Isra Fahriati
Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Berbalas Pantun dalam Adat Perkawinan di Desa Muka Sungai Kuruk Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang Isra Fahriati
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 4, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.36 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v4i1.2670

Abstract

Abstrak Penelitian yang berjudul “Berbalas Pantun dalam Adat Perkawinan di Desa Muka Sungai Kuruk Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang” mengangkat masalah pesan apa saja yang terkandung dalam kegiatan berbalas pantun pada adat pelaksanaan perkawinan di Aceh Tamiang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan pesan apa saja yang terkandung pada seni berbalas pantun dalam adat perkawinan di Aceh Tamiang. Subjek dalam penelitian ini adalah Wak Ngah, Wak Alang, M. Djhuned Thaher, penggelut, dan masyarakat yang mengapresiasikan budaya berbalas pantun. Penentuan sampel dilakukan secara sampling purposive. Metode yang digunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pantun sering digunakan sebagai media penyampaian pesan pada acara perkawinan yang berisi tentang masalah perkawinan yang harus dipenuhi pihak laki-laki kepada pihak perempuan seperti syarat harus menggunakan inai, membawa emas, sirih, dan elang 7 hari yang terdiri dari tebu, bale, kain, dan harus memahami arti dari tujuan pernikahan tersebut. Disarankan penelitian yang berhubungan dengan berbalas pantun dalam adat perkawinan di Desa Muka Sungai Kuruk Kecamatan Seruway Kabupaten Aceh Tamiang dapat dilanjutkan oleh peneliti lain sehingga dapat terungkap hal-hal yang belum terungkap melalui penelitian ini. Abstract The study entitled "Balanced in the Marriage Indigenous in the village of Muka Sungai Kuruk, Seruway District, Aceh Tamiang District" raised the problem of any messages contained in the rhyme-reciprocal activity on the custom of marriage in Aceh Tamiang. This study aims to find out and describe what messages are contained in the art of replying to rhymes in marriage customs in Aceh Tamiang. Subjects in this study were Wak Ngah, Wak Alang, M. Djhuned Thaher, activist, and the community who appreciated the culture of repayment. Determination of the sample is done by purposive sampling. The method used is a descriptive qualitative method. Data collection is done through observation, interview, and documentation techniques. The results of the data analysis show that pantun is often used as a medium for sending messages on marriage events that are about marital problems which must be fulfilled by men to women such as the requirement to use a host, carrying gold, betel and 7-day eagle consisting of sugar cane, bale , cloth and must understand the meaning of the purpose of the marriage. It is suggested that research related to the reverberation of rhymes in marriage customs in the village of Muka Sungai Kuruk, Seruway sub-district, Aceh Tamiang district, could be continued by other researchers so that it could be revealed that things had not been revealed through this research.