Reny Triwardani
Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Nirmana

LITERACY AND SECONDARY ORALITY: (SEBUAH ANALISIS PERBANDINGAN KISAH ROMANTIS “A WALK TO REMEMBER” VERSI NOVEL DAN FILM) Triwardani, Reny; Wicandra, Obed Bima
Nirmana Vol 10, No 1 (2008): JANUARY 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.457 KB) | DOI: 10.9744/nirmana.10.1.pp. 37-44

Abstract

Electronic media has given birth to public life based on oral culture, though different from the previous understanding, in this case cited as the secondary oral form. The second difference is oral form can be said that the oral culture of the first (primary orality) is based on human physical, whereas the secondary orality is based on technology. It can be seen that the development of communication technology, especially electronic media resource uses audio as an important tool in communication and delivery of information. The forms of media in secondary orality are radio, television, movies, and other electronic media. This paper provides exposure to a comparison between written culture that manifests itself in a novel with a secondary orality embodied in a film. Both types of cultures used to study the novel and film of the same title, namely "A Walk To Remember" by Nicholas Sparks, in his novel in 1999 or in the movie with director Adam Shankman, released in 2002. Based on the indicators of the cultural characteristics of the two forms of writing and secondary orality, there has been a different reading of the work A Walk to Remember. The indicators that show differences are as follow: subjectivity/objectivity, situational/abstract and analytical, aggregative/stand alone, collaborative/authoritative knowledge, and grounded in observable/transcending barriers of time and place. In this form, the secondary orality through the film version has been able to overcome the limitations of audience involvement in reading the text due to the nature of audio visual. In contrast, in the form of novel writing provides the reader with its own pleasure in the freedom of imagination in the reading of text undertaken. Abstract in Bahasa Indonesia: Media elektronika telah melahirkan kembali kehidupan masyarakat yang berdasar atas budaya kelisanan, sekalipun berbeda dengan pengertian yang sebelumnya, dalam hal ini kemudian disebutkan sebagai bentuk kelisanan kedua. Perbedaan kedua bentuk kelisanan ini dapat dikatakan bahwa budaya lisan yang pertama (primary orality) berbasiskan fisik manusia, sedangkan kelisanan kedua berbasis kepada teknologi. Dalam hal ini, dapat dilihat bahwa perkembangan teknologi komunikasi, khususnya media elektronika memanfaatkan kembali sumber kelisanan sebagai alat penting dalam komunikasi dan penyampaian informasi. Bentuk-bentuk media dalam kelisanan kedua diantaranya adalah radio, televisi, film, dam media elektronika lainnya. Tulisan ini untuk memberikan paparan perbandingan antara budaya tulis yang mewujud pada novel dengan kelisanan kedua yang diwujudkan pada film. Kedua jenis budaya ini digunakan untuk mengkaji novel dan film dengan judul yang sama, yaitu “A Walk To Remember” yang ditulis oleh Nicholas Sparks dalam novelnya tahun 1999 atau pada filmnya dengan sutradara Adam Shankman yang dirilis pada tahun 2002. Berdasarkan indikator karakteristik kedua bentuk budaya tulis maupun kelisanan kedua, telah terjadi pembacaan yang berbeda dari sebuah karya A Walk to Remember. Indikator-indikator yang menunjukkan keberbedaan tersebut adalah sebagai berikut; Subyektifitas/Objektifitas, Situasional/Abstrak dan analitikal, Aggregative/ Stand alone, Collaborative/authoritative knowledge dan Grounded in observable/ transcending barriers of time and place. Dalam hal ini bentuk kelisanan kedua, melalui versi filmnya, telah mampu mengatasi keterbatasan keterlibatan penonton dalam melakukan pembacaan teks karena sifat audio visualnya. Sebaliknya, dalam bentuk karya tulis pada novelnya, tetap memberikan kenikmatan tersendiri bagi pembacanya dalam kebebasan imajinasi dalam pembacaan teks yang dilakukan. Kata kunci: kelisanan kedua, literacy, film, novel, A Walk To Remember.
Perancangan Promosi Desa Budaya Banjarharjo, Kalibawang, Kulonprogo melalui Desain Komunikasi Visual Triwardani, Reny; Ayu Ardhanariswari, Kartika
Nirmana Vol 16, No 1 (2016): JANUARY 2016
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.803 KB) | DOI: 10.9744/nirmana.16.1.40-49

Abstract

Desa budaya adalah bentuk konkrit pelestarian aset budaya. Pada konteks ini, desa budaya mengandung pengertian sebagai wahana sekelompok manusia yang melakukan aktivitas budaya yang mengekspresikan sistem kepercayaan (religi), sistem kesenian, sistem mata pencaharian, sistem teknologi, sistem komunikasi, sistem sosial, dan sistem lingkungan, tata ruang, dan arsitektur dengan mengaktualisasikan kekayaan potensi budayanya dan mengkonservasi kekayaan budaya yang dimilikinya. Desa Banjarharjo merupakan salah satu desa yang ditetapkan sebagai desa budaya dari 32 desa budaya sesuai dengan Keputusan Gubernur nomor 325/KPTS/1995 tanggal 24 November 1995. Sayangnya, penetapan status desa budaya Banjarharjo belum diimbangi dengan upaya-upaya pengenalan potensi budaya yang dimiliki sekaligus memasyarakatkan budaya lokal itu sendiri. Pendekatan desain komunikasi visual menjadi strategi penyampaian pesan yang kreatif dan komunikatif untuk mempromosikan desa budaya Banjarharjo. Berdasarkan analisis SWOT tentang kondisi desa budaya Banjarharjo, media below the line dapat menjadi media komunikasi visual dalam menyosialisasikan desa budaya sekaligus mempromosikan potensi desa budaya yang dimiliki. Strategi kreatif penyampaian pesan melalui desain komunikasi visual tentang desa budaya diharapkan membantu pelaku kebudayaan lokal dan pengelola  desa budaya menggiatkan promosi wisata budaya di desa Banjarharjo. Artikel ini adalah hasil program kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan di desa Banjarharjo, Kalibawang, Kulon Progo
KAJIAN KRITIS PRAKTIK ANAK MENONTON FILM KARTUN DI TELEVISI DALAM AKTIFITAS KESEHARIAN DI BANYUWANGI Triwardani, Reny; Wicandra, Obed Bima
Nirmana Vol 9, No 1 (2007): JANUARY 2007
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/nirmana.9.1.pp. 46-56

Abstract

This research was held in 2006 for six months. It has been done because the audience was considering become the power to determine the Television program strength. As we know the audience has an important position in mediated communication, they are equal with communicator or text. The research of Television audience is to complete the studies about Television; however text will be meaningful if they deliver by the new communicator. Children are the research object in order to know how much Television become a part of daily life, especially Television programmed that broadcast the cartoon. This research involves three children with different social culture as an informant that lives in Banyuwangi. The research focus is analyze the practical of watching television activity of those three children and what kind of matter that negotiate and integrated in their daily life. Abstract in Bahasa Indonesia: Penelitian yang dilakukan pada tahun 2006 selama enam bulan ini dilakukan karena penonton dianggap menjadi kekuatan penentu bagi keberlangsungan suatu program televisi. Seperti kita ketahui bahwa penonton memiliki posisi penting dalam proses komunikasi bermedia (mediated communication) sebanding dengan komunikator maupun teks dan penelitian audiens televisi dilakukan untuk melengkapi kajian tentang televisi, karena bagaimanapun juga pesan (teks) yang disampaikan oleh pembuat pesan (komunikator) baru akan bermakna ketika sampai ke mata penonton. Anak menjadi objek penelitian untuk mengetahui seberapa banyak televisi menjadi bagian dari keseharian hidup mereka, terutama acara televisi yang menayangkan film-film kartun. Dengan menggunakan 3 anak dengan latar belakang sosial dan budaya yang berbeda sebagai informan yang berada di Banyuwangi, fokus perhatian dalam analisis ini adalah praktik menonton program film kartun yang dilakukan ketiga anak tersebut dan hal-hal apa sajakah yang ternegosiasikan di dalam praktik menonton yang terintegrasi dalam keseharian mereka. Kata kunci: audiens, anak, televisi, menonton, film kartun.