Peta evakuasi merupakan salah satu syarat untuk memenuhi standar nasional indonesia untuk bengunan bertingkat yang ditetapkan oleh pemerintah. Peta evakuasi sangat penting bagi setiap gedung bertingkat. Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma belum memiliki peta evakuasi. Hal tersebut mendorong pihak universitas untuk memiliki peta evakuasi yang memenuhi standar akreditasi bangunan betingkat dan pedoman saat terjadi bencana (gempa bumi, kebakaran dll). Dengan menggunakan metode Algoritma Djikstra , menyediakan dasar untuk algoritma yang paling efisien untuk memecahkan masalah penentuan jalur terpendek. Kebanyakan perbaikan komputasi untuk memecahkan masalah jalur terpendek telah dihasilkan dari peningkatan struktur data yang digunakan untuk mengimplementasikan algoritma Djikstra ini. Perbandingan dari Perancangan Assembly Point 1 dengan Assembly Point 2 adalah sebagai berikut : Assembly Point 1 dengan total jarak 559,92 m, tempatnya lebih dekat dengan jalan keluar kampus, sudah masuk ke jalan besar sehingga proses evakuasi lebih cepat. Assembly Point 2 dengan total jarak 688,38 m lebih jauh jaraknya dengan jalar keluar,sehingga proses evakuasi lebih lama. Perhitungan untuk proses evakuasi harus menempuh jarak yang lebih jauh untuk ke Assembly Point 2 sedangkan untuk Assembly Point 1 lebih dekat. Dengan demikian alternatif untuk Assmbly Point adalah menggunakan Assembly point 1 yaitu tempat parkir di bagian depan kampus A Universitas Suryadarma. Perancangan jalur penunjuk arah jalur evakuasi pemasangan Display untuk Assembly Point juga akan sangat membantu pada proses evakuasi , sehingga para pengguna gedung tidak kebingungan bila ada bencana, dan untuk proses evakuasi menjadi lebih mudah. Kata kunci : Jalur Evakuasi, Assembly point