Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Keberanian Moral : Cambuk Kebangkitan Muslim Era Kontemporer Azmati Asyfa
Islamic Review: Jurnal Riset dan Kajian Keislaman Vol 1 No 2 (2012): Islamic Review : Jurnal Riset dan Kajian Keislaman
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) IPMAFA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6.722 KB) | DOI: 10.35878/islamicreview.v1i2.24

Abstract

Book review Judul : Allah, Liberty And Love ( Suatu Keberanian Mendamaikan Iman dan Kebebasan ) Penulis : Irshad Manji Penerbit : Renebook, Jakarta Selatan Cetakan : I, Mei 2012 Tebal : XXViii + 352 halaman Islam mengandung arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada Allah swt. dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hal itu dilakukan atas kesadaran dan kemauan diri sendiri, bukan paksaan atau berpura-pura. Dan Islam merupakan agama yang diturunkan Allah untuk membimbing seluruh umat manusia ke jalan yang benar dan sesuai fitrah kemanusiaan. Islam diturunkan bukan kepada Nabi Muhammad saja, tapi diturunkan pula kepada seluruh nabi dan rasul, untuk dapat diajarkan dan disebarkan kepada seluruh umat manusia agar beriman hanya kepada Allah SWT. Karena Allah SWT adalah Tuhan kebebasan dan cinta yang berlaku universal. Oleh karena itu Tuhan memberi manusia pilihan-pilihan dan kebebasan untuk menentukannya, dan mencintai sesama makhluk Tuhan berarti meyakini akan kemampuan untuk menentukan pilihan sendiri. Jika ini dipahami oleh kaum muslim maka tidak akan lagi muncul praktek Islamo-tribalis dalam tubuh Islam (hlm. vii). Irshad memaparkan Ada perbedaan antara iman dan dogma. Iman tidak melarang eksplorasi, dogma yang melarang. Secara intrinsik, dogma terancam oleh pertanyaan­pertanyaan, sementara iman menerima pertanyaan­pertanyaan karena iman meyakini bahwa Tuhan yang Maha Pengasih, bisa menghadapi semua itu. Itulah Tuhan yang rahmat­Nya bisa dirasakan oleh individu­individu yang penuh rasa ingin tahu di manapun juga. Dogma yang berasal dari budaya, bahkan ketika berposisi sebagai agama yang sakral, tidak pantas memiliki hak. Budaya bukanlah makhluk suci dengan kehendak bebas dan nurani; individulah yang demikian. Budaya tidak bicara untuk dirinya sendiri; manusialah yang bicara untuknya. Memberikan hak pada sesuatu yang bisa langgeng hanya melalui penilaian, persepsi, dan tindakan manusia sungguh berbahaya sekali karena memperkuat kekuasaan yang sudah kuat