ABSTRAK Batik Bakaran merupakan batik yang dipercaya sebagai peninggalan Majapahit yang memiliki sejarah Panjang dan potensi artistik yang menarik. Salah satu keunikanya adalah meiliki warna khas batik pedalaman tetapi dengan corak atau motif khas pesisir seprti hasil laut. Walapun begitu batik bakaran masih bisa dibilang kalah popular dengan batik tradisi daerah lain. Selama ini pengembangan hanya terbatas flora dan fauna di daerah sekitar, masih belum banyak yang mengembangkan batik Bakaran dengan sumber ide folklore daerah tersebut yaitu Nyai Ageng Banoewati. Tujuan pengembangan ini adalah terciptanya produk Batik Bakaran yang Inovatif, Kompetitif, dan mempunyai diferensiasi produk yang tinggi.Metode perancangan diawali dengan Analisis Permasalahan, Strategi Pemecahan Masalah, Pengumpulan Data, Uji Coba dan Gagasan Awal Perancangan. Kemudian dilanjutkan dengan Proses Perancangan Colin Clipson dalam Nanang Rizali yang melewati tahap Identifikasi Masalah, Analisa Perencanaan Produksi, Proses Kreatif, Proses Produksi dan dan Distribusi Pemasaran.Hasil perancangan tekstil ini sebagai berikut: 1) Perancangan ini menghasilkan pembaharuan desain motif yang menampilkan visual folklore Nyai Ageng Banoewati dan potensi alam daerah Bakaran berupa 8 desain motif baru yang lebih kreatif. 2) Perancangan ini diaplikasikan sebagai fashion wanita berupa blus untuk wanita usia 20-25 tahun.Kata Kunci: Batik Bakaran, Fashion Wanita, Nyai Ageng Banoewati ABSTRACT Batik bakaran is believed to be a legacy of Majapahit which has a long history and interesting artistic potential. One of the uniqueness is having the distinctive color of inland batik but with typical coastal patterns or motifs such as marine products. Even so, Batik Bakaran is still arguably less popular than the traditional batik in other regions. So far, the development of this batik only limited on flora and fauna in the surrounding area, there are still not many who have developed Batik Bakaran with the source of the local folklore idea, namely Nyai Ageng Banoewati. The purpose of this development is to create Batik Bakaran products that are innovative, competitive, and have high product differentiation.The design method begins with Problem Analysis, Problem Solving Strategies, Data Collection, Trials and Initial Design Ideas. Then proceed with the Colin Clipson Design Process in Nanang Rizali which goes through the stages of Problem Identification, Production Planning Analysis, Creative Process, Production Process and Marketing Distribution.The results of this textile design are as follows: 1) This design results in a renewal of the motif design featuring the visual folklore of Nyai Ageng Banoewat and the natural potential of the Bakaran area in the form of 8 new, more creative motif designs. 2) This design is applied as women's fashion in the form of blouses for women aged 20-25 years.Keywords: Batik Bakaran, Women Fashion, Nyai Ageng banoewati.