Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Bowenoid Papulosis A Case Report Handelia Phinari; Ni Nyoman Ayu Sutrini
Jurnal Profesi Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 16, No 1 (2022): Jurnal Profesi Medika : Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta Kerja Sama KNPT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33533/jpm.v16i1.4387

Abstract

Bowenoid papulosis (BP) is a rare case of sexually transmitted disease caused by Human Papillomavirus 16 that affects the young, sexually active age group. A 39-years-old male complained of warts over the scrotum and left groin that gradually increased in number and size for one year duration. There was history of similar complaint. Dermatology status obtained multiple, small, well-defined, grey-brown papules on the scrotum and left groin. Dermoscopy examination revealed a pigmented papillomatous surface, brown-grey dots linearly arranged at the edges, and widespread dotted vessels. Histopathological examination confirmed Bowenoid Papulosis. Based on the clinical findings, Bowenoid papulosis cannot be distinguished from Condyloma Acuminata. Therefore, histopathological examination is necessary to confirm the diagnosis. The patient is treated with surgical excision and cauterization. Six months after the procedure, the patient had no complaints or new lesions. Since the development of BP is unpredictable, early diagnosis, adequate treatment, and routine examinations for recurrence and progression of the disease are required. 
METOTREKSAT DAN METFORMIN SEBAGAI ALTERNATIF PENGOBATAN TERKINI ERITEMA NODUSUM LEPROSUM BERULANG Handelia Phinari; Ni Nyoman Ayu Sutrini
Jurnal Medika Hutama Vol. 3 No. 03 April (2022): Jurnal Medika Hutama
Publisher : Yayasan Pendidikan Medika Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eritema Nodosum Leprosum (ENL) merupakan reaksi kusta tipe II yang paling sering dilaporkan. ENL paling sering terjadi pada kusta tipe lepromatosa (LL). Pengobatan ENL dengan prednisolon terbukti efektif namun memberikan efek samping berat seperti hiperglikemia, diabetes, osteoporosis, hipertensi, katarak dan imunosupresi bila digunakan dalam jangka waktu panjang, sedangkan pengobatan dengan talidomid sangat terbatas karena memiliki efek teratogenik. Penggunaan metotreksat dan metformin pada ENL bekerja sebagai agen anti-inflamasi yang memberikan berbagai keuntungan berdasarkan profil keamanan, pengaturan dosis yang mudah, dan biaya yang rendah. Kedua obat ini dapat menjadi pilihan obat monoterapi maupun sebagai obat tambahan yang dikombinasikan dengan kortikosteroid. Keywords: ENL; Metotreksat ; Metformin
MH tipe MB dengan reaksi ENL berulang disertai Charcot Neuropatic Osteoarthropathy Natalia Wijaya; Ni Nyoman Ayu Sutrini
The Indonesian Journal of General Medicine Vol. 11 No. 1 (2025): The Indonesian Journal of General Medicine
Publisher : International Medical Journal Corp. Ltd

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70070/qjhrte30

Abstract

Pendahuluan: Morbus Hansen (kusta) tipe Multibasiler (MB) sering disertai dengan reaksi imunologis Erythema Nodosum Leprosum (ENL) yang dapat berulang dan menimbulkan komplikasi serius. Salah satu komplikasi neuropatik yang jarang namun berat adalah Charcot Neuropathic Osteoarthropathy (CNO), yang menyebabkan kerusakan sendi progresif. Laporan Kasus: Dilaporkan seorang pasien MH tipe MB dengan riwayat lebih dari 15 kali kekambuhan ENL. Pasien mengalami gangguan fungsi motorik dan sensorik serta manifestasi CNO pada ankle kiri dengan destruksi tulang dan malalignment sendi berdasarkan evaluasi radiologis. Diskusi: Reaksi ENL berulang memicu peradangan sistemik yang memperburuk kerusakan saraf perifer sehingga meningkatkan risiko terjadinya CNO. Penatalaksanaan meliputi terapi kortikosteroid dan methotrexate untuk mengendalikan reaksi imun serta imobilisasi ekstremitas bawah guna mencegah deformitas sendi lebih lanjut. Pendekatan multidisipliner sangat penting untuk mengoptimalkan hasil terapi. Kesimpulan: Deteksi dini dan penanganan komprehensif terhadap reaksi ENL berulang serta komplikasi neuropatik seperti CNO sangat krusial dalam mencegah kecacatan permanen pada penderita kusta MB. Kolaborasi antara spesialis kulit, saraf, dan ortopedi diperlukan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.