Gatot Wibowo
Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten Jawa Tengah

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA MINAT BELAJAR DAN INTENSITAS BELAJAR SISWA DENGAN PRESTASI BELAJAR AGAMA HINDU SISWA PASRAMAN SATYA DHARMA DI TAHUN PELAJARAN 2019/2020 Rahayu Fitriyani; I Nyoman Santiawan; Gatot Wibowo
Jawa Dwipa Vol. 1 No. 1 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.396 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi yang signifikan antara (1) minat belajar dengan prestasi belajar agama hindu siswa pasraman satya dharma di Gunungkidul tahun pelajaran 2019/2020, (2) intensitas belajar dengan prestasi belajar agama hindu siswa pasraman satya dharma di Gunungkidul tahun pelajaran 2019/2020 dan (3) minat belajar dan intensitas belajar dengan prestasi belajar agama hindu siswa pasraman satya dharma di Gunungkidul tahun pelajaran 2019/2020. Penelitian ini dilakukan terhadap siswa kelas V sampai dengan XII Pasraman di Gunungkidul sejumlah 64 siswa. Variabel penelitian terdiri atas minat belajar dan intensitas belajar sebagai variabel bebas. Sedangkan prestasi belajar agama hindu siswa sebagai variabel terikat. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah metode angket dan dokumentasi. Adapun uji prasyarat yang dilakukan adalah uji normalitas, uji linieritas dan keberartian regresi. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis korelasi sederhana dan korelasi ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan: (1) ada hubungan yang positif dan signifikan antara minat belajar dengan prestasi belajar agama hindu yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar = 0,640, dengan persamaan garis regresi sederhana (2) ada hubungan yang positif dan signifikan antara intensitas belajar dengan prestasi belajar agama hindu yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar = 0,544, dengan persamaan garis regresi sederhana (3) ada hubungan yang positif dan signifikan antara minat belajar dan intensitas belajar dengan prestasi belajar agama hindu yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar = 0,669, dengan persamaan garis regresi ganda . disimpulkan bahwa memang terdapat hubungan positif dan signifikan antara minat belajar dan intensitas belajar dengan prestasi belajar agama hindu siswa. Hal ini juga sesuai dengan kerangka berfikir yang mengatakan bahwa semakin baik minat belajar dan intensitas belajar yang dimiliki siswa maka semakin baik pula prestasi belajar agama hindu siswa, sebaliknya semakin buruk minat belajar dan intensitas belajar siswa semakin rendah pula prestasi belajar agama hindu siswa.
PENGARUH AJARAN TRI GUNA DALAM MENINGKATKAN BUDHI PEKERTI ANAK DI TK SARI MEKAR BANGUNTAPAN BANTUL YOGYAKARTA Mujirah; Gatot Wibowo; I Nyoman Santiawan
Jawa Dwipa Vol. 2 No. 1 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.384 KB) | DOI: 10.54714/jd.v2i1.36

Abstract

Pengaruh Ajaran Tri Guna Dalam Pendidikan Budhi Pekerti Anak Di TK Sari Mekar Banguntapan Bantul Yogyakarta, Dalam mencapai pendidikan Budhi pekerti di dalam ajarangama Hindu terdapat tiga sifat yang mempengaruhi pikiran manusia yang disebut Tri Guna yaitu sifat alami yang dibawa sejak lahir yaitu sattwam, rajas, tamas. Tiga sifat yang disebut Tri Guna tersebut saling memberi pengaruh terhadap pikiran (citta) anak dalam membentuk budhi pekerti sebagai sebuah perilaku. Anak yang memiliki sifat sattwam memiliki sifat tenang, suci, bijaksana, cerdas, cenderung memiliki perilaku kebaikan, anak yang memiliki sifat rajas memiliki sifat lincah, gesit, tergesa-gesa, bernafsu, cenderung memiliki sifat mudah marah, selalu gelisah susah mengontrol emosinya, anak yang memiliki sifat tamas memiliki sifat tamak, malas, cenderung kurang aktif dan lamban. Pengaruh ajaran Tri Guna dalam mencapai keseimbangan ketiganya dalam membentuk perilaku yang berbudhi luhur pada anak dengan mengatasi sifat rajas dan tamas melalui peningkatan sifat sattwam menerapkan doa sehari-hari yang merujuk kepada ajaran suci weda dan mengatasi sifat rajas melalui ajaran tattwam asi, Tri kaya parisudha dan catur paramita. Sifat tamas dapat dicapai dengan melatih berjapa berulang-ulang dan penanaman Tri hita karana. Untuk menyeimbangkan sifat rajas, rajas dam meningkatkan sifat tamas dalam meningkatkan budhi pekerti dengan melakukan yoga asanas di sekolah yang melatih anak untuk, menghapal dan mengucapkan puja yoga : mantra gayatri, mantra guru, maha mrtyunjaya mantra, Pranayama (pernapasan), Pawanamuktasana (peregangan), asanas, Surya namaskar, Candra namaskar, relaksasi, pengurutan dan doa penutup.Beberapa manfaat yoga asanas diberikan kepada anak untuk menyeimbangkan kecenderungan tiga sifat (Tri guna) yang mempengaruhi pikiran (citta) sehingga akan membentuk budhi pekerti yaitu : Anak yang memiliki kecenderungan sifat sattwam akan dapat : Membangun pondasi tentang ajaran Weda, membuat anak memiliki kehidupan spiritual yang kuat sesuai dengan falsafah yoga yaitu mengutamakan hubungan dengan Tuhan, alam dan menjaga keseimbangan. Anak yang memilki kecenderungan sifat rajas akan dapat : Melatih anak lebih mengenal diri dan mampu mengendalikan emosinya dengan baik. Meningkatkan ketenangan dan mengurangi ketegangan pada dirinya, Meningkatkan kelententuran, kekuatan, fleksibilitas, koordinasi dan kesadaran tubuh, Anak yang memiki kecenderungan sifat tamas akan dapat : Meningkatkan kepercayaan diri anak, Membangkitkan sifat lamban anak untuk lebih aktif.
UPAYA GURU PASRAMAN DALAM MELATIH SATWIKA YADNYA PADA SISWA PASRAMAN DI PASRAMAN BRAHMA GOVINDA DESA SREBEGAN KECAMATAN CEPER KABUPATEN KLATEN Putri Kenanga; I Nyoman Santiawan; Gatot Wibowo
Widya Aksara : Jurnal Agama Hindu Vol 28 No 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/widyaaksara.v28i1.208

Abstract

Penelitian Upaya Guru dalam Melatih Satwika Yadnya pada Siswa Pasraman di Pasraman Brahma Govinda Desa Srebegan Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten ini, dilatar belakangi dari ketertarikan peneliti terhadap Satwika Yadnya upaya guru dalam melatih Satwika Yadnya pada siswa pasraman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: Bagaimana upaya guru dalam melatih Satwika Yadnya di pasraman; Apa faktor pendukung dan faktor penghambat dalam upaya guru dalam melatih Satwika Yadnya di Pasraman Brahma Govinda Desa Srebegan Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten; Apa Hasil dari Upaya Guru dalam melatih Satwika Yadnya pada siswa pasraman di Pasraman Brahma Govinda Desa Srebegan Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Data yang diperoleh dari hasil penelitian menggunakan metode pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan: Upaya guru dalam melatih Satwika Yadnya di pasraman itu melalui pembiasan, mengajarkan tentang berdana punia, bersembahyang sebelum memulai kegiatan; faktor pendukung dan penghambat guru dalam melatih Satwika Yadnya di pasraman yaitu faktor pendukungnya sendiri itu guru harus sabar dan tidak terbebani, sarana dan prasarana yang mendukung dan faktor penghambatnya yaitu guru harus memahami sifat dan karakter siswa pasraman yang berbeda-beda; dan Hasil dari Upaya Guru dalam melatih Satwika Yadnya pada siswa Pasraman di Pasraman Brahma Govinda adalah siswa sudah bisa berdana punia, melakukan sembahyang sebelum memulai kegiatan.
PRAGMATISME DAN EKSISTENSIALISME (Perspektif Filsafat Pendidikan) Gatot Wibowo
Jawa Dwipa Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/jd.v4i1.65

Abstract

Pragmatisme sebagai aliran filsafat dikembangkan pertama kali di Amerika. Filsuf pertama yang memperkenalkan dan mengembangkan pemikiran pragmatisme adalah Charles S. Peirce yang menekankan tentang aktifitas dan tujuan manusia dalam memperoleh pengertian dan pengetahuan. Pemikir Amerika yang sangat lekat dengan filsafat pendidikan pragmatisme adalah John Dewey. Pragmatisme sebagai aliran filsafat dapat dipahami secara metafisis, epistemologis dan aksiologis.Filsafat eksistensialisme, yakni filsafat dengan pemikiran utamanya adalah “eksistensi mendahului esensi” bahwa manusia eksis/ada terlebih dahulu, kemudian dalam kehidupan dia memberi makna/esensi atas kehidupannya dengan fokus pada pengalaman individual. Eksistensialisme memberi individu suatu jalan berpikir mengenai kehidupan, apa maknanya bagi saya, apa yang benar untuk saya. Epistomologi eksistensialis menganggap bahwa individu bertanggung jawab akan pengetahuannya sendiri. Sumber pengetahuan yang utama adalah pengalaman pribadi. Guru yang ideal menurut eksistensialis adalah guru yang memberikan kebebasan ruang dialog bagi siswa untuk menemukan makna dirinya. Siswa mendapat kesempatan yang luas untuk mempelajari sesuatu yang menjadi minatnya, sehingga bisa menemukan jatidirinya. Metode pembelajaran yang tepat menurut eksistensialis adalah dialog, main peran, dan metode lain yang memberi kebebasan bagi siswa untuk bereksplorasi memaknai dirinya. Karena tugas pendidikan yang utama adalah merangsang setiap manusia agar tersadar bahwa dia sendirilah yang memiliki tanggung jawab untuk menciptakan makna dan definisi dirinya sendiri.