Eko Heriyanto
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ANALISIS PEMANTAUAN KUALITAS UDARA PADA SAAT ARUS MUDIK DAN BALIK LEBARAN DI GERBANG TOL CIKAMPEK TAHUN 2009 Radyan Putra Pradana; Eko Heriyanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.386 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i3.108

Abstract

Analisa pemantauan kualitas udara pada saat arus balik/mudik lebaran tahun 2009 di Gerbang tol Cikampek telah dilakukan dengan melakukan observasi parameter polusi udara dan meteorologi. Dari uji deret waktu data dan uji beda rata-rata menunjukkan bahwa saat arus mudik, rata-rata suhu udara yang paling tinggi terjadi tanggal 18 September 2009 pada pukul 15.00 WIB (32 °C) dan kelembaban udara tertinggi pada pukul 19.00 WIB (83,27 %) dan konsentrasi rata-rata polutan paling tinggi yang terukur untuk SO2 dan NO2 masing-masing terdapat pada pukul 17.00 WIB (1,277 ppm) dan 16.00 WIB (0,022 ppm). Saat arus balik, rata-rata suhu udara paling tinggi yang terjadi pada tanggal 25 September 2009 adalah pukul 15.00 WIB (30,31 °C), sedangkan untuk rata-rata suhu udara paling tinggi yang terjadi pada tanggal 26 September 2009 adalah pukul 16.00 WIB (28,7 °C) dan kelembaban udara tertinggi pada tanggal 25th dan 26th September 2009 masing-masing adalah (77,92 % dan 83,4 %) yang terjadi pada pukul 20.00 WIB, hal ini dikarenakan keadaan cuaca di lokasi pengamatan dalam keadaan mendung dan angin berhembus cukup kencang. Untuk konsentrasi rata-rata polutan paling tinggi yang terukur untuk SO2 terjadi di sore hari antara pukul 17.00 dan 18.00 WIB (1,277 ppm) dan NO2 terjadi pada pukul 17.00 WIB (0.019 ppm) yang diduga karena gas buang yang dihasilkan melalui pembakaran yang tidak sempurna dari kendaraan yang melintas.  Analysis of air quality monitoring at the time of back and forth traffic flow during eid on Cikampek highway gate in 2009 has been done by observing air pollution and meteorological parameters. Time series data test and mean different test show that during the forth flow time (September 18th, 2009), the maximum mean air temperature occurred at 15.00 WIT (32 °C), the highest mean relative humidity occurred at 19.00 WIT (83.27%) and the highest mean pollutant concentration of SO2 and NO2 were at 17.00 WIT (1.277 ppm) and 16.00 WIT (0.022 ppm), respectively. During the back flow time (September 25th and 26th 2009), the maximum mean air temperature occurred at 15.00 WIT and 16.00 WIT, respectively. While, the highest mean relative humidity occurred at 20.00 WIT (77.92% and 83.4%). This might be caused by cloudy condition and high wind speed during those days. In addition, the highest mean pollutant concentration of SO2 occurred between 17:00 WIT and 18:00 WIT (1.227 ppm), and NO2 occurred at 17:00 WIT (0,019 ppm). This might be caused by exhaust gas produced by imperfect combustion from passing vehicles.
PERBANDINGAN INDEKS FINE FUEL MOISTURE CODE (FFMC) DAN FIRE WEATHER INDEX (FWI) PADA SISTEM PERINGKAT BAHAYA KEBAKARAN HUTAN/LAHAN LUARAN WRF DENGAN OBSERVASI ( PERIODE: JUNI - AGUSTUS 2013) Eko Heriyanto; Lailan Syaufina; Sobri Effendy
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.759 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i2.181

Abstract

Pengembangan Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran Hutan/Lahan (SPBK) dilakukan dengan memanfaatkan luaran WRF resolusi 9 km. Indeks Fine Fuel Moisture Code (FFMC) atau tingkat kemudahan terjadinya kebakaran dan Fire Weather Index (FWI) atau tingkat kesulitan pengendalian kebakaran disusun menggunakan parameter cuaca, seperti suhu, kelembapan, kecepatan dan arah angin, serta curah hujan kumulatif. Kondisi klimatologis periode bulan Juni–Agustus 2013 pada umumnya normal, tanpa dipengaruhi El-Nino maupun La-Nina. Dilakukan verifikasi parameter cuaca luaran WRF terhadap data observasi. Indeks FFMC dan FWI luaran WRF dibandingkan dengan hasil observasi pada 8 (delapan) lokasi yang tersebar di Sumatera dan Kalimantan. Hasil verifikasi luaran WRF menunjukkan korelasi yang kuat – sangat kuat dengan rentang nilai 0.53–0.80 untuk semua parameter penyusun indeks. Perbandingan indeks FFMC dan FWI luaran WRF dengan observasi mempunyai korelasi diatas 0.56 dengan maksimum persentase kesalahan sebesar 0.57. Berdasarkan hasil verifikasi, luaran WRF dapat digunakan untuk menyusun indeks FFMC dan FWI pada Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran Hutan/Lahan. Development of Land/Forest Fire Danger Rating System (SPBK) is done using WRF output resolution 9 km. Fine Fuel Moisture Index Code (FFMC) or a level of ease of fire and the Fire Weather Index (FWI) or the level of difficulty of fire control were prepared using weather parameters, such as temperature, humidity, wind speed, and direction, as well as the cumulative rainfall. Climate conditions in the period June to August 2013 at the generally normal, independent of the El-Nino and La-Nina. The WRF output weather parameters have been verified with observation data. FFMC and FWI index WRF outputs compared with observations at 8 (eight) locations are covered in Sumatra and Kalimantan. The result of verification WRF outputs showed a strong - very strong correlation with a value range 0.53-0.80 for all parameters making up the index. A comparison of FFMC and FWI index from WRF's output with observation correlates 0.56 with a maximum percentage error of 0.57. Based on the results of verification, WRF outputs can be used to index FFMC and FWI Land/Forest Fire Danger Rating System.
PREDIKSI SEBARAN ASAP KEBAKARAN HUTAN/LAHAN MENGGUNAKAN WRF/CHEM (Studi Kasus: Tanggal 14 dan 20 Juni 2012, Pekanbaru-Riau) Eko Heriyanto; Danang Eko Nuryanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 1 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v15i1.172

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan prediksi sebaran asap kebakaran hutan/lahan di wilayah Indonesia. Simulasi prediksi sebaran  asap (hindcast) menggunakan model Weather Research and Forecasting with CHEMistry (WRF/CHEM) pada kasus kebakaran hutan/lahan tanggal 14 dan 20 Juni 2012 di wilayah Pekanbaru-Riau. Dalam penelitian ini digunakan data luaran WRF resolusi 25 km dan emisi global . Hasil simulasi  konsentrasi Carbon Monoxide (CO) luaran WRF/CHEM menggambarkan pola yang identik dengan hasil luaran Monitoring Atmospheric Composition and Climate (MACC-Reanalysis 1.10). Dilakukan juga analisis kualitatif terhadap hasil simulasi kedua model dengan citra satelit Aqua-Terra MODIS, NOAA-18, dan total column CO Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) dari NASA. Korelasi simulasi kedua model menunjukkan nilai yang baik antara 0.55 – 0.83. Secara umum dapat disimpulkan bahwa WRF/CHEM mampu mensimulasikan sebaran asap kebakaran hutan/lahan secara akurat. Hasil penelitian ini bisa menjadi salah satu langkah awal dalam pengembangan sistem peringatan dini sebaran asap kebakaran hutan/lahan di wilayah Indonesia. This study aims to develop a predictive distribution of forest fire smoke/land in the territory of Indonesia. The simulation of smoke spread prediction (hindcast) is using the Weather Research and Forecasting Model with CHEMistry (WRF/CHEM) in the case of forest fires/land dated June 14, 2012, in Pekanbaru-Riau region. This study uses the WRF data output resolution 25 km and global emissions. Carbon Monoxide concentration simulation results (CO) which is the WRF/CHEM output describes patterns that are identical to the results of Monitoring Atmospheric Composition and Climate (MACC-Reanalysis 1.1250) outcomes. a qualitative analysis of the results of both simulation models with satellite imagery MODIS Aqua-Terra, NOAA-18 and the Total column CO Atmospheric Infrared Sounder (Airs) from NASA has been conducted as well. Both simulation models show a correlation value between 0.55 - 0.83. In general, it can be concluded that the WRF/CHEM can simulate the spread of forest fire smoke/land accurately. The results of this study could be one of the first steps in the development of an early warning system of forest fire spread smoke/land in the territory of Indonesia.
OPERATIONAL WEATHER SYSTEMS FOR NATIONAL FIRE DANGER RATING Guswanto Guswanto; Eko Heriyanto
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 10, No 2 (2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v10i2.37

Abstract

Prakarsa Indonesia untuk sistem FDR dimulai pada bulan April 2000 dengan pengembangan pusat FDRS. Ketika itu FDRS dirancang untuk mendukung lembaga – lembaga sentral di Indonesia yang berkompeten dalam memantau kondisi-kondisi kebakaran dan untuk mengembangkan tindakan tingkat nasional untuk mendukung tindakan pencegahan, pemantauan dan kegiatan mitigasi pada tingkat provinsi. Pada akhir tahun 2001, FDRS tingkat pusat juga akan diadaptasikan dan dioperasikan secara elektronik dan manual di dua provinsi di Indonesia (Provinsi Riau di Sumatra dan di Provinsi Kalimantan Barat). Sebelumnya, pada tahun 2002 (10 Februari) serah terima dari Proyek FDRS kepada BMG untuk mengoperasikan Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran harian untuk seluruh wilayah nasional dimulai, berdasarkan pada pengamatan cuaca harian. Pengoperasian dan aplikasi output FDRS di Indonesia juga akan menjadi kegiatan penting di tahun kedua. Untuk Indonesia, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) bertanggung jawab untuk mengumpulkan data dan menyebarluaskan informasi cuaca harian di tingkat nasional dan lokal. Pada tahun 2004 BMG membuat prediksi FDR harian (3 hari) berbasis pada NWP Perancis (modul Sinergi). Implementasi ini adalah kerjasama antara BMG dan Meteo France International (MFI). Pusat Penelitian dan pengembangan BMG membangun Perhitungan FDR dan Model Polutan Udara (termasuk asap dari kebakaran hutan) berdasarkan Numerical Weather Prediction dari CSIRO (menggunakan Output CCAM) pada akhir tahun 2007. Model polutan udara untuk lintasan asap dijalankan dengan menggunakan informasi hotspot dari Dephut (Sipongi Output Program). The Indonesia Initiative for FDR system commenced in April 2000 with the development of a central FDRS. It’s being designed to support Indonesian central agencies in monitoring fire conditions and in developing national level actions to support prevention, monitoring and mitigation activities at a provincial level. In late 2001, the central-level FDRS will also be adapted and operated electronically and manually in two provinces in Indonesia (Riau Province in Sumatra and in West Kalimantan Province). Earlier, in 2002 (10th February) the handover from the FDRS Project to BMG for operated a daily Fire Danger Rating System for whole National Region began, based on daily weather observation. Operations and application of FDRS outputs in Indonesia will also be important activities in year two. For Indonesia, the Meteorology and Geophysical Agency (BMG) is responsible to collect record and disseminate daily weather information at national and local levels. In 2004 BMG produced daily FDR Prediction (3 days) base on France NWP (Synergy module). This implementation is collaboration between BMG and Meteo France International (MFI). R&D of BMG developing FDR Calculation and The Air Pollutant Model (Include smoke from forest fire) base on Numerical Weather Prediction from CSIRO (Using CCAM Output) in late of 2007. The Air Pollutant Model for smoke trajectory runs by using the hotspot information from MoF (Sipongi Output Programs).