengkap, mengeksplorasi hubungan dari berbagai sumber, melakukan perbandingan, dan menemukan temuan berdasarkan data aktual yang diperoleh. Hasil analisis data tersebut disajikan melalui uraian naratif yang menggambarkan situasi yang sedang diteliti. Berdasarkan hasil penelitian, teridentifikasi empat hal penting dalam pendekatan Connecting sebagai strategi pengembangan pelayanan misi bagi remaja di era digital. Pertama, melibatkan komunitas dan kebudayaan; Kedua, meneguhkan remaja dalam fondasi Kristus; Ketiga, perlengkapan remaja untuk melayani; Keempat, memberdayakan remaja untuk memuridkan
KARAKTERISTIK KEPRIBADIAN GURU PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MENURUT 2 TIMOTIUS 2:1-13 Renny Tade Bengu
Sesawi Vol 3, No 2 (2022): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sabda Agung, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53687/sjtpk.v3i2.73

Abstract

Kepribadian guru merupakan fakor terpenting bagi keberhasilan belajar siswa-siswi. ataukah akan menjadi perusak atau penghancur bagi masa depan siswa-siswi terutama bagi siswa-siswi yang masih kecil (tingkat dasar) dan mereka yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (tingkat menengah. Penelitian ini menggunakan kajian literatur teks Alkitab dalam 2 Timotius 2:1-13 yang memuat tentang prinsip memuridkan dari Paulus kepada Timotius. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif, dengan menerapkan metode deskriptif analisis pada teks 2 Timotius 2:1-13, sehingga didapati beberapa karakteristik tentang kepribadian guru Pendidikan agama Kristen. Hasil yang ditemukan adalah kepribadian guru Pendidikan agama Kristen  adalah merupakan kepribadian  guru yang rela berkorban, taat, dan tekun.
STUDI EKSPLANATORI DAN KONFIRMATORI TENTANG MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING BERDASARKAN KEJADIAN 26:1-35 DI KALANGAN MURID SOM GEREJA BETHANY SE-KOTA SURABAYA Renny Tade Bengu
Sesawi Vol 3, No 1 (2021): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sabda Agung, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53687/sjtpk.v3i1.62

Abstract

Model pembelajaran problem solving adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas agar peserta didik memiliki pola umum perilaku pembelajaran, peserta didik terbiasa berpikir kritis, memiliki pola pikir divergen, terlatih merefleksikan persepsinya dan dapat  mencapai kompetensi atau tujuan pembelajaran yang diharapkan.Metode penelitian  yang digunakan dalam karya ilmiah ini adalah penelitian kuantitatif  yang bersifat eksplanatori-konfirmatori, dimana dalam penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis yang menyatakan hubungan dimensi. Pengumpulan data menggunakan angket likert. Dan pada perhitungan angket menggunakan program SPSS 19. Dari hasil perhitungan statistik diperoleh nilai range sebesar 108,  karena peneliti menetapkan klas interval sebanyak tiga, maka jumlah range dibagi tiga(106:3=) yaitu 36 dan dimulai nilai minimum sampai dengan batas nilai maksimum.Untuk mengetahui kecenderungan implementasi model pembelajaran problem solving berdasarkan Kejadian 26:1-35.  Hasil yang ditemukan adalah model pembelajaran problem solving adalah suatu pendekatan model pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara aktif dengan menyajikan berbagai masalah yang merangsang berpikir dan menggunakan wawasan untuk mencari jalan keluar dari suatu kesulitan, dengan prinsip-prinsip dalam Kejadian 26:1-35.
MENGKAJI YOHANES 4:1-42 SEBAGAI LANDASAN KONSELOR KRISTEN DALAM BIMBINGAN KONSELING REMAJA Renny Tade Bengu
Sesawi Vol 4, No 1 (2022): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sabda Agung, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53687/sjtpk.v4i1.96

Abstract

Penanganan konseling terhadap remaja tidak jauh berbeda dengan penanganan terhadap orang dewasa. Konselor memerlakukan seorang remaja ini seperti ia memerlakukan konsele dewasa. Hanya saja bagi konsele remaja masih memerlukan pengarahan sehubungan dengan ketidaktahuannya terhadap hal tersebut. Sebagai guru PAK yang menangani permasalahan peserta didik tidak terlepas dari bimbingan konseling. Penelitian ini menggunakan penelitian kajian literatur teks Alkitab dalam Yohanes 4:1-42 yang mengandung tentang prinsip bimbingan konseling dari Tuhan Yesus  kepada perempuan Samaria. Dengan menerapkan metode deskriptif analisis pada teks Yohanes 4: 1-42 dalam  pendekatan kualitatif. Sehingga  ditemukan  beberapa landasan strategis bagi guru PAK dalam bimbingan konseling. Dalam Injil Yohanes 4 : 1-42 terdapat empat metode landasan strategis bagi guru Pendidikan Agama Kristen  dalam bimbingan konseling remaja adalah Pertama, membangun hubungan; Kedua, mengangkat kebutuhan utama dari konsele; Ketiga, Memberikan kesempatan untuk menyadari kesalahan dan dosa-dosanya; Keempat, Pertobatan dan Pemulihan.
ANALISIS 1 TIMOTIUS 4:12 SEBAGAI LANDASAN TEOLOGIS UNTUK MEMBENTUK KARAKTER GURU PAK DALAM MENGHADAPI ERA SOCIETY 5.0 Renny Tade Bengu
Sesawi Vol 4, No 2 (2023): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sabda Agung, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53687/sjtpk.v4i2.135

Abstract

Guru Pendidikan Agama Kristen yang bisa diteladani memiliki kontribusi yang sangat besar dalam mendidik karakter siswa di era society 5.0 yang penuh tantangan dan menuntut manusia Indonesia yang berkarakter  dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM)  yang tangguh, berwawasan keunggulan dan terampil yang sangat penting dibutuhkan untuk menghadapi  tantangan global yang tidak ringan dan terus berubah. Penelitian ini menggunakan kajian literatur teks Alkitab dalam 1 Timotius 4:12 yang memuat tentang prinsip memuridkan dari Paulus kepada Timotius. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan menerapkan metode deskriptif analisis gramatikal pada teks 1 Timotius 4:12, sehingga didapati beberapa karakter bagi guru pendidikan agama Kristen dalam menghadapi era society 5.0.  Hasil yang ditemukan adalah karakter Guru Pendidikan Agama Kristen merupakan (1) Karakter dalam perkataan, (2) Karakter dalam tingkah laku, (3) Karakter dalam kasih, (4) Karakter dalam kesetiaan, dan (5) Karakter dalam kesucian.