Mugni Hadi Hariadi
Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika (BMKG)

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

UNDERSTANDING FARMERS’ NEED TO CLIMATE INFORMATION Rizaldi Boer; Ismail Wahab; Mugni Hadi Hariadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 8, No 2 (2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.603 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v8i2.14

Abstract

Availability of good skill seasonal climate forecast will be very useful for farmers to assist them to tailor their cropping strategies to the forecast so that the climate risks can be minimized or avoided. This study aimed to identify type of relevant climate forecast information for potato and chili farmers of Pengalengan. The study was done through interview with 60 farmers. The study reveals that the most important climate information required by farmers is the onset of rainy season and then followed by amount of rainfall, and number of rainy days during the seasons. About 75% of farmers said that they need the information at least one month before planting to enable them to prepare better planting strategy. For potato farmers, they expect that they can get information on the onset of rainy season around August. However, the increase in farmers’ capacity to use seasonal climate forecast should be followed by supporting policies or regulations or resources to maximize the benefit of using the forecast, such as price policy, and good storage facility to accommodate surplus production resulting from changing planting strategy. Ketersediaan prakiraan musim dengan skill tinggi sangat diperlukan bagi petani untuk menyesuaikan strategi budidaya dengan informasi prakiraan tersebut sehingga risiko iklim dapat diminimumkan atau dihindari. Kajian ini mengidentifikasi informasi prakiraan yang relevan bagi petani kentang dan cabe Pengalengan, Bandung-Jawa Barat dengan menginterview 60 petani. Hasil analisis menunjukkan bahwa informasi iklim yang dianggap paling penting bagi petani ialah awal masuk musim hujan dan kemudian diikuti oleh banyak hari hujan dalam musim. Sekitar 75% petani menyatakan bahwa mereka membutuhkan informasi tersebut minimal satu bulan sebelum tanam supaya mereka dapat mengatus strategi budidaya dengan baik. Untuk petani kentang, mereka mengharapkan dapat memperoleh informasi prakiraan awal musim hujan sekitar Agustus. Namun demikian para petani mengungkapkan bahwa peningkatan kemampuan mereka dalam memanfaatkan informasi iklim tidak akan bermanfaat banyak apabila tidak disertai dukungan kebijakan dan peraturan atau sumberdaya yang memungkinkan mereka untuk bisa memaksimumkan keuntungan dari menggunakan informasi prakiraan tersebut. Kebijakan yang dimaksud diantaranya kebijakan harga, dan ketersediaan fasilitas gudang yang dapat mengakomodasi kelebihan produksi yang diperoleh dari perubahan pola budidaya yang mereka lakukan.
SIMULATION OF RAINFALL OVER WEST NUSA TENGGARA PROVINCE BASED ON ECHAM5/MPI-OM AND GFDL CM2.1 Dian Nur Ratri; Mugni Hadi Hariadi
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 15, No 2 (2014)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.216 KB) | DOI: 10.31172/jmg.v15i2.178

Abstract

Simulasi curah hujan di Propinsi Nusa Tenggara Barat dipelajari dengan menggunakan Regional Climate Model (RCM) Conformal-Cubic Atmospheric Model (CCAM) dari CSIRO yang didukung oleh model global (General Circulation Models atau GCMs) yaitu ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1. Tiga periode yang dikaji dalam studi ini adalah 1980–1999, 2050–2069, dan 2080–2099. Untuk simulasi periode 1980–1999 dievaluasi terhadap observasional data. Secara umum, untuk simulasi pola curah hujan tahunan periode 2050–2069 dan 2080–2099,  ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1 menunjukkan pola simulasi yang hampir sama. Namun, simulasi kedua model global ini untuk curah hujan tahunan periode observasi (1980–1999) berbeda. Bila dilihat secara musiman, simulasi model untuk musim kemarau periode 2060 dan periode 2090, ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1 jika dibandingkan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, dan sebaliknya pada musim hujan. Rainfall over the West Nusa Tenggara Province was simulated by a Regional Climate Model (RCM) - the CSIRO Conformal-Cubic Atmospheric Model (CCAM) driven by two host General Circulation Models (GCMs), ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1. Three periods considered for this study were 1980–1999, 2050–2069, and 2080–2099 for the IPCC SRES greenhouse gas emission scenario A2. Simulations for the 1980–1999 periods were evaluated against observational data. The finding shows that in general, ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1 did not show any significant behavior in simulating annual mean rainfall patterns for the period of 2050–2069 and period of 2080–2099. Nevertheless, for the current period (1980–1999) those both GCMs are markedly different in the simulation of annual mean rainfall. There are also simulations of seasonal mean rainfalls, dry and wet season, and show that ECHAM5/MPI-OM and GFDL CM2.1 are nearly similar in simulating dry season but not for the wet season.