Djedi S. Widarto
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ANALISIS VARIASI GPS – TEC YANG BERHUBUNGAN DENGAN GEMPABUMI BESAR DI SUMATERA Hendri Subakti; Nanang T. Puspito; Djedi S. Widarto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 9, No 1 (2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1713.289 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v9i1.18

Abstract

Sinyal radio frekuensi-ganda yang dipancarkan dari satelit Global Positioning System (GPS) memungkinkan untuk pengukuran jumlah total elektron, disebut sebagai total electron content (TEC), di lapisan ionosfer sepanjang berkas sinyal antara satelit dan penerima GPS. Pengolahan diferensial TEC (dTEC) secara spasial dan slant TEC  menggunakan data jaringan Sumatran GPS Array (SUGAR) dengan memakai perangkat lunak algoritma GAMIT (GPS Analysis at Massachusetts Institute Technology). Sedangkan variasi dan distribusi vertical TEC diolah dengan perangkat lunak matlab7. Hasil analisis menunjukkan adanya variasi nilai TEC baik itu penurunan maupun peningkatan jumlah elektron. Selama kurun waktu bulan Desember 2004 sampai April 2005 di Sumatera terjadi 10 kali gempabumi dengan kekuatatan M ≥ 6.0 dimana 9 gempabumi diantaranya muncul anomali TEC (penurunan nilai TEC dibawah nilai batas bawah) 1 sampai 6 hari sebelum gempabumi terjadi. Anomali TEC ini dapat dipandang sebagai pertanda (precursory signal) yang muncul sebelum terjadi gempabumi. The double-frequency radio signal which is broadcasted by Global Positioning System (GPS) Satellite enables to measure the number of Total Electron Content (TEC). It exists along ionosphere between the signal beam and GPS receiver. The calculation of TEC differential ( dTEC ) and slant TEC use the Sumatra GPS Array ( SUGAR ) network data. It is done by utilizing the GAMIT (GPS Analysis at Massachusetts Institute of Technology) algorithm software. The distribution of variation and vertical TEC are processed by using Matlab 7 Software. The result of the analysis shows the existence of TEC value both the decrease and the increase of electrons number. From December 2004 until April 2005, ten earthquakes occurred in Sumatra with the magnitude M>6.0. Nine of them appeared the TEC anomaly (the decrease of TEC value is below the lower bound) in 1 up to 6 days before the earthquakes stroke. The TEC anomaly is considered as the precursory signal that occurs before the earthquake strikes.
STUDI GEOFISIKA TERPADU DI LERENG SELATAN G. UNGARAN, JAWA TENGAH, DAN IMPLIKASINYA TERHADAP STRUKTUR PANAS BUMI Eddy Z. Gaffar; Dadan D. Wardhana; Djedi S. Widarto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 8, No 2 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1981.027 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v8i2.16

Abstract

Sigian geofisika terpadu telah dilakukan di lapangan panasbumi Gedongsongo yang terletak di lereng selatan Gunung Ungaran, Jawa Tengah. Sigian ini dilakukan untuk memperkirakan sebaran zona konduktif dan atau demagnetisasi di bawah permukaan yang erat kaitannya dengan keberadaan sistem panasbumi Gedongsongo. Peta sebaran harga geomagnet menunjukkan adanya anomali rendah di sekitar Kawah Item sampai lereng timur G. Gedongsongo, serta di sekitar Dusun Darum. Anomali rendah ini diduga berasosiasi dengan zona demagnetisasi atau material panas yang boleh jadi hadir sebagai fluida termal. Model tahanan-jenis hasil inversi 2-D data magnetotelurik menunjukkan adanya anomali rendah (<30 ohm-m) pada kedalaman sekitar 400 m di bawah Kawah Item. Ini diduga berkaitan dengan reservoir panasbumi Gedongsongo. Anomali tahanan-jenis sangat tinggi (>10000 ohm-m) dijumpai berbentuk seperti kerucut parasitik gunungapi yang boleh jadi berfungsi sebagai sumber panas. Hasil penelitian menyimpulkan adanya korelasi positif antara model-model geomagnet dan magnetotelurik, terutama gambaran sebaran zona konduktif atau demagnetisasi tinggi.