Achmad Sasmito
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

EFFECT OF THE VARIABILITY AND CLIMATE CHANGE TO DETECT CASE OF DENGUE FEVER IN INDONESIA Achmad Sasmito; Riris Adriyanto; Asri Susilawati; Roni Kurniawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 11, No 2 (2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.267 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v11i2.76

Abstract

Hasil dari penelitian para pakar iklim menunjukkan bahwa suhu global termasuk di Indonesia cenderung meningkat dari waktu ke waktu, serta telah terjadi pergeseran variasi curah hujan di beberapa wilayah. Terjadinya variasi dan perubahan iklim akan mempengaruhi area perkembang biakan nyamuk. Situasi ini berdampak langsung terhadap munculnya kasus demam berdarah. Pada penelitian ini dilakukan prediksi kasus demam berdarah wilayah Jakarta berdasarkan data curah hujan, hari hujan, kasus demam berdarah pada bulan sebelumnya, dan asumsi bahwa pada tahun 2010 musim kemarau basah tidak terjadi, maka kasus demam berdarah pada tahun 2010 diperkirakan menurun dibandingkan tahun 2007-2009. Hal ini karena musim hujan di tahun 2009-2010 di DKI Jakarta cenderung berkurang dibandingkan dengan tahun 2007-2008 dan 2008-2009.Dari hasil analisis menunjukkan bahwa kasus demam berdarah dapat dijadikan sebagai peringatan dini untuk dilakukan tindakan pencegahan kedepan, selain faktor alam (meteorologi) perlu juga dilakukan kajian sosial, budaya dan faktor lingkungan. Salah satu strategi untuk mengatasi kasus demam berdarah dapat dilakukan melalui koordinasi, kerjasama, dan kolaborasi antara pemerintah, peneliti dan masyarakat. Results from climate experts researches showed that global temperature including in Indonesia tends to increase from time to time, as well as a shift in rainfall variation in some regions. The occurrence of variation and climate change will affect the growth areas of mosquitoes. This situation has a direct impact on the emergence of dengue fever cases.In this research, prediction of dengue fever cases in the Jakarta region based on rainfall data, rainy days, cases of dengue fever in the previous month, and the assumption that in the year 2010 wet - dry season  condition will not occur, Then the cases of dengue fever in the year 2010 is expected to decline compared years 2007-2009. This is because the rainy season in the years 2009-2010 in Jakarta is relatively reduced compared to the years 2007-2008 and 2008-2009.From the results of the analysis showed that cases of dengue fever can be used as an early warning for future preventive action, in addition to natural factors (meteorology) should also be examined social, cultural and environment factors. One strategy for addressing cases of dengue fever can be done through coordination, cooperation and collaboration between government, researchers and the society.
KAJIAN POTENSI ENERGI ANGIN DI WILAYAH SULAWESI DAN MALUKU Muhammad Najib Habibie; Achmad Sasmito; Roni Kurniawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 2 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.294 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i2.99

Abstract

Wilayah Sulawesi dan Maluku terletak di kawasan Indonesia Timur yang terdiri dari ratusan pulau kecil yang sebagian besar berpenduduk. Seiring perkembangan zaman, kebutuhan listrik di daerah tersebut semakin meningkat. Upaya diversifikasi pembangkit listrik dengan sumber energi alternatif ramah lingkungan menjadi suatu hal yang penting. Penelitian ini mencoba untuk menentukan daerah-daerah yang memiliki potensi sumber energi angin di wilayah Sulawesi (Toli-toli, Kayuwatu, Majene, Makassar, Gorontalo, Kendari, Naha) dan Maluku (Tual, Saumlaki, Bandanaeira, Ambon, Ternate) dengan menggunakan data arah dan kecepatan angin harian periode tahun 2003-2008. Dari hasil kajian dapat direkomendasikan 4 (empat) lokasi yang potensial untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga angin yaitu di Tual, Naha, Saumlaki, dan Bandaneira dengan potensi energi angin yaitu berkisar antara 3455,8 s/d 11861,4 watt day/tahun. Dari keempat lokasi tersebut, Tual merupakan lokasi yang paling berpotensi untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga angin. Sulawesi and Maluku are located in eastern part of Indonesia, which consists of hundreds of small islands and mostly inhabited. Nowadays, electricity demanding in the area is increasing. Diversification of power generation with environmental-friendly alternative energy resources become an important thing. This study examines areas that have potential of wind energy resources in Sulawesi (Toli-toli, Kayuwatu, Majene, Makassar, Gorontalo, Kendari, Naha) and Maluku (Tual, Saumlaki, Bandanaeira, Ambon, Ternate) by using daily wind data over the period of 2003-2008. The results recommend four potentially locations for wind power electricity installation, i.e. in Tual, Naha, Saumlaki, and Bandaneira, with range of wind energy potential between 3455.8 - 11861.4 watt day per year. Tual is the most potential location.
IDENTIFIKASI AMBANG BATAS CURAH HUJAN SAAT KEJADIAN BANJIR DI JABODETABEK: STUDI KASUS BANJIR JAKARTA TANGGAL 09 FEBRUARI 2015 Rahayu Sapta Sri Sudewi; Achmad Sasmito; Roni Kurniawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 16, No 3 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2613.294 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v16i3.315

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami karakteristik dinamika atmosfer saat kejadian hujan lebat di wilayah Jakarta pada tanggal 09 Februari 2015 dan menentukan nilai ambang batas (threshold) intensitas curah hujan (CH) yang dapat digunakan untuk peringatan dini cuaca ektrim di wilayah Jakarta. Hujan lebat dengan intensitas rata-rata 118,4 mm/hari yang terjadi tanggal 09 Februari 2015 di wilayah Jabodetabek bukan merupakan peristiwa yang signifikan bila dibandingkan dengan kejadian sebelumnya. Berdasarkan tinjauan dinamis pada tanggal tersebut, terdapat cold surge dari Asia yang membangkitkan angin timur laut bertemu dengan angin selatan yang berasal dari Samudera Hindia, dan pada saat bersamaan terdapat tekanan rendah di bagian selatan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang membentang dengan arah utara-selatan dan bergerak ke arah barat. Kondisi tersebut membangkitkan dominan angin timur dan di sebelah utara NTT hingga Jawa barat bagian utara terdapat shear, selain itu wilayah sebelah utara Jawa Barat, Banten dan Jakarta merupakan daerah pertemuan interaksi ketiga angin tersebut. keadaan tersebut memicu terjadinya pembentukan awan disepanjang Pulau dan laut Jawa, selat karimata, dan Pulau Jawa, termasuk di wilayah Jakarta yang menimbulkan hujan lebat yang berpotensi banjir. Hasil pendekatan model statistik dengan lima pengelompokan/kategori berdasarkan intensitas CH di wilayah Jakarta saat terjadi banjir tahun 2007, 2008, 2013, dan 2014, adalah untuk kategori “Awas” dengan intensitas CH rata-rata sebesar 35-47 mm/hari, “Siaga 3” dengan intensitas CH rata-rata 48-61 mm/hari, “Siaga 2” dengan intensitas CH 62-74 mm/hari, kategori “Siaga 1” dengan intensitas CH rata-rata 75-87 mm/hari, dan kategori “Bencana” dengan intensitas curah hujan sebesar 88-101 mm/hari. This study aimed to understand the atmospheric dynamic characteristic of heavy rainfall in Jakarta on February 9, 2015, and to determine the threshold value of rainfall intensity (CH) that can be used for early warning of extreme weather in Jakarta area. Heavy rainfall with an average intensity of 118.4 mm/day which occurred on February 9, 2015, in the Jakarta area is not as significant as previous events. Based on dynamical conditions on that date, the cold surge from Asia enhances northeasterly winds met with southerly winds coming from the Indian Ocean, and at the same time there was a low-pressure system in the south of NTT stretches north-south direction moving westward. This condition created dominantly easterly winds and at the north of NTT to the northern part of West Java exist a shear, meanwhile, the northern part of West Java, Banten and Jakarta were a meeting and interaction area of these three wind components. This condition triggers the clouds formations along Karimata Strait, Java Sea and the island of Java, including Jakarta that caused heavy rainfall and flood potential. Statistical models result in five categories based on the rainfall intensity in Jakarta during floods in 2007, 2008, 2013, and 2014, which were "Caution" for average rainfall of 35-47 mm/day, "Standby 3" for average rainfall of 48-61 mm/day, "Alert 2" for average rainfall of 62-74 mm/day, "Alert 1" for average rainfall of 75-87 mm/day, and “Disaster” for average rainfall of 88-101 mm/day, respectively.
PERINGATAN DINI DAN DIAGNOSIS MUNCULNYA TURBULENSI CUACA CERAH DAN DAMPAKNYA PADA PESAWAT Achmad Sasmito
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 12, No 3 (2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.342 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v12i3.111

Abstract

Salah satu informasi meteorologi yang sulit diprakirakan diantaranya yaitu terjadinya turbulensi pada saat cuaca cerah (TCC), sedangkan metoda yang lazim digunakan untuk mengetahui daerah TCC yaitu dengan menghitung bilangan Richardson (Ri).Untuk menduga lokasi terjadinya TCC yang  dialami oleh pesawat China Air Line, pada tanggal 20 September 2008 sekitar pukul 12.50 WIB yang terbang dari Taipe menuju Bali digunakan analisis data udara atas, satelit cuaca, dan prakiraan cuaca numerik model JMA (Numerical Weather Prediction/NWP). Hasil analisis data meteorologi tanggal 20 September 2008, pukul 11.00-13.00 WIB bahwa pesawat China Air Line diduga mengalami TCC lokasinya di sekitar Pulau Lulbu (Philipina/ posisi 7 - 15° LU, 115° - 120° BT), pada paras 300 - 400 mb, nilai bilangan Ri yaitu sekitar 200-290, ditengarai berada di daerah pertemuan dua (2) masa udara yaitu bagian bawah berasal dari barat kecepatan angin 10-15 knot, sedang bagian atas berasal dari timur kecepatan angin 15-25 knot, suhu puncak awan -70° C, sedang disebelahnya suhu + 10° C. Keadaan cuaca tersebut berkaitan dengan munculnya siklon tropis Hagupit di Philipina. One of the difficult forecasted meteorological information such as the occurrence of Clear air turbulence (TCC). The methods commonly used to determine the TCC region that is by calculating the Richardson number (Ri). To infer the location of the TCC aircraft experienced by China Air Line, on 20 September 2008 at around 04:00 to 06:00 UTC flying from Taipei to Bali used the analysis of upper air data, weather satellites and numerical weather Prediction JMA model (Numerical Weather Prediction/NWP). The results of the analysis of meteorological data on September 20, 2008, at 04:00 to 06:00 UTC show that China Air Line occurred TCC loTCCion around the Lulbu island (Philipine), positions 7°-15° N, 115°-120° E, at 300-400 mb, the Ri number is about 200-290, which are loTCCed in areas suspected to be the confluence of two (2) the air mass, is coming from the bottom of the west wind speed 10-15 knots, while the top comes from the east 15-25 knots wind speed, cloud top temperature of -70° C, on the other side the air temperature of + 10° C. The weather conditions associated with the emergence of a tropical cyclone Hagupit in Philipine island.
IDENTIFIKASI AMBANG BATAS CURAH HUJAN SAAT KEJADIAN BANJIR DI JABODETABEK: STUDI KASUS BANJIR JAKARTA TANGGAL 09 FEBRUARI 2015 Rahayu Sapta Sri Sudewi; Achmad Sasmito; Roni Kurniawan
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 16 No. 3 (2015)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v16i3.315

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami karakteristik dinamika atmosfer saat kejadian hujan lebat di wilayah Jakarta pada tanggal 09 Februari 2015 dan menentukan nilai ambang batas (threshold) intensitas curah hujan (CH) yang dapat digunakan untuk peringatan dini cuaca ektrim di wilayah Jakarta. Hujan lebat dengan intensitas rata-rata 118,4 mm/hari yang terjadi tanggal 09 Februari 2015 di wilayah Jabodetabek bukan merupakan peristiwa yang signifikan bila dibandingkan dengan kejadian sebelumnya. Berdasarkan tinjauan dinamis pada tanggal tersebut, terdapat cold surge dari Asia yang membangkitkan angin timur laut bertemu dengan angin selatan yang berasal dari Samudera Hindia, dan pada saat bersamaan terdapat tekanan rendah di bagian selatan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang membentang dengan arah utara-selatan dan bergerak ke arah barat. Kondisi tersebut membangkitkan dominan angin timur dan di sebelah utara NTT hingga Jawa barat bagian utara terdapat shear, selain itu wilayah sebelah utara Jawa Barat, Banten dan Jakarta merupakan daerah pertemuan interaksi ketiga angin tersebut. keadaan tersebut memicu terjadinya pembentukan awan disepanjang Pulau dan laut Jawa, selat karimata, dan Pulau Jawa, termasuk di wilayah Jakarta yang menimbulkan hujan lebat yang berpotensi banjir. Hasil pendekatan model statistik dengan lima pengelompokan/kategori berdasarkan intensitas CH di wilayah Jakarta saat terjadi banjir tahun 2007, 2008, 2013, dan 2014, adalah untuk kategori “Awas” dengan intensitas CH rata-rata sebesar 35-47 mm/hari, “Siaga 3” dengan intensitas CH rata-rata 48-61 mm/hari, “Siaga 2” dengan intensitas CH 62-74 mm/hari, kategori “Siaga 1” dengan intensitas CH rata-rata 75-87 mm/hari, dan kategori “Bencana” dengan intensitas curah hujan sebesar 88-101 mm/hari. This study aimed to understand the atmospheric dynamic characteristic of heavy rainfall in Jakarta on February 9, 2015, and to determine the threshold value of rainfall intensity (CH) that can be used for early warning of extreme weather in Jakarta area. Heavy rainfall with an average intensity of 118.4 mm/day which occurred on February 9, 2015, in the Jakarta area is not as significant as previous events. Based on dynamical conditions on that date, the cold surge from Asia enhances northeasterly winds met with southerly winds coming from the Indian Ocean, and at the same time there was a low-pressure system in the south of NTT stretches north-south direction moving westward. This condition created dominantly easterly winds and at the north of NTT to the northern part of West Java exist a shear, meanwhile, the northern part of West Java, Banten and Jakarta were a meeting and interaction area of these three wind components. This condition triggers the clouds formations along Karimata Strait, Java Sea and the island of Java, including Jakarta that caused heavy rainfall and flood potential. Statistical models result in five categories based on the rainfall intensity in Jakarta during floods in 2007, 2008, 2013, and 2014, which were "Caution" for average rainfall of 35-47 mm/day, "Standby 3" for average rainfall of 48-61 mm/day, "Alert 2" for average rainfall of 62-74 mm/day, "Alert 1" for average rainfall of 75-87 mm/day, and “Disaster” for average rainfall of 88-101 mm/day, respectively.