Sabda Ningsih
Airlangga University

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sektor Privat sebagai Otoritas Moral Alasan dibalik Kepatuhan PBSI terhadap Peraturan Anti – Doping WADA Sabda Ningsih
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 15 No. 1 (2022): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v15i1.33766

Abstract

Tulisan ini meneliti terkait kontrol anti – doping WADA dan alasan PBSI patuh terhadap kode anti – doping WADA. WADA sebagai NGO yang mengontrol norma anti – doping dalam olahraga seharusnya memiliki akuntabilitas yang lemah dalam menundukkan negara kecuali adanya kepentingan yang ditawarkan. Oleh karenanya, WADA sebagai NGO memberikan penawaran menarik kepada negara dan lembaga olahraga. Ini berkaitan dengan komersialisme olahraga dan globalisasi. Komersialisme olahrga sendiri merupakan strategi yang sengaja diformulasikan WADA agar negara beserta lembaga olahraga tertarik untuk berada dibawah kontrol anti – doping WADA sebagai NGO. Selanjutnya, globalisasi mendorong negara untuk masuk dalam permainan olaharaga demi menunjukkan eksistensinya sebagai sebuah negara. Maka temuan dalam tulisan ini menyatakan bahwa, kepentingan PBSI sebagai alasan untuk tunduk kepada anti – doping WADA dilandasi pada adanya komersialisme olahraga seperti mengejar sponsorship dan bonus dari pertandingan yang diberikan lembaga penyelenggara. Mengingat sponsor dan bonus dari turnamen bisa didapatkan dengan keaktifan PBSI mengirimkan perwakilannya di turnamen dan untuk mengikuti turnamen harus mematuhi WADA yang menaungi organisasi penyelenggara olahraga. Patuhnya PBSI juga difaktori citra bersih dari doping agar mereka tidak terbuang dari pergaulan olahraga dan menjagta reputasi bulutangkis Indonesia yang telah dibangun oleh generasi PBSI sebelum adanya WADA.
ORGANISASI KERJA SAMA ISLAM (OKI) SEBAGAI ENTITAS KOSMOPOLITAN DEMOKRATIK: ANALISIS DINAMIKA INTERNAL DAN TANTANGAN STRUKTURAL Sabda Ningsih
Indonesian Journal of International Relations Vol 9 No 2 (2025): INDONESIAN JOURNAL OF INTERNATIONAL RELATIONS
Publisher : Indonesian Association for International Relations

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32787/ijir.v9i2.682

Abstract

This study analyzes the internal dynamics and structural challenges faced by the Organization of Islamic Cooperation (OIC) in realizing a democratic cosmopolitan entity, addressing a literature gap regarding its democratic practices. Employing the concept of democratic cosmopolitanism with indicators of inter-state equality, cultural hybridity, and individual Human Rights (HR) implementation, this qualitative descriptive-analytical research utilizes document analysis. Findings reveal that the OIC grapples with inter-state inequality due to political hegemony, and while efforts for cultural hybridity exist, internal sectarian diversity remains largely unintegrated. Individual HR implementation is selective, with political participation often restricted despite some progress in social and cultural HR. In conclusion, the OIC demonstrates selectivity in adopting democratic elements, showing cautious openness in economic democracy and certain social/cultural HR issues; however, dominant internal political dynamics and structural challenges, particularly hegemony and unresolved cultural issues, position the OIC far from being a fully democratic cosmopolitan entity.