Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

INVENTARISASI, KARAKTERISASI DAN KOLEKSI INSITU MULIENG GAJAH (Gnetum gnemon spp) DAN MULIENG PADEE DI KABUPATEN PIDIE Chairunas Chairunas; Didi Darmadi; Iskandar Mirza
Prosiding Seminar Nasional Biotik Vol 3, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOTIK III 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biotik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.301 KB) | DOI: 10.3126/pbio.v3i1.2628

Abstract

Kegiatan inventarisasi dilakukan pada pertengahan tahun 2014 di Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie. Mulieng adalah bahasa Aceh, dalam bahasa Indonesia artinya Melinjo (Gnetum gnemon spp) memiliki 2 aksesi yaitu Mulieng Gajah dan Mulieng Padee. Perbedaan utama tampak jelas pada ukuran buah yang besar pada Mulieng Gajah dan ukuran buah yang kecil pada Mulieng Padee. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data potensi kekayaan sumber daya genetik (SDG) tumbuhan lokal di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Metodologi penelitian antara lain eksplorasi, inventarisasi, karakterisasi, koleksi insitu. Hasil karakterisasi tersebut dikoleksi dan data yang dihasilkan disimpan dalam database dan dapat digunakan dalam bank data pemuliaan varietas. Data hasil karakterisasi dikirim dan dikoleksi di Balai Besar Bioteknologi Pertanian, Bogor. Varietas Mulieng Gajah saat ini masih dibudidayakan pada perkebunan rakyat dan halaman rumah, masyarakat di Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie. Akan tetapi Mulieng Padee jarang dibudidayakan di perkebunan rakyat hanya sebagian kecil populasi di halaman rumah. Menurut petani hal ini terjadi karena Mulieng Padee digunakan hanya untuk konsumsi sendiri sedangkan Mulieng Gajah dibudidayakan banyak karena untuk komersil. Selain itu dalam pengerjaannya untuk pembuatan emping, buah Mulieng Gajah yang besar memudahkan dalam pengerjaannya. Hasil karakterisasi yang dilakukan menunjukkan perbedaan morfologi selain buah adalah panjang daun, bobot 1000 biji. Varietas Mulieng Gajah dan Mulieng dikoleksi secara insitu di Desa Ujung Rimba, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie. Tanaman induk berumur > 30tahun dan tinggi 8 – 10 meter. Pembibitan juga dilakukan untuk meremajakan tanaman Melinjo yang telah berumur lebih dari 30 tahun atau tanaman yang kurang produktif akibat terserang hama atau penyakit.
EKSPLORASI DAN INVENTARISASI PADI LOKAL SIGUPAI: AROMATIK PANDAN, RASA NASI PULEN, EFISIENSI PUPUK, BERUMUR SEDANG, DISUKAI PETANI DAN PEDAGANG Didi Darmadi; Iskandar Mirza
Prosiding Seminar Nasional Biotik Vol 3, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOTIK III 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biotik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.284 KB) | DOI: 10.3126/pbio.v3i1.2623

Abstract

Eksplorasi dilakukan sejak tahun 2013 sampai 2014 di Desa Kepala Bandar, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya. Tanaman padi Sigupai merupakan ikon kabupaten Aceh Barat Daya yang dikenal dengan sebutan bumi breuh Sigupai (bumi tempat tumbuhnya beras Sigupai). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data potensi kekayaan sumber daya genetik (SDG) tumbuhan lokal di Provinsi Aceh. Metodologi penelitian antara lain eksplorasi, inventarisasi, karakterisasi, koleksi insitu. Hasil karakterisasi tersebut dikoleksi dan data yang dihasilkan disimpan dalam database dan dapat digunakan dalam bank data pemuliaan varietas. Data hasil karakterisasi dikirim dan dikoleksi di Balai Besar Bioteknologi Pertanian, Bogor. Tanaman padi Sigupai ini sudah sangat jarang diusahakan lagi di Kabupaten Aceh Barat Daya. Hal ini disebabkan umur padi yang relatif lama pada saat diusahakan secara gogo. Dari hasil percobaan yang dilakukan oleh petani pelestari yang didampingi oleh penyuluh dan Dinas setempat, penanaman Sigupai pada lahan sawah menunjukkan umur panen yang lebih cepat yaitu ± 125 HSS (hari setelah semai) dengan menggunakan 2 (dua) metode yaitu tanam benih langsung (tabela) dan tanam bibit muda umur 7 – 12 HSS. Hasil yang didapat umur panen tidak jauh berbeda berkisar 124 – 129 HSS. Perbedaan umur ini bisa disebabkan varietas lokal Sigupai ini belum dilakukan pemurnian varietas sehingga keragaman genetik masih tinggi. Selain umur panen perbedaan yang terjadi pada tinggi tanaman, umur berbunga, panjang malai dan jumlah gabah per malai. Umur varietas Sigupai yang terlalu panjang masih termasuk kategori sedang menjadikan varietas ini memiliki peluang untuk dilestarikan dan dikembangkan di masyarakat petani kembali khususnya petani di Kabupaten Aceh Barat Daya.
EKSPLORASI, INVENTARISASI, KOLEKSI DAN PEMANFAATAN PADI GOGO LOKAL VARIETAS TANGSE DI KABUPATEN PIDIE Iskandar Mirza; Didi Darmadi
Prosiding Seminar Nasional Biotik Vol 3, No 1 (2015): PROSIDING SEMINAR NASIONAL BIOTIK III 2015
Publisher : Prosiding Seminar Nasional Biotik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.805 KB) | DOI: 10.3126/pbio.v3i1.2627

Abstract

Kegiatan eksplorasi dan inventarisasi dilakukan pada awal tahun 2014 di Desa Manee, Kabupaten Pidie. Varietas Tangse dikenal juga dengan sebutan padi “Si Cantik Manis” oleh petani. Keunggulan varietas ini adalah rasa nasi yang pulen, lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit (testimoni petani pelestari belum dibuktikan secara ilmiah) karena mudah dalam pemeliharaan dan tanaman jarang terserang penyakit kecuali keong dan burung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengumpulkan data potensi kekayaan sumber daya genetik (SDG) tumbuhan padi lokal di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Metodologi penelitian antara lain eksplorasi, inventarisasi, karakterisasi, koleksi insitu. Hasil karakterisasi tersebut dikoleksi dan data yang dihasilkan disimpan dalam database dan dapat digunakan dalam bank data pemuliaan varietas. Data hasil karakterisasi dikirim dan dikoleksi di Balai Besar Bioteknologi Pertanian, Bogor. Tanaman padi Tangse saat ini sudah sangat jarang dibudidayakan lagi di Kabupaten Pidie bahkan di Desa Manee yang dulunya pusat penanaman padi Tangse. Varietas padi Tangse memiliki 2 jenis aksesi yang berbeda secara morfologi yaitu perbedaan pada tinggi tanaman, jumlah anakan, panjang daun, panjang malai, warna batang, warna gabah dan jumlah gabah per malai. Perbedaan umur berbunga, umur panen, tinggi tanaman masih bervariasi di dalam masing-masing aksesi, hal ini disebabkan varietas lokal Tangse ini belum dilakukan pemurnian varietas sehingga keragaman genetik masih tinggi. Umur varietas Tangse yang tidak terlalu panjang berkisar 97-130 HST (hari setelah tanam) dengan umur bibit rata-rata 20 – 25 HSS (hari setelah semai). Varietas Tangse ini masih termasuk kategori berumur sedang sehingga menjadikan varietas ini memiliki peluang untuk dilestarikan dan dikembangkan di masyarakat petani kembali.