Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Meningkatkan Hasil Belajar Dan Keterampilan Berfikir Tingkat Tinggi (HOTS) Siswa Kelas VIII MTsN 1 Hulu Sungai Utara Tentang Haji Dan Umrah Menggunakan Model Pembelajaran Discovery Learning Mujiburrahman
Jurnal Pendidikan Hayati Vol 6 No 2
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.08 KB) | DOI: 10.33654/jph.v6i2.1128

Abstract

Faktor Utama dalam menentukan berhasil atau tidaknya suatu pembelajaran adalah bagaimana cara guru dalam menyampaikan materi. Itulah sebabnya peningkatan sumber daya manusia yang dihasilkan dari pendidikan selalu bermuara pada faktor guru. Berdasarkan dengan hasil evaluasi dan pengamatan yang telah dilaksanakan pada mata pelajaran fiqih, siswa yang berhasil mencapai tingkat penguasaan materi sebesar 38,1% atau hanya 8 orang siswa, sedangkan 13 orang siswa lainya (61,9%masih dibawah KKM mata pelajaran yang ditentukan. Usaha untuk meningkatkan hasil belajar fiqih di madrasah merupakan kegiatan yang berkelanjutan dan melibatkan semua unsur yang ada di madrasah baik guru, siswa maupun sumber melalui penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model pembelajaran Discovery learning. Desain, prosedur perbaikan pembelajaran ini adalah penelitian tindakan kelas yang direncanakan 2 siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Dengan meningkatkan kemampuan mengajar, guru mampu meningkatkan hasil belajar siswa, dari hasil perbaikan yang dilakukan terlihat pada siklus kedua hasil belajar siswa lebih meningkat. Terdapat peningkatan aktifitas siswa dan keterampilan guru dalam mengelola proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning, hal ini tergambar pada hasil belajar siswa pada siklus I hasil belajar siswa dengan nilai rata-rata 74,76 dengan persentasi ketuntasan secara klasikal yaitu 71,43% . Tentu saja dengan kondisi seperti ini menuntut guru untuk melakukan perbaikan pada siklus II. Setelah melakukan perbaikan pada siklus II maka diperoleh nilai hasil belajar mencapai rata-rata kelas 89,04 dengan persentasi ketuntasan secara klasikal 100%.
MENINGKATKAN INTELEGENSI INTERPERSONAL (SOSIAL) DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII MTsN 1 HULU SUNGAI UTARA MATERI ZAKAT MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR AND SHARE Mujiburrahman
Jurnal Pendidikan Hayati Vol 7 No 4
Publisher : STKIP PGRI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.724 KB)

Abstract

Mengajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan untuk mengarahkan anak didik menuju kearah kedewasaan. Dewasa yang dimaksud tidak hanya dewasa secara intelektual tapi juga dewasa secara keterampilan dan sosial. Faktor utama yang menentukan berhasil atau tidaknya suatu pembelajaran adalah bagaimana cara guru menyampaikan materi pembelajaran. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilaksanakan pada MTsN 1 Hulu Sungai Utara mata pelajaran fiqih pada aspek intelegensi interpersonal masih berada pada persentase 78,83% dan untuk hasil belajar ketuntasannya hanya 73,33%. Usaha untuk meningkatkan hasil belajar fiqih di madrasah merupakan kegiatan yang terencana dan berkelanjutan dan melibatkan semua unsur yang ada di madrasah baik guru, siswa maupun sumber melalui penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair and share. Prosedur perbaikan pembelajaran ini adalah penelitian tindakan kelas yang direncanakan 2 siklus, setiap siklus ada 4 tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Dengan meningkatkan kemampuan mengajar, guru mampu meningkatkan intelegensi interpersonal siswa, dari hasil perbaikan yang dilakukan terlihat pada siklus kedua hasil intelegensi interpersonal siswa lebih meningkat. Terdapat peningkatan intelegensi interpersonal siswa dan keterampilan guru dalam mengelola proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe think pair and share, hal ini terlihat pada siklus I pertemuan 1 intelegensi interpersonal siswa dengan persentase 78,83% dan pertemuan 2 dengan persentase 81,17%. Setelah guru melakukan perbaikan maka terlihat pada siklus II meningkat, pada pertemuan 1 dengan persentase 82,33% dan pertemuan 2 meningkat menjadi 85,67%.