Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

JALA (Jaring Menangkap Ikan) Riska Gebrina
Joged Vol 9, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.949 KB) | DOI: 10.24821/joged.v9i1.2497

Abstract

Karya tari Jala merupakan gambaran aktivitas masyarakat pesisir Aceh dalam menjalani keseharian sebagai seorang nelayan dalam usaha mencari rezeki. Di dalamnya suasana kegotongroyongan dengan nilai kekompakkan, semangat dan kebersamaan. Jala yang artinya adalah jaring untuk menangkap ikan, proses yang dilakukan pada tari ini menggunakan properti tali dan dirajut menjadi sebuah jala atau jaring.Berawal dari rangsang visual yaitu saat melihat para nelayan yang pergi ke laut untuk mencari ikan sebagai mata pencaharian sehari-hari. Tari ini menceritakan tentang aktivitas para nelayan yang ada di Aceh yang menangkap ikan di laut, namun lebih memperlihatkan bagaimana cara membuat sebuah rangkaian tali untuk menangkap ikan yang disebut Jala.Pendekatan kreativitas adalah milik semua orang yang mampu atau bisa membuat sebuah inovasi baru, baik itu inovasi baru tanpa adanya unsur tradisi maupun inovasi yang ada perkembangan tradisi berdasarkan pemikiran masing-masing seniman yang mempunyai daya kemampuan yang berbeda-beda juga. Melalui pendekatan inilah cara berpikir dan cara bekerja secara kreatif akan dibangun. Pendekatan kedua adalah koreografi, merupakan suatu seni dalam membuat dan merancang suatu komposisi tari, yang digunakan sebagai landasan dalam mencipta yang meliputi bentuk penyajian tari, gerak tema, judul, tata rias, tata busana, pola lantai, musik, properti.
Bentuk Penyajian Tari Kreasi Ratoeh Jaroe di Sanggar Budaya Aceh Nusantara (Buana, Banda Aceh) Riska Gebrina
INVENSI Vol 3, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Graduate School of the Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1887.09 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v3i2.2418

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk penyajian tari Ratoeh Jaroe di Sanggar Budaya Aceh Nusantara (BUANA) Banda Aceh. Sumber data dan lokasi dalam penelitian ini adalah ketua sanggar Budaya Aceh Nusantara (BUANA), koreografer atau penata tari, penari tari, dan penata musik tari Ratoeh Jaroe. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini yaitu mereduksi data, display, dan verifikasi. Hasil penelitian mengungkapkan ciri spesifik bentuk penyajian tari Ratoeh Jaroe pada sanggar Budaya Aceh Nusantara (BUANA) yang diciptakan oleh Khairul Anwar pada tahun 2008, serta judul tarian ini diciptakan oleh Khairul Anwar pada tahun 2011. Tari Ratoeh Jaroe ditarikan oleh sebelas penari wanita. Tari Ratoeh Jaroe memiliki tiga puluh tiga gerakan dan lima kali pengulangan gerak. Diiringi dengan alat musik tradisional Aceh seperti seurune kale, rapai, geundrang, dan darabbuka. Tata rias yang digunakan adalah rias korektif, serta tata busana yang disesuaikan dengan konsep tari Ratoeh Jaroe. Tari ini dipentaskan pada proscenium stage namun bisa juga di lapangan terbuka. Fungsi tari Ratoeh Jaroe sebagai salah satu media dakwah yang mencerminkan nilai-nilai kependidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan yang diperlihatkan melalui gerakan jari tangan penari. Pada pentas tari Ratoeh Jaroe inilah penonton akan menangkap maksud karya yang ditampilkan. This research purposed to decribe forming of presenting Ratoeh Jaroe dance at Sanggar Budaya Aceh Nusantara (BUANA) Banda Aceh. Data resources and location of the research are head of sanggar Budaya Aceh Nusantara (BUANA), choreography or dance stylist of Ratoeh Jaroe dance, dancers of Ratoeh Jaroe dance, and music stylist of Ratoeh Jaroe dance. The approaching used in this research is qualitative with descriptive research. Data collection used with observation technique, inteview and documentations. Technique analysis data in this research was data reduction, data display and verification. The result of the research shown that Ratoeh Jaroe dance at sanggar Budaya Aceh Nusantara (BUANA) created by Khairul Anwar in 2009 along with title of this dance created by Khairul Anwar in 2011. Ratoeh Jaroe dance danced by 11 female dancers, and the function Ratoeh Jaroe dance as one of da’wah media which is reflected educative, religious, politeness, heroic, harmony and togetherness that is shown by the movement of dancers’ fingers. Ratoeh Jaroe dance has thirty three movements and eleven repeating movements. Accompanied by Aceh traditional music instruments like seurune kale, rapai, geundrang and darabbuka. Cosmetic used in this dance was beauty make up, and dressmaking which is adjusted by the concept of Ratoeh Jaroe dance. This dance performed at proscenium stage and performed at outdoor area as well, thus, in this stage Ratoeh Jaroe dance would be performing with the aim to make spectators at audiences understood the purpose of creation that performed.
KAJIAN KOREOGRAFI MENGGUNAKAN MAPPING TEORI MIMESIS, EKPRESIF DALAM TARI BURQA AL-ZAFN PADA SANGGAR BUANA (BUDAYA ACEH NUSANTARA) Gebrina, Riska; Mailianti, Nyak Vira
JOURNAL OF EDUCATION SCIENCE Vol 11, No 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jes.v11i1.4742

Abstract

Tari sufi adalah sebuah tari tradisional Turki yang didalam penggarapannya mengandung nilai-nilai islami. Bentuk penyajian tarian ini sangat unik, terlihat jelas pada gerakan yang dilakukan oleh penari, pola lantai, tata busana, dan musik, maka dari itu peneliti tertarik untuk meneliti tarian ini. Namun apakah tari sufi ini ada di daerah kita yang dikenal sebagai kota madani dengan segala konsep seni dan budayanya dikaitkan dengan Syari’at islam yaitu kota Banda Aceh.Tari Burqa Al-Zafn adalah sebuah karya tari kreasi yang belum banyak diketahui oleh masyarakat walaupun pertunjukannya sudah dilakukan pada acara-acara besar seperti Musik Sufi Internasional, Banda Aceh Expo, dan Pekan Kebudayaan Aceh. Tari yang terinspirasi dari tari sufi ini menitik beratkan konsepnya pada norma-norma islam sama halnya seperti konsep atau tema tari tradisional Turki (sufi). Penelitian  ini  bertujuan  untuk menjadikan tari ini sebagai pelopor karya seni dengan tema dan konsep garapan yang religious dan kental dengan adat budaya di Aceh. Pembahasan diatas juga membahas bagaimana tari ini memiliki hubungan dalam kajian koreografi kebudayaan dengan menggunakan mapping teori mimesis dan ekspresif. Gerak-gerak yang digunakan banyak meniru gerak yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Bentuk tiruan gerak yang sering dilakukan umat muslim pada umumnya, seperti berdoa memohon petunjuk dan pertolongan pada Allah SWT, gerak tersebut di aplikasi kan melalui tari ini dan diberi sedikit nilai kelembutan dalam bergerak.
Strategi Pemenangan Tamizi Pada Pemilu Serentak Tahun 2024 Gebrina Riska; Ubaidullah Ubaidullah; Khalisni Khalisni; Reza Fahlevi
Jurnal Realitas Sosial Vol. 1 No. 1 (2025): Jurnal Realitas Sosial
Publisher : PT Riset Mandiri Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64126/jrs.v1i1.17

Abstract

The concept of a winning strategy in electoral politics refers to a systematically designed and strategically implemented plan developed by legislative candidates and their campaign teams to secure electoral victory.This study investigates the political strategy employed by Tarmizi, a candidate from the Aceh Party, during the 2024 simultaneous legislative elections for the Aceh Provincial House of Representatives (DPRA) in Electoral District 10. Tarmizi successfully secured a DPRA seat for the 2024–2026 term, with a remarkable 100% increase in votes compared to the previous election, reaching a total of 20,928 votes. The purpose of this research is twofold: first, to analyze the strategic approach adopted by Tarmizi in the DPRA legislative contest of 2024; second, to identify the key political factors influencing his electability. Employing a qualitative-descriptive research design, data were collected through in-depth interviews, field observations, and document analysis. The study is grounded in political marketing theory, Peter Schroder’s political strategy framework, and the concept of political positioning. The findings reveal that Tarmizi’s campaign strategy was primarily characterized by a political marketing approach, specifically push marketing techniques emphasizing social engagement and grassroots outreach. His electoral success was significantly influenced by his established political track record, endorsement from influential religious figures, a trustworthy and socially engaged public persona, and an effective issue-based positioning strategy that resonated with voters, particularly on socio-political concerns cultivated since his previous term.