Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

HUBUNGAN DOSIS PENGGUNAAN PESTISIDA DENGAN KADAR KOLINESTERASE DALAM DARAH PETANI DESA PASIRHALANG Gita Nurfajriani; Suci Rizki Nurul Aeni
Jurnal Kesehatan Rajawali Vol 9 No 2 (2019): September
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Rajawali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54350/jkr.v9i2.35

Abstract

Latar Belakang: Petani masih menjadi pekerjaan utama masyarakat Indonesia yaitu 38,97% dari keseluruhan populasi. Perkembangan di bidang pertanian tidak terlepas dari peran pestisida. Pestisida digunakan untuk membasmi hama yang dapat menurunkan produksi pertanian. Penggunaan dosis pestisida kerap kali tidak sesuai anjuran sehingga berdampak pada kesehatan petani.Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dosis penggunaan pestisida dengan kadar kolinesterase dalam darah petani di Desa Pasirhalang Kabupaten Bandung Barat.Metode Penelitian: Penelitian menggunakan metode survei analitik cross sectional. Penelitian ini di lakukan pada 43 petani di Desa Pasirhalang Kabupaten Bandung Barat.Hasil Penelitian: Uji statistik menggunakan SPSS dengan menggunakan metode chi- squaire diperoleh nilai asymptotic significance (2-sided) yaitu 0,696 lebih besar dari nilai alpha (0,05).Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara dosis penggunaan pestisida dengan kadar kolinesterase dalam darah petani di Desa Pasirhalang.
PENGGUNAAN APD SAAT PENYEMPROTAN PESTISIDA DAN KADAR KOLINESTERASE DALAM DARAH PETANI DESA PASIRHALANG Gita Nur Fajriani; Suci Rizki Nurul Aeni; Dika Adhi Sriwiguna
Jurnal Media Analis Kesehatan Vol 10, No 2 (2019): JURNAL MEDIA ANALIS KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pakassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.188 KB) | DOI: 10.32382/mak.v10i2.1229

Abstract

Alat pelindung diri (APD) merupakan alat yang berfungsi untuk melindungi seseorang dengan cara mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh dari potensi bahaya di tempat kerja. Petani merupakan salah satu pekerja yang membutuhkan APD dalam bekerja terutama saat menangani pestisida yang sifatnya beracun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan APD pada saat penyemprotan pestisida dengan kadar kolinesterase dalam darah petani di Desa Pasirhalang Kabupaten Bandung Barat. Penelitian menggunakan metode survei analitik dengan pendekatan survei analitik cross sectional. Sampel terdiri dari 43 orang petani. Data penggunaan APD diperoleh dari hasil wawancara semi terstruktur dan data kadar kolinesterasi didapatkan dari pemeriksaan langsung menggunakan alat Tintometer Kit. Analisis hubungan antarvariabel menggunakan analisis chi-square dengan bantuan SPSS versi 23. Hasil penelitian diperoleh 83,7% petani tidak mengenakan APD lengkap dan 16,3% mengenakan APD lengkap saat menyemprot pestisida. Berdasarkan pengukuran kadar kolinesterase, 14% petani mengalami keracunan ringan dan 86% normal. Hasil analisis chi-square menunjukkan nilai asym-sig 2-sided 0,017 (< α=0,05). Hal tersebut menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara penggunaan APD lengkap dengan kadar kolinesterasi dalam darah petani di Desa Pasirhalang Kabupaten Bandung Barat.
HUBUNGAN MASA KERJA DENGAN KADAR KOLINESTERASE DALAM DARAH PETANI DI DESA PASIRHALANG, CISARUA, KABUPATEN BANDUNG BARAT Gita Nur Fajriani; Suci Rizki Nurul Aeni; Viky Cahyo Handoko
Klinikal Sains : Jurnal Analis Kesehatan Vol 7 No 2 (2019): Desember
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.969 KB) | DOI: 10.36341/klinikal_sains.v7i2.1035

Abstract

Development in agricultural field can not be separated from pesticides, used to eradicate pests. Continuely use by farmer caused poisoning, that can be measured by cholinesterase levels in blood. This research tried to identify correlation between work period and cholinesterase level in farmer’s blood. Research was carried using cross sectional method with 43 farmers from Desa Pasirhalang Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Farmer’s work periods were 51,2% that have work more than 15 years and 48,8% that have work less then 15 years. Poisoning levels were 14% severe poisoning (50 – <75% cholinesterase level) and 86% normal (75 - 100% cholinesterase levels). Correlational statistic using Spearman test showed that there was no significant correlation between work period and cholinesterase levels in farmer’s blood.
Hubungan Intensitas Penyemprotan Pestisida dengan Kadar Kolinesterase dalam Darah Petani di Desa Pasirhalang Kabupaten Bandung Barat Gita Nur Fajriani
Meditory : The Journal of Medical Laboratory Vol 7, No 2 (2019): Meditory , vol7, no 2, 2019
Publisher : Jurusan Teknologi Laboratorium Medis, Poltekkes Kemenkes Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.715 KB)

Abstract

Background: The intensity of pesticide spraying is how often farmers spray pesticides in one week. The more often farmers spray, the higher the risk of poisoning. The number of farmers who spray pesticides more than twice a week is caused by disturbances from plant disturbing organisms (OPT). This pest causes a lot of losses to farmers, such as damage to crops, causing losses to harvest crops.Aim: This research tried to investigate significant correlation between intensity of pesticide spraying with cholinesterase levels on farmer’s blood in Desa Pasirhalang Kabupaten Bandung Barat.Method: The research was analytical research and conducted with a cross sectional analytical survey conducted.Result: The results of the statistical test using SPSS with the chi-square test obtained asymptotic significance (2-sided) value is 0.107 greater than the alpha value (0.05). This shows that there is no significant correlation between the intensity of spraying pesticides with cholinesterase levels in the blood of farmers in Pasirhalang Village West Bandung Regency.Conclusion: Based on the test results, it is concluded that there is no significant correlation between the intensity of spraying pesticides with the level of cholinesterase in the blood of farmers in Desa Pasirhalang Kabupaten Bandung Barat.
PENGARUH SELF DAN PEER AFFECTIVE ASSESSMEN PADA HASIL BELAJAR KIMIA DASAR MAHASISWA DIII ANALIS KESEHATAN Gita Nur Fajriani
Jurnal Soshum Insentif Vol 3 No 2 (2020): Vol 3 No 2 (Oktober, 2020): Jurnal Soshum Insentif
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah IV

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36787/jsi.v3i2.258

Abstract

Abstract – This study investigate Basic Chemistry learning outcome difference in Health Analyst Level 3 Diploma sudents who did self-affective assessment and peer-affective assessment. Participant of this study were two student groups in which 30 students in class A who did self-affective assessment and 28 students in class B who did peer-affective assessment, while Basic Chemistry learning experience in both classes were identical. The result of this study showed that class A Basic Chemistry learning outcome (78.21) is higher and significantly different (asymp sig. 0.001, α = 0.05) than class B learning outcome (70.90). Based on questionnare, it was found that class A students found themselves more motivated, discipline, responsible, and have self abitity consciousness. While class B students found themselves growing reflective, motivation, dan sympathy behaviors. Class A students focused on learning and their own selves, while class B students focused on learning, their selves, and peer’s behavior. Affective assessment wether it’s self or peer assessment can be used to help student continually watch their behavior development in learning and develop their long life learner behavior. Abstrak – Penelitian ini mengkaji perbedaan hasil belajar mahasiswa DIII Analis Kesehatan pada mata kuliah Kimia Dasar yang melaksanakan self-affective assessment dan peer-affective assessment. Responden terdiri dari dua kelompok mahasiswa terdiri dari 30 orang kelas A melaksanakan self-affective assessment dan 28 orang kelas B melaksanakan peer-affective assessment, dengan keseluruhan pengalaman belajar mata kuliah Kimia Dasar yang persis sama. Hasil penelitian menunjukkan hasil belajar mata kuliah Kimia Dasar mahasiswa DIII Analis Kesehatan yang melaksanakan self-affective assessment (78,21) lebih tinggi dan berbeda secara signifikan (asymp sig. 0,001, α = 0,05) dengan mahasiswa yang melaksanakan peer-affective assessment (70,90). Berdasarkan hasil angket, ditemukan bahwa mahasiswa kelas A mendapati diri mereka lebih termotivasi, disiplin, tanggung jawab, dan mengenal kemampuan diri. Sementara itu mahasiswa kelas B mendapati diri mereka menumbuhkan sikap reflektif, motivasi, dan simpati. Mahasiswa kelas A lebih fokus pada materi pembelajaran dan perkembangan dirinya sendiri, sementara mahasiswa kelas B berfokus pada materi pembelajaran, perkembangan diri sendiri, dan mengamati perkembangan teman sejawat. Penialaian afektif baik berupa self-affective assessment maupun peer-affective assessment dapat digunakan untuk membantu mahasiswa memantau perkembangan sikapnya dalam belajar dan menumbuhkan sikap pembelajar sepanjang hayat.