Satria Adhitama
Politeknik Keuangan Negara STAN

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

NILAI-NILAI KEINDONESIAAN DALAM AGAMA SIKH Satria Adhitama
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 22 No 1 (2022): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v22i1.2756

Abstract

Indonesia memiliki keragaman ras, suku, budaya, dan agama. Keberagaman ini berpotensi menimbulkan konflik apabila tidak dikelola dengan baik. Untuk meminimalisir konflik yang mungkin terjadi, diperlukan nilai-nilai keindonesiaan yang sesuai dengan Pancasila. Nilai keindonesiaan ini harus dimiliki oleh setiap entitas, termasuk kelompok agama di Indonesia, salah satunya agama Sikh. Penelitian ini bertujuan untuk menggali secara mendalam nilai keindonesiaan dalam agama Sikh. Untuk mencapai tujuan tersebut, penulis menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data wawancara mendalam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam ajaran agama Sikh terdapat lima butir nilai keindonesiaan yang sejalan dengan pancasila berupa nilai ketuhanan, nilai keadilan, nilai persatuan, nilai musyawarah, dan nilai keadilan sosial. Dengan memahami hal tersebut, diharapkan sikap intoleransi yang dapat menimbulkan perpecahan antar umat beragama di Indonesia dapat dicegah dengan memaknai nilai-nilai keindonesiaan dalam setiap agama.
KONSEP RELIGIUSITAS KEPERCAYAAN MALESUNG MENURUT ORGANISASI LALANG RONDOR MALESUNG (LAROMA) Satria Adhitama
DHARMASMRTI: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 21 No 2 (2021): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v21i2.2130

Abstract

Malesung adalah kepercayaan yang hidup di Provinsi Sulawesi Utara dilaksanakan oleh beberapa organisasi salah satunya Lalang Rondor Malesung (Laroma). Penelitian ini bertujuan untuk menggali konsep religiusitas kepercayaan Malesung yang dilaksanakan oleh Laroma. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data wawancara mendalam. Konsep religiusitas kepercayaan Malesung diwujudkan dalam hubungan antara manusia dan Tuhan yang digambarkan seperti layaknya hubungan antara orang tua dan anak, serta leluhur sebagai perantara. Konsep hubungan antarmanusia digambarkan melalui ajaran Si Tou Timou Tumou Tou yang berarti manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain. Malesung juga mengajarkan hubungan yang seimbang antara manusia dan alam. Religiusitas anggota Laroma juga diperlihatkan dengan adanya pedoman tingkah laku yaitu terdapat lima kesetiaan, lima wawasan moral, dan sembilan wejangan (siow sususuyang) yang terdiri dari sembilan nasihat (siow sisina’u) dan sembilan larangan (siow poso). Religiusitas penghayat Malesung tampak pada kepercayaannya akan hal-hal gaib, kepemimpinan Walian, dan pelaksanaan ritual salah satunya Meru Nubat.
IMPLEMENTASI AJARAN KEJAWEN OLEH PAGUYUBAN BUDAYA BANGSA Satria Adhitama
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol 22 No 2 (2022): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v22i2.3378

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Paguyuban Budaya Bangsa menjalankan ajaran Kejawen. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Paguyuban Budaya Bangsa adalah salah satu organisasi kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang ada di Indonesia khususnya di daerah Jawa Bagian Tengah yang menjalankan ajaran Kejawen. Paguyuban Budaya Bangsa pertama kali dicetuskan oleh Ki Bagus Hadi Kusumo dinamakan ajaran Kawruh Naluri (KWN) dan mulai disebarkan tahun 1917 dan terus berkembang hingga saat ini terutama di daerah Gombong, Cilacap, Banjarnegara, dan Lampung dengan nama Paguyuban Budaya Bangsa. Berdasarkan hasil wawancara dan studi kepustakaan, Paguyuban Budaya Bangsa melaksanakan tiga falsafah Kejawen yaitu sangkan paraning dumadi, manunggaling kawulo Gusti, dan memayu hayuning bawana melalui ajaran dasar, sesanti, dan Panca Bhakti. Selain itu falsafah Kejawen tersebut juga dilakukan dalam laku spiritual sehari-hari dan laku manembah.
Konsep Religiusitas Masyarakat Adat Musi - Talaud Satria Adhitama
Kamaya: Jurnal Ilmu Agama Vol 6 No 1 (2023)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/kamaya.v6i1.2021

Abstract

The many sects of belief grow and develop in Indonesia, making some people think that these beliefs are a deviant group. One of the beliefs that live in Indonesia is the Musi Indigenous belief in the Talaud Islands. This study aims to provide a clear and comprehensive picture of the concept of religiosity of the Adat Musi adherents in the Talaud Islands. This research is important because with a clear picture, it is hoped that negative views about the religion of the archipelago or the flow of belief in God Almighty will decrease. This research is a social research with constructivism paradigm and descriptive qualitative approach. The method of data collection was carried out by in-depth interviews. The concept of the religiosity of the Adat Musi can be seen from the teachings of the Adat Musi, the acceptance of revelation by Bawangin Panahal, the rituals of worship, and various kinds of rituals performed by its adherents, starting from the ritual of feeding babies (baptism), marriage rituals, and death rituals. In addition, the ritual of farming and the establishment of houses for the adherents is also an important ritual for the adherents of the Adat Musi. The most emphasized by Adat Musi is the farming ritual which consists of several stages, namely Mallintukku Harele, Mallintukku Wuallannna, and Umanna Amme Wakku.
Analisis Keterbukaan Sikap Wihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa Terhadap Agama dan Kepercayaan Lain Satria Adhitama
Kamaya: Jurnal Ilmu Agama Vol 6 No 2 (2023)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/kamaya.v6i2.2431

Abstract

Indonesia is a pluralistic country with various religious entities and beliefs that live and develop in Indonesia. This plurality has the potential to cause conflict. Conflict can be avoided by the openness of religious institutions towards other religions or beliefs. One of the ways to show this is the openness of a house of worship towards other religions and beliefs. This research aims to dig deeper into the openness of the attitude of the Nam Ha Kwan Se Im Pu Sa Temple towards other religions and beliefs. Data was collected by deep interviews, observation, and documentation. The selection of informants or research subjects was carried out purposively. This temple has a very open attitude towards other religions and beliefs by making altars or pavilions for holy figures of other religions and beliefs. This temple not only honors Buddhist figures but also other figures such as Macopo from Taoism, Spiritual Bells from Confucianism, Our Lady from Catholicism, Lord Ganesha from Hinduism, Eyang Semar from Java, Eyang Prabu Siliwangi from Tatar Sunda, and Nyai Roro Kidul who is trusted by local residents as the sovereign of the South Sea. In addition to erecting altars and pavilions for holy figures of other religions and beliefs, this temple also organizes religious rituals adapted to local culture. Not only during cap go, the Kliwon Friday Night ritual is also carried out by this temple.
SEJARAH DAN KONSEP RELIGIUSITAS GERAKAN MASYARAKAT KESADARAN KRISHNA INTERNASIONAL Satria Adhitama
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 23 No. 2 (2023): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v23i2.4836

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam bagaimana ajaran Hare Krishna atau Gerakan Masyarakat Kesadaran Krishna Internasional (International Society For Krishna Consciousness/ISKCON). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data studi pustaka dan wawancara secara mendalam. ISKCON adalah gerakan keagamaan berbasis kitab suci Veda yang didirikan di luar India tepatnya Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Konsep Religiusitas Gerakan Hare Krishna atau ISKCON dapat dilihat dari tattwa atau filsafat ajaran Hare Krishna yaitu Acintya Bedha-Abheda Tattwa yang bermakna beda dan sama pada saat yang sama, demikian kebenaran adalah melampui akal manusia. Selain itu terdapat ajaran susila etika yang ditekankan oleh kelompok Hare Krishna yaitu prinsip-prinsip dharma dan prinsip-prinsip adharma. Terdapat juga tuntunan bagi penganut Hare Krishna untuk melakukan pelayanan kepada Tuhan, delapan instruksi kepada jemaat Hare Krishna yang dikenal dengan Siksha Asthakam, berbagai macam upacara pemujaan serta ritual, pengucapan mahamantra yang dilakukan secara berulang dan beramai-ramai, serta konsep religiusitas jemaat Hare Krishna juga bisa dilihat dari bagaimana seorang jemaat mencintai Sri Krishna (Lima Rasa Cinta Rohani kepada Krishna).
KAMPANYE FEMINISME DALAM TOKOH DEWI KWAN IM (BHODISATWA AVALOKITESWARA) Satria Adhitama
Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan Vol. 24 No. 1 (2024): Dharmasmrti: Jurnal Ilmu Agama dan Kebudayaan
Publisher : Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/ds.v24i1.5912

Abstract

This world is a man's world where men are considered as the main thing, while women are only considered as companions. This is known as a patriarchal culture which is supported by religious and cultural entities. This patriarchal culture raises resistance from feminist groups who fight for gender equality. Among religious figures with male personifications, there is a figure of Goddess Kwan Im in Buddhism whose influence and popularity surpasses other Buddhas and Bodhisattvas. The purpose of this study is to analyze how the campaign for feminism in the figure of Dewi Kwan Im. This study uses a constructivist paradigm with a qualitative approach and data collection uses in-depth interviews and literature study. The change in the appearance of Dewi Kwan Im from male to female had the goal of making compassionate teachings more easily accepted by Chinese society when Buddhism entered China in the first century AD. Before Buddhism entered China, Chinese women worshiped and asked for help and compassion for the goddesses of compassion in Taoism and Confucianism. In addition to these objectives, the change in Kwan Im's form from male to female is a form of feminism campaign which emphasizes that men and women have an equal position, both can achieve the highest enlightenment as Bodhisattvas, although one of the requirements to become a Buddha must be a male (lingasampatti). Dewi Kwan Im motivated Chinese women at that time to have an equal position with men. Women can achieve the highest enlightenment, women can be of service and benefit to humanity as long as they are always compassionate and spread kindness.