Penelitian ini disusun untuk membandingkan tingkat hedonisme antara mahasiswa laki-laki dan perempuan pengguna media sosial TikTok di Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma, sekaligus menandai butir skala yang capaiannya tergolong tinggi sebagai bahan penyusunan topik layanan bimbingan. Pendekatan yang dipakai adalah kuantitatif komparatif dengan teknik purposive sampling terhadap 70 mahasiswa aktif pengguna TikTok, terdiri atas 55 responden perempuan dan 15 responden laki-laki; komposisi ini tidak seimbang dan membatasi daya uji untuk mendeteksi perbedaan berukuran kecil hingga sedang. Pengumpulan data dilakukan melalui skala hedonisme model Likert yang disebarkan secara daring melalui Google Form; dari 54 pernyataan yang diujicobakan pada sampel yang sama dengan sampel pengujian hipotesis, 49 di antaranya dinyatakan valid dengan koefisien Cronbach's Alpha 0,977. Oleh karena sebaran data pada kelompok perempuan tidak memenuhi asumsi normalitas, pengujian hipotesis utama menggunakan uji nonparametrik Mann-Whitney U yang membandingkan distribusi/peringkat skor kedua kelompok; uji Welch t-test disertakan hanya sebagai pembanding deskriptif, bukan sebagai dasar pengambilan keputusan. Hasil analisis tidak menemukan bukti statistik yang memadai mengenai perbedaan tingkat hedonisme antara kedua kelompok (Mann-Whitney U = 355; z = -0,82; p = 0,414; rank-biserial r = 0,14), dengan rerata skor mahasiswi sebesar 87,42 (SD = 23,65; median = 85,0) dan mahasiswa sebesar 99,13 (SD = 37,68; median = 104,0), keduanya berada pada kategori rendah. Estimasi Hodges-Lehmann atas selisih median antarkelompok adalah -8,0 dengan interval kepercayaan 95% [-33; 10] yang mencakup nol, sehingga selisih tersebut tidak dapat dipastikan berbeda dari nol secara statistik. Temuan ini tetap perlu dimaknai secara hati-hati mengingat kecilnya jumlah sampel laki-laki (n = 15), sehingga tidak dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok benar-benar setara. Dua butir pernyataan yang berkaitan dengan sikap terhadap tren yang sedang berkembang dan kecenderungan mengikuti tren fesyen berada pada kategori tinggi dan diusulkan sebagai indikasi awal kebutuhan topik bimbingan seputar literasi digital dan pengelolaan keuangan mahasiswa, yang perlu dikonfirmasi melalui asesmen kebutuhan layanan lebih lanjut.