Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perawatan Metode Kanguru (PMK) Sebagai Pengganti Inkubator Untuk Bayi Prematur Lia Kamila; Fina Elisa
Jurnal Soshum Insentif Vol 3 No 1 (April, 2020): Jurnal Soshum Insentif
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah IV

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.828 KB) | DOI: 10.36787/jsi.v3i1.227

Abstract

Abstract. Premature babies are at risk of causing complications such as thermoregulation temperature, oxygen desaturation, and intestinal motility. The main treatment for premature babies is in the incubator, but due to the limited use of the incubator, we need a method that similar to the way an incubator works for mother. Kangaroo mother care is an alternative treatment for premature babies that can be done by their mother. This method is done by placing the baby on the mother’s chest so that there is direct contact between the mother’s skin with the baby’s skin. The purpose of this research is to determine the physiological responses in Premature Babies such as heart rate frequency, temperature and baby reflex before and after the kangaroo mother care in the government hospital city of Bandung. This research uses a quasi-experimental method with one group pretest posttest design with 16 premature babies as a sample during June-July 2019. Result: before kangaroo mother care the average temperature of the baby is 36.4 0 C, the frequency of the heart rate 136 x / minute, babies who do not have a rooting reflex 50%, sucking reflex 68% and swallowing Reflex 100%. After kangaroo mother care has been given, the baby's temperature is 36.8 o C, the heart rate is 142 x / minute, babies already have 100% rooting reflex, 93.8% sucking reflex, and 75% swallowing reflex. The conclusion is there are significant differences in physiologic responses before and after kangaroo mother care. Abstrak. Bayi prematur beresiko mengalami komplikasi seperti termogulasi suhu, desaturasi oksigen dan motilitas usus. Perawatan utama untuk bayi prematur adalah di dalam inkubator, namun karena keterbatasan penggunaan inkubator, maka diperlukan satu metode yang menyerupai cara kerja inkubator yang dapat dilakukan oleh ibu. Perawatan Metode Kanguru (PMK) merupakan salah satu alternatif perawatan bagi bayi prematur yang dapat dilakukan oleh ibu. Metode ini dilakukan dengan cara meletakkan bayi di dada ibu sehingga terjadi kontak langsung antara kulit ibu dengan kulit bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons fisiologis pada bayi prematur yang terdiri dari frekuensi denyut jantung, suhu tubuh dan refleks bayi sebelum dan setelah dilakukan PMK. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian quasi experiment dengan bentuk rancangan One Group Pretest-Posttest. Sampel sebanyak 16 bayi prematur di RSUD Kota Bandung bulan Juni-Juli 2019. Hasil penelitian menunjukkan sebelum dilakukan PMK rata-rata suhu bayi 36,4oC, frekuensi denyut jantung 136x/menit, sedangkan bayi yang belum memiliki refleks mencari 50% , refleks menghisap 68% dan refleks menelan 100%. Sesudah diberikan PMK rata-rata Suhu bayi 36,8oC, frekuensi denyut jantung 142x/menit, bayi yang sudah memiliki refleks mencari 100%, refleks menghisap 93,8% dan refleks menelan 75%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu terdapat perbedaan perubahan respons fisiologis sebelum dan setelah dilakukan PMK.
FAKTOR PENGETAHUAN YANG MEMPENGARUHI KETERATURAN IBU BALITA DALAM MENGUNJUNGI POSYANDU DI DESA CIPANGERAN KECAMATAN SAGULING KABUPATEN BANDUNG BARAT TAHUN 2017 Lia Kamila; Liawati .; Suci Lailani Alipah
JURNAL KESEHATAN INDRA HUSADA Vol 5 No 2 (2017): Juli-Desember
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) INDRAMAYU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.224 KB) | DOI: 10.36973/jkih.v5i2.45

Abstract

ABSTRAK Indikator D/S di wilayah kerja Puskesmas Saguling Desa Cipangeran pada tahun 2016 menunjukkan masih rendahnya kunjungan balita dalam kegiatan posyandu dengan rata-rata hanya memcapai 41,5%, sedangkan target standar palayanan kota jumlah D/S yaitu 85%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keteraturan ibu dalam mengunjungi Posyandu dari faktor pengetahuan di Desa Cipangeran Kecamatan Saguling Kabupaten Bandung Barat tahun 2017. Metode penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Data yang digunakan adalah data primer. Populasi seluruh balita di wilayah kerja Puskesmas Saguling tahun 2016 sebanyak 424 ibu balita, besar sampel yang diambil 81 ibu balita, pengambilan sampel dengan menggunakan Sampel Random Sampling, pengumpulan data dengan hasil kuesioner berisi pertanyaan untuk mendapatkan data yang berkaitan dengan variabel yang diteliti. Hasil penelitian pengetahuan ibu balita didapatkan hampir setengah berada dikategori cukup yaitu 47 ibu balita (58%), namun masih ada ibu balita yang memiliki pengetahuan baik yaitu 18 ibu balita (22%), dan ibu balita yang memiliki pengetahuan kurang yaitu 16 ibu balita (20%). Kesimpulan dari penelitian didapatkan tingkat pengetahuan ibu balita yang tidak teratur dalam mengunjungi Posyandu di Desa Cipangeran Kecamatan Saguling Kabupaten Bandug Barat hampir setengah ibu balita berpengetahuan cukup. ABSTRACT The D / S indicator in the working area of ​​Saguling Public Health Center of Cipangeran Village in 2016 indicates that the low number of toddler visits in posyandu activities reaches an average of 41.5%, while the standard target for city / city is 85%. The purpose of this study is to determine the regularity of mothers in visiting Posyandu from knowledge factor in Cipangeran Village, Saguling District, West Bandung regency in 2017. This research method using analytical method with cross sectional approach. The data used is primary data.The population of all toddlers in the working area of Saguling Publich Health Center in 2016 were 424 mother, the sample size was 81 mother, using Random Sampling , data collection with questionnaires containing questions to obtain data related to the variables studied. The result of the research of the knowledge of the mother of the toddler is almost sufficient, namely 47 mothers (58%),but there are still mother who have good knowledge that is 18 mother of toddler (22%) and mother with less knowledge that is 16 mother of balita (20%). The conclusion of the research is the level of knowledge of irregular mother in visiting Posyandu in Cipangeran Village, Saguling, of West Bandung district, almost half of the toddler are knowledgeable enough.