Muhammad Ilham Aziz
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SUFISME JAWA DALAM SERAT SASTRA GENDING SULTAN AGUNG MATARAM Muhammad Ilham Aziz; Dudung Abdurrahman
Aqlam: Journal of Islam and Plurality Vol 7, No 1 (2022)
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/ajip.v7i1.1917

Abstract

Abstract: This article discusses Sufism in the Serat Sastra Gending Sultan Agung which had an influence on Javanese literature in Mataram. Sultan Agung Sufism teaching based on this fiber describe a kings desire to convery the teachings of Islam, especially Sufisme patterned Islam to his people through a Javanese cultural approach. Therefore, it is identified through this study as “Javanese Sufism”. The main problem of this research how is the Javanese Sufism pattern reflected in Sultan Agung view? and why did Sultan Agung Sufism teaching influence Javanese literature in the Mataram area? This study was developed using the history of thought method. The findings of this study are as follows: First, the socio-religious conditions at the time of Sultan Agung wereclosely related to the pantheism that was embraced by the Javanese inland community. Second, the teachings of Sultan Agung Sufism in the serat sastra Gending show two things that are interrelated and need, which are reflected in the relationship between man and God (the creator). The concept of Sufism in describes the acculturation of three cultures: Javanese, Hindu, and Islamic. Third, the teaching of Sultan Agung Sufism are included in the syncretic teachings influenced the development of Javanese literature in Mataram. The urgency of Sufism teachings framed in the form of literature is able to explain religion and political polices until the next period after Sultan Agung.  Keyword: King’s View, Sastra Gending, Javanese Sufism. Abstrak: Artikel ini membahas sufisme dalam Serat Sastra Gending Sultan Agung yang memberi pengaruh terhadap kesusastraan Jawa di Mataram.  Ajaran tasawuf Sultan Agung ini berdasarkan serat ini menggambarkan suatu keinginan seorang raja untuk menyampaikan ajaran agama Islam, khususnya Islam bercorak tasawuf kepada rakyatnya melalui pendekatan budaya Jawa. Karena itu, teridentifikasi melalui kajian ini sebagai "Sufisme Jawa".  Pokok masalah penelitian ini adalah bagaimana corak sufisme-Jawa tercermin dari pandangan Sultan Agung? dan mengapa ajaran tasawuf Sultan Agung berpengaruh terhadap kesusastraan Jawa di wilayah Mataram?. Studi ini dikembangkan dengan metode sejarah pemikiran. Adapun temuan kajian ini sebagai berikut: Pertama, kondisi sosial keagamaan pada masa Sultan Agung lekat dengan panteisme yang dianut oleh masyarakat Jawa pedalaman. Kedua, ajaran tasawuf Sultan Agung dalam Serat Sastra Gending memperlihatkan dua hal yang saling berkaitan dan membutuhkan, yang tergambar dalam hubungan manusia dengan Tuhan (pencipta). Adapun konsep tasawuf di dalamnya menggambarkan akulturasi tiga budaya: Jawa, Hindu, dan Islam. Ketiga, ajaran tasawuf Sultan Agung termasuk dalam ajaran tasawuf yang sinkretis. Ajaran tersebut berpengaruh terhadap perkembangan kesusastraan Jawa di Mataram. Urgensi ajaran tasawuf yang dibingkai dalam bentuk sastra mampu menjelaskan agama dan kebijakan politik hingga masa selanjutnya pasca Sultan Agung. Kata Kunci : Pandangan Raja, Sastra Gending, Sufisme Jawa.
Kelas Sosial dalam Masyarakat Islam Periode Klasik (Dari masa Khulafaur Rasyidin hingga Dinasti Abbasiyah) Isna Zakiya Nurul Muftaza; Muhammad Ilham Aziz
JSI: Jurnal Sejarah Islam Vol. 2 No. 01 (2023): Jurnal Sejarah Islam
Publisher : Progam Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI), Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jsij.v2i01.7908

Abstract

This study aims to determine the social life of Islamic society in more depth and social mobility that occurs in Islamic society. This research is qualitative based on literature, using a sociological approach. In the research process, historical methods are used as research stages which include: verification, interpretation and historiography. The results of this study, First, during the Khulafaur Rashidun era, social class struggles were divided into several groups, namely: the ruling class (elite), Arab Muslims and non-Arabs. Second, during the Umayyad dynasty, the social order of society was divided into four classes, namely: the ruling class, converts, sect members, and slaves. Third, the social order of the people during the Abbasid dynasty underwent significant changes by no longer favoring the Arabs as the top class, and all groups had the opportunity to reach the upper social class. The existence of dynamics in the social class system of Islamic society starting from the Khulafaur Rashidun era to the Abbasid dynasty had an impact on all aspects of the social life of Islamic society.
Kajian Terhadap Historiografi Orientalis (Telaah Buku Muhammad Prophet and Statesman Karya William Montgomery Watt) Muhammad Ilham Aziz
Tarikhuna: Journal of History and History Education Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/thje.v3i2.3181

Abstract

Tujuan penulisan ini adalah untuk melihat subjektivitas dan objektifitas tokoh orientalis dalam mengkaji sejarah Islam, serta menambah pengayaan khazanah intelektual yang berkaitan dengan historiografi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah sejarah dengan jenis penelitian library research, dengan mendalami buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan. Historiogafi orientalis merupakan suatu studi tulisan sejarah yang dilakukan oleh orang-orang barat terhadap bangsa timur. Penulisan sejarah oleh bangsa Eropa terhadap bangsa Timur dimulai sejak abad ke XII, dapat dilihat dari tokoh-tokoh orientalis yang belajar dan mencoba untuk mengkaji Islam serta memindahkan ilmu pengetahuan Islam ke Eropa. Peradaban Islam bukan hanya memberi sumbangsi besar bagi bangsa Eropa yang dahulunya masuk dalam wilayah kekuasaan Islam, akan tetapi juga bagi orang Eropa yang diluar daerah itu. Jika dilihat dari sisi historis, historiografi orientalis memiliki karakteristik penulisan yang bersifat analisis dan kritis, dan metode multidisipliner. Historiografi orientalis timbul setelah terjadinya gesekan antara dunia Barat dan Timur lebih mengerucut lagi yakni perang ideologi dan peradaban antara umat Islam dan Kristen. Gerakan penulisan sejarah oleh tokoh-tokoh orientalis muncul sudah sejak lama tetapi baru menampakan dirinya (secara terorganisir) pasca kekalahan bangsa Barat oleh Islam pada Perang Salib. Banyak tokoh-tokoh sejarawan orientalis yang memiliki andil besar dalam penulisan sejarah Islam, salah satunya adalah William Montgomery Watt, dan sebenarnya masih banyak lagi sejarawan-sejarawan orientalis lainnya. Watt dalam karyanya yang berjudul Muhammad Prophet and Stateman mendapat beberapa kritikan dari tokoh muslim. Akan tetapi, dalam kajian historis, Watt memiliki pandangan yang objektif dalam menjelaskan pemikiran Islam dibanding dengan pengkaji Islam lainnya.