p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jawa Dwipa
Agus Riyadi
Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten Jawa Tengah

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FUNGSI TAPA PEPE DALAM TRADISI HINDU JAWA Arya Pradhana; Dewi Ayu Wisnu Wardani; Agus Riyadi
Jawa Dwipa Vol. 2 No. 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.778 KB) | DOI: 10.54714/jd.v2i2.44

Abstract

Tapa Pepe merupakan sebuah metode penyatuan antara Atman dengan Brahman melalui metode meditasi dengan memusatkan kepada sumber matahari. Tapa Pepe memfokuskan konsentrasinya pada “Sapta Cakra” yang ada dalam tubuh manusia. Untuk mengaktifkan cakra-cakra tersebut dengan tujuan mendekatkan diri dengan Tuhan. Ketika cakra-cakra dalam tubuh manusia terbuka, maka manusia akan banyak mendapatkan manfaat baik secara medis dan non medis, sekala dan niskala. Tapa Pepe merupakan tradisi Hindu yang telah dilaksanakan para leluhur pendahulu kita di tanah Jawa sebagai cara mendekatkan diri dalam proses menyatu dengan alam yang tiada lain adalah Tuhan itu sendiri sesuai dengan tujuan agama Hindu yaitu “mokshartam jagadhita ya ca iti dharma” dimana proses penyatuan diri seseorang melalui laku tertentu ibarat seperti seseorang melaksanakan laku upawasa (puasa) yang juga secara otomatis juga menyucikan dirinya sebagai jalan kepada Tuhan. Ritual Tapa Pepe yang dilakukan oleh Umat Hindu Jawa di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta tidak jauh berbeda dengan ritual tapa pepe dibeberapa tempat. Perbedaanya adalah tempat pelaksanaannya dimana pada umumnya dilakukan di tempat terbuka, halaman rumah dan lain-lain. Berbeda dengan Tapa Pepe yang berada di Pura Mandira Seta dilakukan di dalam areal pura, dimana laku tapa pepe ini dilakukan di pelataran mandala tengah pura atau madya mandala, tepatnya di pelataran Arca Bhatari Dhurga Mahisasura Mardini. Tujuan dari Tapa Pepe di Pura Mandira Seta yaitu menyatukan Atman dengan Brahman yang berada dalam diri melalui metode menatap matahari sebagai sarana konsentrasinya. Konsentrasi pada Tapa Pepe atau Yoga Matahari berpusat pada cakra-cakra yang ada dalam tubuh. Tujuh cakra itu yaitu : Cakra Sahasrara (Cakra Mahkota), Ajna Cakra (Cakra Mata Ketiga/kening), Wisudha Cakra (Cakra Tenggorokan), Anahata Cakra (Cakra Jantung), Manipura Cakra (Cakra Pusar), Swadistana Cakra (Cakra Kelamin), Muladara Cakra (Cakra Tulang Ekor). Ketika cakra-cakra itu aktif, maka seseorang yang melakukan Tapa Pepe akan mendapatkan banyak manfaat seperti tidak mudah sakit karena menyerap energi matahari terbukti sekarang dilakukan banyak orang dimasa pendemi covid 19 ini.
TARI REJANG DEWA DALAM PERSPEKTIF TRI HITA KARANA SEBAGAI MEDIA PENANAMAN PENDIDIKAN KARAKTER ANAK USIA DINI Ni Luh Putu Wiardani Astuti; Agus Riyadi; Agung Tri Nugroho
Jawa Dwipa Vol. 3 No. 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/jd.v3i2.56

Abstract

Tari Rejang Dewa merupakan tari wanita yang berfungsi sebagai pembawa sesaji untuk para leluhur dan para Dewa. Menurut tradisi Bali, para penari Rejang Dewa harus gadis yang belum menikah, gerak-gerak tarinya sangat sederhana, lemah gemulai, yang dapat dilakukan secara berkelompok atau masal, dan penuh dengan rasa pengabdian kepada leluhur dan para Dewa. Tari Rejang Dewa merupakan salah satu tarian upacara yang dikenal oleh kalangan masyarakat Bali yang biasa digunakan pada upacara piodalan. Pendidikan bukan sekedar konsumsi ilmu tetapi juga merupakan investasi produktif dalam masyarakat. Proses pendidikan sejatinya merupakan proses pembudayaan, sehingga pendidikan adalah perjalanan menuju proses pembiasaan. Akan tetapi, sering sekali terdapat kesalahan yang menganalogikan bahwa pendidikan hanya sebatas proses transfer ilmu. Bahkan secara sempit, pendidikan hanya dimaknai secara sempit sebatas pendidikan formal yang terikat oleh institusi resmi. Proses pendidikan yang dirasa mampu menjawab kebutuhan pasar, yakni konsep ‘kolaborasi’ antara pendidikan formal dengan pendidikan non-formal yang merupakan ‘penggalian’ potensi melalui aktualisasi diri. Sinergisitas antara pendidikan formal dan non formal dapat menjadi media dalam pemetaan potensi diri. Dengan demikian sinergisitas keduanya mampu memunculkan keselarasan ‘balancing’ dalam diri pribadi. Pendidikan non formal yang menjadi dasar dalam pendidikan karakter yaitu pelatihan tari Rejang Dewa pada anak usia dini. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan makna, fungsi, dan media pendidikan yang menjadi acuan nilai-nilai pendidikan karakter dikarenakan di dalamnya terdapat berbagai pesan moral, gagasan yang terkonsep pada Tri Hita Karana.