Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERAN EFEK IMUNOMODULASI VITAMIN D PADA TATALAKSANA COVID-19 Kadek Anggiswari Pradnya Angela; I Nyoman Sutarka
Unram Medical Journal Vol 11 No 2 (2022): vol 11 no 2 2022
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v11i2.712

Abstract

COVID-19 infection is marked by SARS-CoV-2 binds with ACE-2 receptors. In this process, the virus will avoid immunity systems, followed by a cytokine storm in some patients. Aside from calcium homeostasis and bone metabolism role, vitamin D plays role in reducing inflammation process and immunoregulation, which is known as the immunomodulation effect. Vitamin D plays a role against pathogens in adaptive and innate immune systems. Vitamin D modulates T-helper (Th) cells response inducing response shift from Th1 to Th2, increasing T-regulatory (Treg) cells development, and balancing T-helper cells response against pathogens and reducing pro-inflammatory cytokines production. Vitamin D may reduce production of pro-inflammatory cytokines such as TNF-?, IL-6, IL-1?, IL-12, and IFN-?, caused by inhibition of nuclear factor kB (NF-kB) activation. Vitamin D also induces ACE-2 vasorelaxant converting Angiotensin II into Angiotensin VII, a vasodilator, to prevent Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) from happening. Few studies show COVID-19 patients has vitamin D deficiency. A meta-analysis study of 360,972 COVID-19 patients shows 37.7% of them with vitamin D deficiency and 32.2% with vitamin D insufficiency. Vitamin D deficiency correlates with COVID-19 severity and mortality. A study of 42 patients with acute respiratory failure caused by COVID-19 in Bari, Italy shows patients with vitamin D levels < 10 ng/ml have 50% mortality rate after 10-days of care. Vitamin D level examination is recommended for COVID-19 patients. The recommendation for vitamin D supplementation is vitamin D3 4000 IU/day dose for 7 days continued with 800-1000 IU/day maintenance dose for vitamin D deficiency patients.
DM Tipe II Terinfeksi COVID-19 dengan Hiperglikemia yang Sulit Terkendali Pasca Hipoglikemia Kadek Anggiswari Pradnya Angela; I Made Juliana
UMI Medical Journal Vol 7 No 1 (2022): UMI Medical Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/umj.v7i1.142

Abstract

Pendahuluan. Diabetes Melitus (DM) merupakan komorbid yang sering ditemukan pada penderita dengan COVID-19. Pasien COVID-19 dengan DM sering muncul dengan gejala hiperglikemia preprandial maupun postprandial. Kasus. Pasien laki-laki 51 tahun dengan DM tipe II terinfeksi COVID-19, gula darah 33 mg/dl saat opname. Dalam perawatan, setelah diberikan bolus dextrose 40% dan infus dextrose 10%, kadar gula darah meningkat hingga mencapai 197 mg/dl. Pasien mendapatkan terapi glukokortikoid Dexametason 3x5 mg intravena hari pertama sampai kelima. Selama injeksi glukokortikoid kadar gula darah naik turun antara 321-451 mg/dl dengan terapi insulin Glargine mencapai 16 IU dan insulin Aspart 3x10 IU subkutan. Setelah glukokortikoid dihentikan, kadar gula darah turun namun masih melebihi 180 mg/dl sebagai target pengendalian gula darah pada pasien critical ill COVID-19. Hari kedua belas, kadar gula darah mulai terkendali baik dengan dosis insulin Glargine 20 IU dan insulin Aspart 3x10 IU. Pembahasan. Glukokortikoid paling sering memprovokasi hiperglikemia, dikenal sebagai Steroid-Induced Hyperglycemia (SIH). SIH umumnya muncul 48 jam pertama pemberian steroid. COVID-19 juga dapat menyebabkan hiperglikemia melalui peningkatan sitokin proinflamasi dan reactive oxygen species, sehingga terjadi resistensi insulin dan hambatan sekresi insulin. Simpulan. Dilaporkan kasus hiperglikemia karena SIH dan infeksi COVID-19 ditandai gula darah terkendali setelah glukokortikoid dihentikan dan COVID-19 memasuki fase penyembuhan.
GAMBARAN ENDOSKOPI PENDERITA DENGAN GEJALA PERDARAHAN SALURAN CERNA BAGIAN ATAS DI RSUD TABANAN Kadek Anggiswari Pradnya Angela; I Dewa Putu Surawan
Jurnal Medika Malahayati Vol 6, No 2 (2022): Volume 6 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v6i2.6596

Abstract

Pendahuluan. Kepastian adanya perdarahan dan sumber perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) bisa dilakukan dengan pemeriksaan endoskopi. Penelitian ini dilakukan guna mendapatkan gambaran tentang gejala, kelainan endoskopi dan risiko perdarahan berulang pada penderita perdarahan SCBA. Metode. Penelitian deskriptif secara cross sectional. Sampel adalah semua penderita dengan gejala perdarahan SCBA yang tercatat di register ruang rawat inap RSUD Tabanan dalam periode Januari 2020 sampai Desember 2021 yang dilakukan endoskopi. Data diambil dari rekam medik penderita dan dianalisis dengan program SPSS 26. Hasil. Dari 65 penderita yang memenuhi kriteria penelitian, sebanyak 67,7% laki-laki dan 32,3% perempuan dengan kelompok usia ³ 60 tahun sebanyak 55,38%. Gejala perdarahan yang paling sering ditemukan adalah melena (44,6%) dan hematemesis (35,4%). Hasil endoskopi didapatkan ruptur varises sebesar 40%, ulkus peptikum 22,98%, dan erosif mukosa 22,98%. Sebanyak 64,6% penderita mengalami perdarahan SCBA untuk pertama kalinya dan hanya 35,4% dengan perdarahan berulang. Berdasarkan skor Rockall sebanyak 52,3% didapatkan dengan skor ≤ 2. Simpulan. Gejala perdarahan SCBA didapatkan lebih banyak pada laki-laki dan usia lanjut.  Gambaran endoskopi didapatkan varises esofagus dan gaster, ulkus peptikum dan erosiva mukosa sebagai penyebab terbanyak. Sebagian besar subyek penelitian menunjukkan skor Rockall ≤ 2 sebagai kategori  risiko rendah terjadinya perdarahan berulang dan kematian.