KISMATUN KISMATUN
SMP N 1 Limpung

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MENGGUNAKAN METODE INQUIRY KISMATUN KISMATUN
TEACHING : Jurnal Inovasi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Vol. 1 No. 4 (2021)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/teaching.v1i4.754

Abstract

This study aims to develop learning for Islamic education subjects based on reasoning and problem solving. The inquiry method is reasoning-based learning and problem solving that should be actualized in order to develop Islamic education learning, because Islamic education is in a strategic position in the formation of a complete human being to develop reason, knowledge, intelligence, skills, noble character, and personality. Based on the challenges of the times, Islamic Religion teachers are expected to have new innovations related to their learning. Meanwhile, in the community itself, there are many criticisms aimed at the implementation of Islamic religious learning, because it tends to memorize, and lacks reasoning. In fact, many studies show that, Islamic education are just secondary subjects that are not important. In the end, this study found that the inquiry method stimulates students to think, analyze a problem, and find a solution. Inquiry learning emphasizes the development of cognitive, affective and psychomotor aspects in a balanced manner which can provide space for students to learn according to their style. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk melakukan pengembangan pembelajaran bagi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis penalaran dan pemecahan masalah. Metode inquiry adalah pembelajaran berbasis penalaran dan pemecahan masalah yang seharusnya diaktualisasikan dalam rangka mengembangkan pembelajaran Pendidkan Agama Islam. Pasalnya, Pendidikan Agama Islam berada di tempat strategis dalam pembentukan manusia secara utuh untuk mengembangkan akal, pengetahuan, kecerdasan, keterampilan, akhlak mulia, dan kepribadian. Di tengah tantangan zaman, guru Agama Islam diharapkan memiliki inovasi-inovasi baru terkait dengan pembelajaran. Sementara itu, di tengah masyarakat sendiri masih banyak kritik-kritik yang ditujukan pada pelaksanaan pembelajaran agama Islam, karena cenderung pada hafalan, dan kurang penalaran. Bahkan, banyak penelitian menunjukkan bahwa, mata pelajaran pendidikan Agama Islam hanyalah mata pelajaran sampingan yang tidak penting. Pada akhirnya, penelitian ini menemukan bahwa, metode inquiry merangsang murid untuk berpikir, menganalisa suatu persoalan, hingga menemukan pemecahannya. Inquiry learning menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotor secara seimbang yang dapat memberi ruang kepada siswa untuk belajar sesuai gaya mereka.
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KISMATUN KISMATUN
TEACHER : Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru Vol. 1 No. 2 (2021)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.152 KB) | DOI: 10.51878/teacher.v1i2.718

Abstract

This paper aims to pay attention to the development of Islamic education based on Contextual Teaching and Learning (CTL) theory as a solution to the crisis experienced by Islamic education. In fact, Islamic education is sidelined in public schools because it uses conventional learning methods that are boring and do not provide a significant educational product. Previous research found that the accuracy of lecture-based conventional learning only gave 11% level of meaning for students. This fact is in contrast to the theory of CTL or contextual learning and teaching which emphasizes the contextualization of knowledge. In the end, this study found that CTL learning emphasizes the process of involving students in finding the material being studied and connecting it to real-life situations. This learning model encourages students to be able to apply it in everyday life. There are six characteristics of CTL learning, namely: meaningful learning, application of knowledge, higher order thinking, curriculum which is symbolized by standards, responsiveness to culture, and authentic assessment. In addition, CTL has seven principles that underlie the implementation of the learning process using the CTL learning model, namely: constructivism, inquiry, questioning, learning community, modeling, reflection, and real assessment. CTL learning is very necessary, especially in efforts to develop Islamic education, because it invites students to be more active in learning. ABSTRAKMakalah ini bertujuan memberi perhatian kepada pengembangan Pendidikan Agama Islam berbasis teori Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai solusi dari krisis yang dialami Pendidikan Agama Islam. Kenyataannya, Pendidikan Agama Islam dikesampingkan di sekolah umum karena menggunakan metode pembelajaran konvensional yang membosankan dan tidak memberi produk pendidikan yang signifikan. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa akurasi pembelajaran konvensional berbasis ceramah hanya memberi 11% tingkat kebermaknaan bagi siswa. Kenyataan ini berbanding terbalik dengan teori CTL atau pembelajaran dan pengajaran kontekstual yang menekankan kontekstualisasi pengetahuan. Pada akhirnya, penelitian ini menemukan pembelajaran CTL menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik untuk menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi kehidupan nyata. Model pembelajaran ini mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-sehari. Terdapat enam karakteristik pembelajaran CTL, yaitu: pembelajaran bermakna, penerapan pengetahuan, berpikir tingkat tinggi, kurikulum yang dilambangkan berdasarkan standar, reponsif terhadap kebudayaan, dan penilaian autentik. Selain itu, CTL memiliki tujuh asas yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran CTL, yaitu: konstruktivisisme, inquiry, bertanya, masyarakat belajar, modelling, refleksi, dan penilaian nyata. Pembelajaran CTL sangat diperlukan terutama dalam upaya pengembangan pendidikan agama Islam, karena bersifat mengajak peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran.