Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

4. Conditions for Access of the Poor to Microfinance Services: the Views of the Rural Financial Institution Officers in Lombok, Indonesia Ketut Budastra
JURNAL AGRIMANSION Vol 8 No 2 (2007): JURNAL AGROMINSION Agustus 2007
Publisher : Department of Agricultural Social Economics Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agrimansion.v8i2.168

Abstract

Abstract This paper discusses main issues useful for the provision of financial services to the poor. The discussion is based on the view of 23 officers of major Rural Financial Institutions (RFIs) in Lombok, Indonesia. Data collected through in-depth interviews using an open-ended questionnaire in 2007. It was found that providing rural-micro financial services can be financially feasible, cost-effective if three fundamental issues are dealt properly: These issues are: the poor had insufficient physical collateral; the poor had very limited knowledge and experience in banking; and the poor generally do not have permanent businesses. Suggested strategies are, as follows. Rural financial institutions (RFIs) should lend loans to those who have good characters and businesses; and implement adaptive and convenient service policy and mechanism. Contract enforcement is in=effective for group lending. Frequent visits, supervision and monitoring, good applicant screening and field officer incentives were among the instruments considered able to increase loan repayment of the poor. Fair regulatory and market environment is necessary for RFIs to sustain their services. Abstrak Paper ini mendiskusikan beberapa isu-isu penting untuk penyediaan jasa keuangan untuk si miskin secara berkelanjutan. Diskusi didasarkan pada pendapat 23 pengurus Lembaga Keuangan Pedesaan di Lombok, yang dikumpulkan dengan tehnik interview mendalam pada tahun 2007. Respondent dipilih berdasarkan kesediaan mereka untuk diwawancarai. Ditemukan bahwa penyediaan jasa keuangan mikro dapat secara financial layak dan menguntungkan jika tiga isu-isu dasar dapat disiasati dengan baik. Ketiga isu-isu dasar tersebut adalah: si misin tidak punya jaminan yang memadai; si miskin memiliki pengetahuan dan pengalaman urusan bank yang terbatas; dan kebanyakan si miskin tidak memiliki usaha yang permanen. Strategi penanganan isu-isu tersebut adalah sebagai berikut. Lembaga keuangan pedesaan hendaknya memberikan pinjaman pada yang memiliki karakter dan usaha yang layak. Lembaga keuangan pedesaan hendanya menerapkan kebijakan dan meanisme pelayanan yang sederhana, mudah dan sesuai dengan karakter si miskin. Pinjaman secara kelompok adalah tidak effektip dalam penegakan perjanjian kredit. Kunjungan sering, pengawasan dan monitoring, seleksi nasabah yang baik, dan insentip tenaga lapangan merupakan instrumen untuk meningkatkan pengembalian kredit. Regulasi and lingungan pasar yang adil diperlukan oleh lembaga keuangan pedesaan untuk dapat memberikan pelayanan secara berkelanjutan.
3. Penyediaan Jasa Keuangan Mikro Secara Berkelanjutan di Indonesia: Tinjauan Teoritis dan Empiris Ketut Budastra
JURNAL AGRIMANSION Vol 8 No 3 (2007): JURNAL AGROMINSION DESEMBER 2007
Publisher : Department of Agricultural Social Economics Faculty of Agriculture University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/agrimansion.v8i3.177

Abstract

Abstract Microfinance development has become a fundamental element of policies addressing poverty alleviation and income distribution issues in Indonesia. However, how to develop the microfinance sector remains a controversial issue in both theory and practice. In this regard, this article attempts to draw some lessons (from the controversy) useful for microfinance development in Indonesia. Theoretical perspectives indicate that the level of microfinance development is determined by a number of factors, including: the characteristics of the microfinance institutions, microfinance policies, and demographic-economic-socio-cultural and infrastructure environments. Practical perspectives suggest that developing the service outreach and service efficiency of existing microfinance institutions is a wiser strategy than developing new ones, particularly, in dense areas such as Java, Bali and Lombok. Elimination of distorting factors gives the opportunities for developing a sustainable and wide service outreach micro-credit system in Indonesia. A closer look to development of major microfinance institutions in Nusa Tenggara Barat Province suggests as follows. BRI Unit need to develop new services to deepen its service outreach, reaching lower class of population in the income distribution ladder. Bank Perkreditan Rakyat need to improve their operational scale, management, service methodology and competitive standing in the market. Efforts to further develop LKP need to focus on the less performing ones Abstrak Pembangunan kredit mikro telah menjadi komponen mendasar dalam kebijakan pembangunan ekonomi yang beradilan sosial dan pengentasan kemiskinan di Indonesia. Namun bagaimana membangun LKM masih merupakan isu kontroversial dalam teori maupun praktis. Paper ini berupaya untu menjawab pertanyaan penting tersebut dengan menarik pemebelajaran dari teori and pengalaman pratis. Perspektip teoritis terkini menyarankan bahwa tingkat perkembangan LKM dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Pengalaman praktis Indonesia menunjukan bahwa pemberlakuan tingkat bunga pasar dan penyederhanaan persyaratan dan prosedur pembukaan LKM baru telah menghasilkan jumlah LKM yang relatip banyak. Keadaan ini menyarankan bahwa mengembangkan luas cakupan pelayanan dan effisiensi ribuan LKM yang telah ada—dengan menghilangkan rintangan-rintangan yang ada-- adalah pilihan strategi yang lebih bijaksana daripada mencoba atau membangun lembaga baru di daerah-daerah dengan kepadatan LKM tinggi. Tinjuan lebih dekat terhadap tiga jenis LKM utama yang beroperasi di NTB (BRI unit, BPR swasta dan LKP) menyarankan sebagai berikut. Upaya pengembangan BRI unit hendaknya diarahkan pada pengembangkan luas cakupan pelayannya, khususnya melalui pengembangan produk pelayanan untuk kelompok rakyat kecil. Pengembangan BPR hendaknya diupayakan dan diarahkan pada peningkatan skala usahanya, management, teknologi pelayanan, dan daya saing, diantaranya melalui merger BPR kecil, memaksimasi peranan organisasi pendukung, dan perbaikan supervisi. Pengembangan LKP hendaknya diarahkan pada LKP berpenampilan buruk, disamping maksimasi luas cakupan pelayanan LKP berpenampilan baik.