Frans E. Wantania
Universitas Sam Ratulangi Manado

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : e-CliniC

HUBUNGAN KADAR HEMATOKRIT DENGAN KELAS NYHA PADA PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF OBESITAS SENTRAL YANG DIRAWAT JALAN DAN DIRAWAT INAP DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU Malisan, Ekky; Wantania, Frans E.; Rotty, Linda W. A.
e-CliniC Vol 3, No 2 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i2.8604

Abstract

Abstract: Obesity and hematocrit play a role in the inflammatory process, infection, systemic heart disease, and thrombosis process, therefore, they can lead the exacerbation of congestive heart failure to become acute heart failure. This study aimed to determine the correlation between the hematocrit level and NYHA class of congestive heart failure and central obesity patients (in-patients and out-patients). This was an observational analytical study with a cross sectional design. Samples were CHF patients with central obesity at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from November 2014 until January 2015. Samples consisted of 20 in-patients and 20 out-patients selected by a purposive sampling method. The coefficient correlation Spearman test showed a correlation r= 0.558 with a P-value=0.000 (P<0.05). Conclusion: There was a significant correlation of hematocrit level and the NYHA class of CHF patients (in-patients and out-patients) with central obesity.Keywords: congestive heart failure, central obesity, hematocrit, NYHA classAbstrak: Obesitas dan hematokrit dapat berperan dalam proses inflamasi, infeksi, penyakit jantung sistemik, dan proses trombosis sehingga dapat menyebabkan eksaserbasi gagal jantung kongestif menjadi gagal jantung akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar hematokrit dengan kelas NYHA pada pasien gagal jantung kongestif obesitas sentral yang dirawat jalan dan dirawat inap. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan metode potong lintang. Sampel penelitian ialah pasien gagal jantung kongestif obesitas sentral di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado yang berlangsung dari bulan November 2014-Januari 2015. Sampel terdiri dari 20 pasien rawat jalan dan 20 pasien rawat inap yang dipilih secara purposive sampling. Hasil analisis korelasi spearman menunjukkan korelasi r = 0,558 dengan nilai p = 0,000 (p<0,05). Simpulan: Terdapat tingkat hubungan yang sedang dan bermakna antara kadar hematokrit dan kelas NYHA pada pasien gagal jantung kongestif obesitas sentral yang dirawat jalan dan dirawat inap.Kata kunci: gagal jantung kongestif, obesitas sentral, hematokrit, kelas NYHA
Hubungan hematokrit dengan SGOT dan SGPT pada obesitas sentral Reak, Aryant D.; Wantania, Frans E.; Waleleng, Bradley J.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14402

Abstract

Abstract: Obesity is a multifactorial disease secondary to excessive accumulation of fat tissue which can harm the health condition. Obesity occurs when a large and number of fat cells growing in a person's body. The adverse effect of obesity is not only related to total body weight, but also to the distribution of fat deposits. Central or visceral obesity has a higher risk for some diseases compared to diffuse accumulation of fat in the subcutaneous tissue. Central obesity can increase the hematocrit, as well as SGOT and SGPT values. This study was aimed to determine the correlation of hematocrit with SGOT and SGPT in central obesity. This was an analytical study with a cross sectional design. Samples were selected by using consecutive sampling method. Laboratory examinations were performed in Prokita laboratory from September 2016 to November 2016. The results of Spearman correlation analysis on the correlation between hematocrit and SGOT showed an r value of 0.162 and a p value of 0.419. Meanwhile, the correlation between hematocrit and SGPT showed an r value of 0.118 and a p value of 0.558. Conclusion: There was no correlation between hematocrit and either SGOT or SGPT in central obesity.Keywords: central obesity, hematocrit, SGOT, SGPT Abstrak: Obesitas adalah suatu penyakit multifaktorial yang terjadi akibat akumulasi lemak jaringan berlebihan, sehingga dapat menggangu kesehatan. Efek merugikan obesitas tidak hanya berkaitan dengan berat badan total, tetapi juga distribusi simpanan lemak. Obesitas sentral atau visceral, memeliki risiko yang jauh lebih tinggi untuk beberapa penyakit dibandingkan dengan kelebihan akumulasi lemak difus dijaringan subkutis. Pada obesitas sentral dapat terjadi peningkatan nilai hematokrit, SGOT, dan SGPT. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hematokrit dengan SGOT dan SGPT pada obesitas sentral. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode consecutive sampling. Pemeriksaan sampel dilakukan di laboratorium Prokita pada bulan September 2016 – November 2016. Hasil analisis korelasi Spearman pada hubungan hematokrit dengan SGOT mendapatkan nilai r = 0,162 dan p = 0,419 sednagkan hubungan hematokrit dengan SGPT mendapatkan nilai r = 0,118 dan p = 0,558. Simpulan: Tidak terdapat hubungan hematokrit dengan SGOT dan SGPT pada obesitas sentral. Kata kunci: obesitas sentral, hematokrit, SGOT, SGPT
PROFIL LIPID PADA PASIEN DENGAN PENYAKIT JANTUNG KORONER DI BLU RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU TAHUN 2012 Lee, Jian A.; Rotty, Linda; Wantania, Frans E.
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v3i1.7480

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a health problem that increases the number of events globally. Medical doctor as the first line in the treatment of diabetes are required to have good knowledge about its management. Students of the Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi trained to become medical doctor were had good knowledge about management of diabetes melitus. The problem is what is the description of knowledge about DM management on undergraduate students and professional education programs of medical doctor (P3D) students. This study aimed to compare the level of knowledge about DM management among undergraduate students and P3D students of Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi. This was a descriptive analytical study with a quantitative approach involving 80 subjects were selected based consecutive sampling and was answered the questionnaire about knowledge of DM management. Results: The subjects knowledge about DM management in undergraduate students from 40 subject result 1 subject (2.5%) are included in the category of good knowledge, 7 subject (17.5%) had moderate knowledge and 32 subjects (80%) are included of low knowledge. From the P3D students, 3 subjects (7.5%) with good knowledge category, 25 subjects (62.5%) with moderate knowledge and 12 subjects (30%) with low knowledge category. Conclusion: Knowledge level about DM management among undergraduate students was still low. P3D student knowledge level about diabetes management was classified as moderate. Knowledge level about diabetes management among P3D students was better than undergraduate students.Keywords: Knowledge, medical students, management of diabetes mellitusAbstrak: Penyakit Jantung Koroner merupakan salah satu bentuk dari penyakit kardiovaskuler (penyakit jantung dan pembuluh darah) yang menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Penyebab PJK secara pasti belum diketahui, meskipun demikian secara umum dikenal berbagai faktor yang berperan penting terhadap timbulnya PJK yang disebut sebagai faktor risiko PJK seperti Dislipidemia , Hipertensi , dan obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk Mencari tahu Peran penting Peningkatan profil Lipid pada pasien Penyakit Jantung Koroner di BLU RSUP Prof Kandou tahun 2012. Penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat deskriptif dan dilaksanakan dengan cara mengambil / mengumpulkan data sekunder rekam medis sebanyak 32 sampel di Bagian Ilmu Penyakit Dalam sub.bagian kardiovaskuler RSUP Prof. DR. R. D. Kandou Manado. Dari 32 sampel pasien Penyakit jantung koroner Manado81%(26 orang) dengan kolestrol total yang di inginkan , 91%(29 orang) dengan LDL rendah , 69%(22 orang) dengan trigliserida yang di inginkan , dan 47%(16 orang) dengan LDL batas normal tertinggi. Simpulan: Profil lipid sangat berperan penting dalam proses terjadinya penyakit jantung koroner terutama pada peningkatan LDL dan penurunan HDLKata kunci: pengetahuan, mahasiswa kedokteran, manajemen diabetes mellitus
Hubungan kadar hematokrit dengan tekanan darah pada pria dewasa muda obesitas sentral Puspitarinie, Nadiah D.; Wantania, Frans E.; Rotty, Linda W.A.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14455

Abstract

Abstract: Abdominal obesity is the accumulation of body fat in the abdomen that is most prevalent in males. The prevalence of abdominal obesity in Indonesia increased from 2007 (18.8%) to 2013 (26.6%) and North Sulawesi was the second rank of abdominal obesity among other provinces. Some studies suggested that there was a relationship between hematocrit, blood viscosity, and blood pressure, however, there is no study about these three parameters in young adult males with abdominal obesity so far. This study was aimed to determine the relationship between hematocrit and systolic blood pressure (SBP) as well as diastolic blood pressure (DBP) in young adult males with abdominal obesity. This was a cross-sectional analytical study in 42 male students aged 18-40 years of Faculty of Medicine, University of Sam Ratulangi Manado. The Spearman correlation test showed r= 0.208 and p= 0.186 for hematocrit level and SBP; and r= 0.339 and p= 0.028 for hematocrit level and DBP. Conclusion: There was a significant positive relationship between hematocrit and diastolic blood pressure but not with systolic blood pressure in male young adults with abdominal obesity.Keywords: blood pressure, hematocrit, abdominal obesity Abstrak: Obesitas sentral adalah penumpukan lemak dalam tubuh di bagian perut, paling banyak terjadi pada pria. Prevalensi obesitas sentral di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun 2007 (18,8%) hingga tahun 2013 (26,6 %) dimana Sulawesi Utara merupakan provinsi kedua tertinggi dengan obesitas sentral pada tahun 2013. Beberapa penelitian menyatakan bahwa terdapat hubungan antara kadar hematokrit, viskositas darah, dan tekanan darah namun penelitian secara khusus pada pria dewasa muda dengan obesitas sentral belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar hematokrit dengan tekanan darah sistolik (TDS) dan diastolik (TDD) pada pria dewasa muda obesitas sentral. Jenis penelitian ialah analitik korelasi dengan desain potong lintang pada 42 mahasiswa pria usia 18-40 tahun di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Hasil uji korelasi Spearman mendapatkan nilai r= 0,208 dan nilai p= 0,186 pada kadar hematokrit dengan TDS. Hasil uji korelasi Spearman mendapatkan nilai r= 0,339 dan nilai p= 0,028 pada kadar hematokrit dengan TDD. Simpulan: Pada pria dewasa muda dengan obesitas sentral didapatkan hubungan bermakna antara kadar hematokrit dengan tekanan darah diastolik namun tidak dengan tekanan darah sistolik. Kata kunci: tekanan darah, hematokrit, obesitas sentral
Hubungan antara lingkar pinggang dengan kadar hematokrit pada pria dewasa muda Villarsi, Devinda; Rotty, Linda W.A.; Pandelaki, Karel; Wantania, Frans E.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14460

Abstract

Abstract: Central obesity plays an important role in the changes of blood circulation that can lead into several chronic diseases. The changes of blood circulation can be detected as earlier as possible by checking the hematocrit levels regularly. This study was aimed to determine the correlation between waist circumference and hematocrit levels in young adult males, This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. Respondents were young adult males aged 20-28 years. This study was conducted from October 13 until November 11, 2016. Respondents were 38 young adult males consisting of 27 males with central obesity and 11 males without central obesity. The result of Spearman’s rho analysis of the correlation between waist circumference and hematocrit level resulted in r=0.156 and p=0.350. Conclusion: There was a weak positive correlation between waist circumference and hematocrit levels in young adult males but was not statistically significant.Keywords: central obesity, hematocrit, young adult men. Abstrak: Obesitas sentral berperan penting terhadap terjadinya perubahan aliran darah dalam tubuh manusia yang selanjutnya dapat menimbulkan beberapa penyakit kronik. Perubahan aliran darah dapat dideteksi sedini mungkin dengan melakukan pemeriksaan kadar hematokrit secara teratur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lingkar pinggang dengan kadar hematokrit pada laki-laki dewasa muda. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Responden penelitian ialah mahasiswa laki-laki berusia 20-28 tahun. Penelitian ini berlangsung dari tanggal 13 Oktober - 11 November 2016 dengan responden berjumlah 38 orang yang terdiri dari 27 mahasiwa obes sentral dan 11 mahasiswa non-obes sental. Hasil analisis uji Spearman’s rho antara lingkar pinggang dengan kadar hemoglobin dari 38 responden diperoleh koefisien korelasi r = 0,134 dengan nilai p = 0,422. Simpulan: Terdapat hubungan positif lemah yang tidak bermakna antara lingkar perut dan hemoglobin. Kata kunci: obesitas sentral, hematokrit, pria dewasa muda
HUBUNGAN ANTARA KADAR ASAM URAT DENGAN TEKANAN DARAH PADA MAHASISWA PRIA OBESITAS SENTRAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO Mansur, Siti N.; Wantania, Frans E.; Surachmanto, Eko
e-CliniC Vol 3, No 1 (2015): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.3.1.2015.7392

Abstract

Abstract: Inflammation plays an important role in hypertension process and central obesity. Recent studies found that hyperuricemia was also related to inflammation. This study aimed to find out the relation between uric acid level with blood pressure among central-obese-male students in the Faculty of Medicine Unsrat. Methods: This was an analytical study with a cross section design. There were 37 people as samples. Data were obtained by measuring the waist size, blood pressure, and uric acid. The data were analyzed with the Statistical Product and Service Solution (SPSS) and Pearson correlation test. The results showed that most respondents were 19 years old (12 respondents, 32.4%) and the lowest were 17, 22 and 23 years old, each of them was 1 person (2.7%). The mean systolic blood pressure was 130.54 mmHg (SD ± 10.259). The mean diastolic blood pressure was 88.11 mmHg (SD ± 7.760). The mean level of uric acid was 7.514 mg/dL (SD ± 1.65). This study showed that there was some significant relation between the systolic blood pressure and uric acid level (p=0.019), as well as between the diastolic blood pressure and uric acid level (p=0.022). Conclusion: There was a significant correlation between the uric acid level and blood pressure in male students with central obesity.Keywords: obesity, uric acid, blood pressureAbstrak: Inflamasi berperan penting dalam proses terjadinya hipertensi dan obesitas sentral. Pada penelitian terkini ditemukan bahwa hiperurisemia juga berhubungan dengan proses inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar asam urat dengan tekanan darah pada mahasiswa pria obesitas sentral Fakultas Kedokteran Unsrat. Penelitian ini bersifat analitik menggunakan rancangan potong lintang dengan sampel berjumlah 37 orang. Data diperoleh melalui pemeriksaan lingkar perut, tekanan darah, dan asam urat. Data dianalisis dengan menggunakan Statistical Product and Service Solution (SPSS) dan uji Pearson correlation. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sebagian besar responden berada pada kategori umur 19 tahun (12 responden, 32,4%) dan terendah umur 17, 22, dan 23 tahun masing-masing sejumlah 1 orang (2,7%). Berdasarkan nilai mean dapat dilihat bahwa rerata tekanan darah sistol 130,54 mmHg (SD ± 10,259). Rerata tekanan darah diastol 88,11 mmHg (SD ± 7,760). Rerata kadar asam urat responden 7,514 mg/dL (SD ± 1,65). Hasil penelitian menunjukkan secara statistik terdapat hubungan yang bermakna, baik antara tekanan darah sistol dan asam urat (p=0,019) maupun antara tekanan darah diastol dan kadar asam urat (p=0,022). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara kadar asam urat dan tekanan darah pada mahasiswa pria obesitas sentral.Kata kunci: obesitas, asam urat, tekanan darah
Hubungan asam urat dan HbA1c pada penderita diabetes melitus tipe 2 yang dirawat inap di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado Guntur, .; Ongkowijaya, Jeffrey; Wantania, Frans E.
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.4.2.2016.14597

Abstract

Abstrak: Diabetes mellitus is a metabolic disorder with characteristics of hyperglycemia that occurs due to abnormalities in insulin secretion, action or both. Uric acid is the end product of purine metabolism. Uric acid has been identified as a marker for a metabolic number and hemodynamic abnormalities. In diabetic patients, there is biochemical interaction between serum glucose and purine metabolism, with increased excretion of uric acid during hyperglycemia and glycosuria. Another theory explained that the increase of inflammatory response on diabetes mellitus may have a direct protective effect toward incidences of gout and hyperuricemia which directly produces an intense inflammatory response on uric crystallines containing antioxidant effects and free radical. HbA1C is a bond between glucose and hemoglobin. HbA1c examination is a standard for measuring the long-term glycemic value in diabetic patients. This study was aimed to determine the correlation of uric acid and HbA1C in patients with type 2 diabetes mellitus. The study was an analytical cross sectional. Sample selection was done by simple random sampling method. Data sources were secondary data from medical records of patients with type 2 diabetes mellitus who are hospitalized. The result of Spearman correlation analysis on the correlation of uric acidand HbA1C showed r value = -0.211 and p = 0.263 (p>α). Conclusion: There was no correlation between uric acid and HbA1C in patients with type 2 diabetes mellitus.Keywords: Type 2 diabetes mellitus, uric acid, HbA1C Abstrak: Diabetes melitus merupakan suatu kelompok metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. Asam urat merupakan produk akhir metabolisme purin. Asam urat telah diidentifikasi sebagai penanda dari beberapa abnormalitas metabolik dan hemodinamik. Pada pasien diabetes melitus, dijumpai interaksi biokimiawi antara glukosa serum dan metabolisme purin, dengan peningkatan ekskresi asam urat selama hiperglikemia dan glikosuria. Teori lain menjelaskan bahwa meningkatnya respons inflamasi pada DM mungkin secara langsung justru memiliki efek protektif terhadap kejadian gout dan hiperurisemia yang secara langsung menghasilkan respons inflamasi yang intens terhadap kristal urat yang memiliki efek anti oksidan dan radikal bebas. HbA1C merupakan ikatan antara glukosa dengan hemoglobin. Pemeriksaan HbA1C merupakan standard dalam pemeriksaan kadar gula darah jangka panjang pada penyandang diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asam urat dan HbA1C pada penderita diabetes melitus tipe 2. Jenis penelitian ialah analitik dengan desain potong lintang. Pemilihan sampel dilakukan dengan metode simple random sampling. Sumber data merupakan data sekunder dari data rekam medik pasien diabetes melitus tipe 2 yang dirawat inap. Hasil analisis korelasi spearman pada hubungan asam urat dengan HbA1c memperoleh nilai r = -0,211dan p = 0,263 (p > α). Simpulan: Tidak terdapat hubungan asam urat dengan HbA1C pada penderita diabetes melitus tipe2. Kata kunci: diabetes melitus tipe 2, asam urat, HbA1C