Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Konsep “ALO” Dayak Kenyah dalam Perspektif Liyan menurut Sartre Alfrid Mali
Jurnal Budaya Nusantara Vol 5 No 2 (2022): NUSANTARA DAN RITUS
Publisher : Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/b.nusantara.vol5.no2.a4593

Abstract

Masyarakat Dayak Kenyah memandang orang asing dengan sebutan “Alo”. Konsep “Alo” secara khusus mereka memandang untuk orang asing yang tidak berasal dari suku mereka adalah “Alo”. Secara Harafiah Kata “Alo” berarti asing, dan dikenakan dalam kehidupan bersama para pendatang sebagai “Alo”. Konsep “Alo” yang sudah menjadi kebiasaan umum menunjukkan ada penempatan Kebijakan masyarakat bagi orang-orang yang dikenakan “Alo”. Kebijakan untuk dikenakan adat atau aturan adat bisa menjadi pertimbangan karena “Alo”. Konsep “Alo” disandingkan dengan perspektif Liyan menurut Sarte yakni membahas orang lain. “Alo” memandang Liyan sebagai yang asing atau berbeda dengan mereka dalam hal budaya dan latar belakang, sehingga “Alo” juga menjadi Liyan yang dikenal. Sarte melihat orang lain sebagai dia yang membahayakan. Orang lain sebagai pribadi yang mendatangkan malapetaka. Pandangan Sartre dan Budaya Kenyah dipertemukan dan diangkat menjadi dialog dalam memandang orang lain sebagai yang asing. Nilai positif dan negatif yang bisa temukan menjadi landasan berpikir dalam penempatan orang lain yang tidak dikenal. Nilai Positifnya adalah ada kewaspadaan diri dan nilai negatifnya berprasangka buruk kepada orang lain. Metodologi yang digunakan adalah analisis kualitatif kedua perspektif untuk menemukan relevansi bagi kehidupan bermasyarakat.
KESEPAKATAN NIKAH ADAT UMA BUAHAN SUKU TETUN DALAM TERANG GEREJA KATOLIK Alfrid Mali
Jurnal Budaya Nusantara Vol 5 No 3 (2022): NUSANTARA DAN RITUS
Publisher : Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/b.nusantara.vol5.no3.a6160

Abstract

Semua budaya dan agama mempunyai ritus atau kebiasaan tersendiri mengenai Perkawinan. Ada prosedur dan tatacara untuk melaksanakan perkawinan tersebut. Karena keberagaman latar belakang budaya maupun agama menjadikan keberagaman pelaksanaan tahapan perkawinan. Penulisan ini mengangkat mengenai kesepakatan nikah adat ‘Uma Buahan’ Suku Tetun yang ada di Pulau Timor dalam Terang Gereja Katolik. Perjumpaan Kesepakatan Nikah antara Budaya dan Agama yang saling mendukung atau bisa juga saling bertentangan. Ada diskusi dan dialog dari kedua persepsi baik Budaya dengan Agama yang mencapai pada sebuah tujuan yakni kesejahteraan Keluarga. Tujuan kesepakatan Nikah dari Budaya atau Agama menemukan titik temu bersama dari dua perspektif untuk kebaikan bersama terhadap calon pasangan, keluarga besar dari kedua calon pasangan. Penulisan ini menggunakan metode Refleksi Analisis Fenomenologi Budaya dengan tinjau Hukum Gereja perkawinan Agama Katolik. Makna dan arti dari tahapan Pernikahan yang memiliki kesepakatan nikah dalam budaya ‘Uma Buahan’ Suku Tetun direfleksikan dan dianalisis dalam Gereja Katolik dengan Hukum Gereja Perkawinan. Perjumpaan ini akan menemukan sebuah pandangan baru yang bisa diterima budaya maupun agama dalam tahapan pernikahan. Inti dari Pembahasan ini melihat dialog budaya dan agama.