Aleta Apriliana Ruimassa
Fakultas Teologi, Universitas Kristen Indonesia Maluku. Jl. Ot. Pattimaipauw, Kelurahan Wainitu, Ambon – Indonesia.

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Peran Mahasiswa Teologi UKIM dalam Program Taat Protokol Kesehatan 5M dan Vaksinasi di Jemaat GPM Rehoboth Susi Rumthe; Hetreda Apalem; Lisela Rahadat; Jeanly Hukunala; Tasya Sinay; Vania Tanjaya; Ensia Wasaleruai; Dave Stenly Nenkeula; Aleta Apriliana Ruimassa
Panrannuangku Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengembangan Teknologi dan Rekayasa, Yayasan Ahmar Cendekia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35877/panrannuangku688

Abstract

Pandemi COVID-19 telah mewabah di dunia bahkan di Maluku terlebih khusus Jemaat GPM Rehoboth kurang lebih 1 tahun. Pandemi ini berdampak besar bagi berbagai aspek kehidupan warga jemaat. Namun banyak upaya yang sudah dilakukan oleh pemerintah, tenaga kesehatan maupun gereja dalam memutus mata rantai penyebaran COVID-19. Upaya yang dilakukan seperti peraturan untuk mematuhi Prokes 5M. Pada survey lapangan di sektor Sumber Kasih, Elefantin, Galilea dan Bethania ditemui bahwa masih kurangnya kesadaran warga jemaat untuk mematuhi Prokes 5M. Selain itu upaya yang juga dilakukan adalah melakukan program vaksinasi. Pada survey awal, melalui pembagian kuesioner di sektor Sumber Kasih Jemaat GPM Rehoboth, ditemukan bahwa masih minimnya pemahaman warga tentang manfaat dari vaksin. Hal tersebut dapat kita lihat dari hasil kuesioner pertama yang mengasilkan beberapa persoalan yang membuat warga jemaat masih takut untuk divaksin, di antaranya yatu: 1). Warga jemaat mempunyai penyakit bawaan, 2). Menganggap bahwa COVID-19 bukanlah masalah yang sulit sehingga merasa tidak membutuhkan vaksin, 3) Tidak yakin akan efektivitas vaksin COVID-19, 4). masih takut akan efek samping dari vaksin. 5). warga jemaat yang percaya akan isu tentang vaksin yang mengandung chip. Berdasarkan masalah yang ada, maka edukasi yang diimplementasikan dalam sektor Sumber Kasih adalah: 1). Melakukan sosialisasi vaksin melalui pengeras suara gereja, 2). Himbauan mengikuti vaksinasi melalui audio yang diputar sebelum kebaktian melalui pengeras suara gereja, 3). Melakukan sosialisasi lewat media luar ruangan tentang taat protokol kesehatan 5M. Seperti pemasangan spanduk taat protokol kesehatan 5M. Luaran kegiatan ini telah diupload pada chanel YouTube https://youtu.be/R8i3W9G6INg.
Memahami Psikologi Perkembangan Remaja sebagai Upaya Merencanakan Pelayanan Pastoral yang Peka Kesehatan Mental Remaja Aleta Apriliana Ruimassa
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.845

Abstract

Abstract. Teenage years are a phase in which humans experience significant changes in their physical, psychosocial, and spiritual aspects. If these changes are not addressed wisely and if teenagers also experience external pressures, it will certainly have an impact on mental health. Teenagers are vulnerable to mental health disorders, such as stress and depression, and even attempt to harm themselves to suicide. The Church's concern is to conduct a pastoral service that is contextual and relevant to the struggles of teenagers as members of the congregation to help teenagers' mental health by focusing on their psychological development. A literature study approach was used to analyze data on the urgency of teenage mental health as well as teenage mental health from the perspective of teenage developmental psychology. The study found that a youth-friendly pastoral service is a pastoral action that is sensitive to teenagers’ mental health.Abstrak. Masa remaja adalah sebuah fase kehidupan di mana manusia mengalami perubahan-perubahan yang signifikan dalam dirinya terkait fisik, psiko-sosial, dan spiritual. Jika perubahan-perubahan tersebut tidak disikapi dengan bijak, dan jika remaja juga mengalami tekanan-tekanan di luar dari dirinya, maka tentu akan berdampak pada kesehatan mental. Remaja akan rentan terhadap gangguan kesehatan mental seperti stres, depresi, bahkan upaya menyakiti dirinya sendiri hingga tindakan bunuh diri. Keprihatinan Gereja ialah melakukan suatu pelayanan pastoral yang kontekstual dan relevan bagi pergumulan remaja sebagai anggota jemaat dalam menolong kesehatan mental remaja dengan memperhatikan perkembangan psikologi dari remaja. Pendekatan studi pustaka digunakan untuk menganalisis data mengenai urgensi dari kesehatan mental remaja, dan juga kesehatan mental remaja dari perspektif psikologi perkembangan remaja. Kajian tersebut menemukan  sebuah pelayanan pastoral yang bersahabat kepada remaja menjadi aksi pastoral yang peka akan kesehatan mental remaja.
Moderasi beragama dan trauma konflik komunal: Eksplorasi pemahaman dan pengembangan model bagi remaja Kristen di kota Ambon Jenne Jessica Revanda Pieter; Martha Marselina Patty; Aleta Apriliana Ruimassa; Ricardo Freedom Nanuru
KURIOS Vol. 10 No. 3: Desember 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v10i3.1298

Abstract

Christian adolescents who survived communal conflict in Ambon have grown up within narratives of religiously based violence while living in a digital era susceptible to the spread of radicalism and hate speech. This reality underscores the urgent need to cultivate religious moderation in a structured, context-specific manner. This study aims to explore how Christian adolescent survivors of communal conflict in Ambon understand religious moderation and to develop a relevant model of religious moderation for them. A qualitative case study method was employed, with in-depth interviews conducted with 23 adolescent informants. Findings reveal that their understanding of religious moderation remains normative and incomplete, as trauma from communal conflict has generated negative perceptions toward adherents of other religions. Drawing on these findings, the researchers developed a religious moderation model grounded in Jack Mezirow's Transformative Education theory, encompassing four stages: experience, critical reflection, reflective discourse, and action. This model integrates trauma healing with the formation of a moderate character and can be implemented through Christian churches and schools in post-conflict Ambon.   Abstrak Remaja Kristen penyintas konflik komunal di Ambon bertumbuh dalam narasi kekerasan berbasis agama sekaligus terpapar dunia digital yang rentan menyebarkan radikalisme dan ujaran kebencian. Realitas ini menegaskan urgensi penanaman moderasi beragama secara terstruktur dan kontekstual bagi mereka. Penelitian ini bertujuan menggali pemahaman remaja Kristen penyintas konflik komunal di Ambon tentang moderasi beragama serta mengembangkan model moderasi beragama yang relevan dengan konteksnya. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif studi kasus dengan wawancara terhadap 23 informan remaja. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pemahaman informan tentang moderasi beragama masih bersifat normatif dan belum terbentuk secara utuh, karena trauma akibat konflik komunal memunculkan persepsi negatif terhadap pemeluk agama lain. Berdasarkan temuan ini, peneliti mengembangkan model moderasi beragama yang mengacu pada teori pendidikan transformatif Jack Mezirow yang mencakup empat tahapan: pengalaman, refleksi kritis, diskursus reflektif, dan aksi. Model ini mengintegrasikan pemulihan trauma dengan pembentukan karakter moderat dan dapat diimplementasikan melalui gereja dan sekolah Kristen di Kota Ambon pascakonflik.
Pelaku yang terlupakan: Konstruksi model pendampingan pastoral empatik-restoratif bagi remaja pelaku cyberbullying di jemaat GPM Bethania dan Nehemia, kota Ambon Aleta Apriliana Ruimassa; Peter Boris Salenussa; Ricardo Freedom Nanuru
KURIOS Vol. 12 No. 1: April 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v12i1.1540

Abstract

This study explores the motivations and contributing factors of cyberbullying among Christian adolescents in Ambon while constructing a contextual pastoral care model for perpetrators, a group largely neglected in pastoral theological discourse. A qualitative phenomenological method was applied within Richard Osmer's four-task framework of practical theology: descriptive-empirical, interpretive, normative, and pragmatic. Data were collected through in-depth interviews, focus group discussions, and observations with 43 adolescent informants from the GPM Bethania and GPM Nehemia congregations. The findings indicate that flaming and outing are the dominant forms of cyberbullying, driven mainly by peer solidarity and low emotional regulation. The normative analysis develops a theological foundation drawn from Andrew Sung Park's Triune Atone-ment, Miroslav Volf's paradigm of embrace, and Dietrich Bonhoeffer's costly grace. The study proposes an empathetic, restorative pastoral care model structured around four pillars: preventive education, empathetic pastoral counseling, peer tutor groups, and communal restorative action. Its contribution lies in shifting the paradigm of demonization of perpetrators toward a pastoral embrace that balances acceptance and moral accountability.   Abstrak Penelitian ini menggali motivasi dan faktor pendorong tindakan cyberbullying di kalangan remaja Kristen di Kota Ambon, sekaligus mengonstruksi model pendampingan pastoral yang relevan bagi pelaku cyberbullying, kelompok yang selama ini terabaikan dalam diskursus teologi pastoral. Metode kualitatif fenomenologis digunakan dengan kerangka empat tugas teologi praktis Richard Osmer, yaitu deskriptif empiris, interpretatif, normatif, dan pragmatik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, focus group discussion, dan observasi terhadap 43 informan remaja di Jemaat GPM Bethania dan GPM Nehemia. Hasil menunjukkan bahwa bentuk dominan cyberbullying adalah flaming dan outing, dengan dua faktor utama, yaitu solidaritas sebaya dan rendahnya regulasi emosi. Analisis normatif membangun landasan teologis berbasis Triune Atonement Andrew Sung Park, paradigma embrace Miroslav Volf, dan costly grace Dietrich Bonhoeffer. Penelitian ini mengusulkan model pendampingan empatik-restoratif berbasis empat pilar: edukasi preventif, konseling pastoral empatik, kelompok tutor sebaya, dan aksi restoratif komunal. Kontribusinya adalah pergeseran paradigma dari demonisasi pelaku menuju perangkulan pastoral yang menjaga keseimbangan antara penerimaan dan pertanggungjawaban moral.