Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Manifestasi Klinis Okular dan Orbital pada Penyakit Sinus Paranasal dan Manajemennya di RS Dr. M. Djamil Padang Muhammad Syauqie; Ardizal Rahman
Majalah Oftalmologi Indonesia Vol 45 No 2 (2019): Ophthalmologica Indonesiana
Publisher : The Indonesian Ophthalmologists Association (IOA, Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami))

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35749/journal.v45i2.190

Abstract

Latar belakang : Hubungan yang erat antara penyakit sinus paranasal dan orbita disebabkan karena letaknya yang berbatasan secara anatomis. Sekitar 60% hingga 80% dari dinding orbita tersusun dari dinding sinus paranasal. Pasien dengan penyakit sinus paranasal dapat memperlihatkan gejala okular yang lebih menonjol tanpa disertai gejalai rhinologik yang nyata. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan gejala okular yang khas pada pasien dengan penyakit sinus paranasal menurut etiologi yang mendasarinya. Metode : Penelitian retrospektif dari rekam medis dari bulan Januari 2008 - Desember 2017. Data yang dikumpulkan berupa umur, jenis kelamin, diagnosa penyakit sinus paranasal, sinus yang terlibat, ada tidaknya invasi orbita dan gejala klinis okular. Hasil : Terdapat 55 pasien yang berobat ke poliklinik rawat jalan bagian oftalmologi RSUP Dr. M. Djamil Padang selama periode tahun 2008-2017, baik datang secara langsung atau dikonsulkan dari bagian THT-KL, dengan kecurigaan invasi orbita akibat penyakit sinus paranasal, yang terdiri dari 34 (61.8%) laki-laki dan 21 (38.2%) perempuan. Usia pasien bervariasi dari umur 4 tahun hingga 83 tahun, dengan kelompok umur terbanyak antara umur 51 hingga 60 tahun. Invasi orbita terjadi pada 45 pasien (81.8%) dan disebabkan oleh tumor sinonasal pada 35 pasien (77.7%), oleh infeksi sinus pada 8 pasien (17.7%) dan oleh mukokel pada 2 pasien (4.6%). Tumor sinonasal merupakan penyakit sinus paranasal terbanyak yaitu pada 43 pasien (78.2%) dan sinus maksilaris merupakan sinus yang terbanyak terlibat. Mayoritas pasien (67.7%) datang dengan presentasi klinis proptosis, diikuti dengan oftalmoplegia (54.8%) dan penurunan visus (43.5%). Kesimpulan: Tumor sinonasal merupakan etiologi terbanyak abnormalitas orbita akibat invasi penyakit sinus paranasal dan sinus maksilaris merupakan sinus yang terbanyak terlibat. Proptosis merupakan manifestasi klinis okular terbanyak sebagai komplikasi orbita yang disebabkan penyakit sinus paranasal. Proptosis bersifat nonaksial dan arah proptosis berlawanan dengan letak sinus yang terlibat
The Clinical Spectrum and Management Patterns of Orbital Meningioma: A 6-Year Single-Institution Case Series from Indonesia Anggia Dwi Kora; Mardijas Effendi; Ardizal Rahman
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 10 No. 1 (2026): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v10i1.1482

Abstract

Background: Orbital meningiomas (OMs) are rare, complex tumors whose clinical course and management are debated. Data from Southeast Asian populations, particularly Indonesia, is scarce. This study aims to define the clinical spectrum, radiological features, and management trends of OMs at a single Indonesian tertiary referral center, with a focus on hormonal factors in a predominantly female cohort. Methods: A retrospective, descriptive case series was conducted on all patients diagnosed with orbital meningioma at Dr. M. Djamil General Hospital, Padang, Indonesia, from January 2018 to December 2023. Data on demographics, detailed clinical presentation (visual acuity, proptosis, extraocular movement), radiological findings (location, size, hyperostosis), and hormonal risk factors were collected. Management strategies, histopathological results (WHO grade), and follow-up outcomes were analyzed. Results: Twenty patients were included, with a significant female predominance (n=16, 80%; F:M ratio 4:1). The median age at diagnosis was 47 years (range 28-71). A strong association with hormonal factors was noted; 50% (8/16) of female patients had a history of exogenous hormonal contraceptive use. The most common presenting symptoms were progressive proptosis (n=15, 75%) and visual loss (n=12, 60%). The mean proptosis was 5.5 ± 2.1 mm. The most frequent tumor location was retrobulbar (intraconal) (n=11, 55%), followed by optic nerve sheath (n=5, 25%). A multidisciplinary, conservative-led approach was the primary management strategy, with 75% (n=15) of patients managed with active observation and neurosurgical consultation. Surgical intervention was performed in 25% (n=5) of cases, primarily for severe symptoms or aggressive radiological features. Histopathology (n=5) confirmed WHO Grade I in four cases (80%) and WHO Grade II (atypical) in one case (20%). Conclusion: Orbital meningiomas in this Indonesian cohort demonstrate a striking female predominance and a strong association with hormonal contraceptive use, suggesting a significant role for hormonal pathways in their pathophysiology. The management paradigm has shifted towards a multidisciplinary, observation-first approach, reserving surgical intervention for cases with documented progression, severe vision loss, or high-grade pathological features.