Desy Sugianti
Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Tuk Umbul Warungboto Berbasis Masyarakat Desy Sugianti
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 3, No 2 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (65.605 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v3i2.2610

Abstract

Abstrak Yogyakarta merupakan salah satu daerah di Indonesia yang mampu menghadirkan banyak jenis destinasi dengan kebudayaan sebagai komponen utamanya. Salah satu yang menjadi potensi destinasi adalah keberadaan kawasan cagar budaya yang dimiliki oleh Kota Yogyakarta yaitu kawasan Pesanggrahan Warungboto atau biasa disebut juga Pesanggrahan Rejowinangun. Pesanggrahan ini merupakan pesanggrahan milik Keraton Yogyakarta yang dulunya digunakan oleh sultan Hamengkubawana ke II. Situs ini memiliki Tuk Umbul di dalamnya. Tuk umbul merupakan sebuah kawasan cagar budaya yang pengembangannya telah dilakukan secara berkelanjutan. Hingga saat ini kawasan tersebut telah ditetapkan sebagai salah satu kawasan cagar budaya di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan DIY. Perkembangan pelestarian cagar budaya Tuk Umbul dalam hal kepengurusan, saat ini sedang serius dialihkan berbasis masyarakat. Saat ini masyarakat sekitar telah membentuk sebuah komunitas pemerhati kawasan situs Tuk Umbul. Dalam penelitian ini dibahas mengenai upaya komunitas pemerhati dalam hal pelestarian kawasan cagar budaya Tuk Umbul. Temuan di lapangan dan dari hasil wawancara serta dokumentasi terhadap subjek dan objek penelitian yaitu situs Tuk Umbul menunjukkan bahwa dalam hal pembentukan kepengurusan kawasan situs Tuk Umbul masih dalam proses peningkatan SDM untuk mengisi struktur kepengurusan yang nantinya akan dibentuk legalitas untuk dapat sepenuhnya mampu menjalankan visi dan misi yang diagendakan oleh komunitas terhadap kawasan situs cagar budaya Tuk Umbul.Kata kunci: pelestarian kawasan, cagar budaya, berbasis masyarakat, tuk umbul warungboto  Abstract Yogyakarta is one of the regions in Indonesia that is able to present many types of destinations with culture as its main component. One of the potential destinations is the existence of cultural heritage areas of Yogyakarta, namely the Warungboto Pesanggrahan area or commonly called the Pesanggrahan Rejowinangun. This guesthouse is a pesanggrahan owned by the Yogyakarta Palace which was used by the Second Sultan Hamengkubawana. This site has Tuk Umbul in it. Tuk umbul is a cultural heritage area whose development has been carried out sustainably. Until now the area has been designated as one of the cultural heritage areas under the management of the DIY Cultural Service. The development of the preservation of Tuk Umbul cultural heritage in terms of management, is currently being seriously transferred by the community. Currently the surrounding community has formed a community that observes the Tuk Umbul site area. In this study discussed the efforts of the community observers in terms of preserving the cultural heritage area of Tuk Umbul. The findings in the field and from the results of interviews and documentation on the subject and object of the research, namely the Tuk Umbul site indicate that in terms of establishing the Tuk Umbul site management board is still in the process of increasing human resources to fill the management structure, which will be formed to be able to fully implement the vision and mission which was scheduled by the community towards the Tuk Umbul cultural heritage site area. Keywords: preservation of the area, cultural heritage, community based, for pennant warungboto
Strategi Pengembangan Kawasan Wisata Pasar Terapung Berbasis Kearifan Lokal di Kota Banjarmasin Desy Sugianti
JURNAL TATA KELOLA SENI Vol 2, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana ISI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3848.57 KB) | DOI: 10.24821/jtks.v2i2.1820

Abstract

Banjarmasin dalam dunia kepariwisataan di Indonesia terkenal dengan kota seribu sungai. Sebagai salah satu daerah di Indonesia yang memiliki aliran sungai terbanyak membuat Banjarmasin juga dikenal sebagai kota dengan daya tarik pasar terapungnya. Di Kota Banjarmasin, pasar terapung yang dikenal luas oleh masyarakat dan sempat menjadi tema dari jargon salah satu televisi swasta di Indonesia adalah keberadaan Pasar Terapung Kuin. Seiring perkembangan zaman, kondisi Pasar Terapung Kuin saat ini mengalami kemunduran perkembangan. Banyak media baik online maupun surat kabar terbitan memberitakan tentang sepinya pembeli dan menurunnya jumlah pedagang yang berjualan di Pasar Terapung Kuin. Hal tersebut dikonfirmasi pula oleh beberapa pedagang yang tetap berjualan di Kuin. Melihat dari permasalahan tersebut kemudian pemerintah setempat melakukan tindakan guna menghidupkan kembali budaya sungai yang melekat erat sebagai image Kota Banjarmasin dengan membangun pasar terapung yang berada tepat berseberangan dengan titik 0 (nol) kilometer Kota Banjarmasin serta beberapa atraksi wisata lain di sekitar pasar terapung tersebut. Namun, sejak kehadiran Pasar Terapung Siring, jumlah kunjungan yang didata oleh pengelola menunjukkan adanya kesenjangan angka. Dimana Pasar Terapung Siring mampu mendatangkan tamu dengan angka mencapai sekitar 56.000-an (lima puluh enaman ribu), sementara kawasan Pasar Terapung Kuin hanya mampu menempati angka tertinggi dalam 1 tahun sebesar 3.000-an (tiga ribuan) pengunjung. Maka berdasarkan paparan tersebut dalam penelitian ini dilakukan pendekatan dengan metode penelitian triangulasi, menggunakan analisis kualitatif deskriptif dan analisis SWOT yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengelolaan kawasan Pasar Terapung Kuin dan Siring untuk kemudian memformulasi strategi pengembangan kawasan pasar terapung di Banjarmasin. Dalam temuan penelitian berdasarkan hasil analisis kualitatif yang dilakukan, ditemukan bahwa; sistem pengelolaan terhadap Pasar Terapung Kuin dan Siring memiliki perbedaan yaitu; infrastruktur yang dikembangkan lebih banyak dilakukan di Siring, peran serta masyarakat yang terlibat dalam mengelola kepariwisataan pasar terapung juga lebih terorganisir di Siring. Sementara untuk kawasan Kuin belum adanya organisasi atau asosiasi resmi yang dibentuk oleh warga sekitar guna menjalankan program pengelolaan dan pengembangan kawasan dalam usaha untuk menghidupkan kembali budaya sungai di Banjarmasin. Arahan strategi berdasarkan analisis SWOT adalah kawasan wisata pasar terapung di Banjarmasin idelanya memiliki strategi dalam hal penambahan produk, pasar dan fungsi-fungsi kawasan serta melakukan pemanfaatan kekuatan dan peluang yang dimiliki. Strategi pengembangan terhadap kawasan pasar terapung di Banjarmasin mampu dikembangkan dan dapat menjalankan strategi yang bersifat ofensif. Banjarmasin in the world of tourism in Indonesia known as the city of a thousand rivers. Banjarmasin is one of the areas in Indonesia that has the most river flow so that makes Banjarmasin also known as a city who has Floating Market. In the city of Banjarmasin, Floating Market (Kuin Floting market) widely known by the public after appeared in one of television in Indonesia as their theme of television slogan. Currently, Kuin floating market condition is on a decline in development. Many media such as online and newspaper published preach about the less of buyers and the declining number of traders who sell in Kuin Floating Market. It is also confirmed by some traders who keep selling in Kuin. Based on that case then the local government taken the action to revive the culture of the embedded river as the image of Banjarmasin City by builded a floating market that is near to the center of the city and became a part of tourist attractions in Banjarmasin. However the number of visitors that recorded by the manager shown a gap between Kuin and Siring. Where Siring floating market can bring guests with numbers reaching 56.000 visitors but Kuin floating market area is only able to occupy the highest lift in 1 year of 3.000 visitors. So based on that case, this research approached with trianggulation research method, using descriptive qualitative analysis and SWOT analysis which aims to identify the management of Kuin and Siring floating market area and then make a formulation of the development strategy of Floating Market area in Banjarmasin. This research found that; the management system of Kuin and Siring floating market has the difference action; Many Infrastructure developed has done in Siring, the participation of communities involved in managing tourism of the floating market and makes Siring also more organized. However, Kuin area hasn’t official organization or association formed by local people to run the program of management and development of the area in an effort to revive the river culture in Banjarmasin. Strategy directives based on SWOT analysis are; Floating market tourism area in Banjarmasin ideally has a strategy in terms of addition of products, markets and functions of the region by using their strengths and opportunities. Development strategy for floating market area in Banjarmasin could be able to develop and run the offensive strategy.