Azizul Hakiki
Universitas Bhayangkara Surabaya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) Yang Diterbitkan Berdasarkan Perdamaian Antara Tersangka dan Pelapor dalam Delik Biasa Azizul Hakiki
Wacana Paramarta: Jurnal Ilmu Hukum Vol 21 No 1 (2022): Wacana Paramarta: Jurnal Ilmu Hukum XXI:1:2022
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Langlangbuana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32816/paramarta.v21i1.147

Abstract

Surat Perintah Penghentian Penyidikan atau selanjutnya disebut dengan SP3 adalah kewenangan yang diberikan secara atributif kepada penyidik tindak pidana. Pasal 109 Ayat (2) Undang Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) menyatakan bahwa terdapat tiga syarat untuk menghendikan suatu penyidikan tindak pidana. Pertama, tidak ada cukup bukti. Kedua, perbuatan yang dilakukan oleh tersangka bukan merupakan suatu tindak pidana. Ketiga, penyidikan dihentikan demi hukum. Ketiga syarat tersebut merupakan syarat yang bersifat alternatif. Pada tataran implementasi, terdapat banyak perkara-perkara yang dihentikan karena memenuhi tiga persyaratan tersebut. Akan tetapi tidak jarang pula dilakukan penghentian penyidikan terhadap suatu kasus yang sudah naik ke tahap penyidikan dikarenakan sudah ditemukannya kesepakatan perdamaian antara tersangka dengan pelapor melalui mekanisme mediasi yang difasilitasi oleh penyidik kepolisian. Implikasi dari kesepakatan yang tercapai pada tahap mediasi tersebut adalah dicabutnya laporan polisi oleh pelapor. Dalam konteks ini, perkara tersebut merupakan perkara dengan status delik biasa yang artinya apabila terjadi pencabutan laporan maka pencabutan tersebut tidak dapat mempengaruhi proses penanganan perkara. Perkara harus tetap berlanjut dan tidak dapat dihentikan dengan alasan apapun, kecuali alasan-alasan yang terdapat pada Pasal 109 Ayat (2) KUHAP. Fakta bahwa dicabutnya laporan polisi tersebut mengakibatkan perkara tersebut tidak dilanjutkan alias dihentikan dibuktikan dengan diterbitkannya Surat Perintah Penghentian Penyidikan atau SP3, dilanjutkan dengan Surat Ketetapan Penghentian Penyidikan (SKPP). Padahal telah diatur secara tegas pada Pasal 109 Ayat (2) KUHAP tentang syarat-syarat dapat dihentikannya suatu penyidikan sebagaimana telah disinggung pada awal tulisan ini bahwa kesepakatan perdamaian tidak termasuk sebagai salah satu syarat untuk dapat diterbitkannya Surat Perintah Penghentian Penyidikan. Tulisan ini bermaksud untuk memberikan analisa dari segi hukum normatif perihal keabsahan penghentian penyidikan yang dilakukan berdasarkan perdamaian antara tersangka dan pelapor dalam hal delik biasa. Penyidikan yang dihentikan atas dasar tercapainya kesepakatan perdamaian akan membuka celah bagi pihak ketiga yang berkepentingan untuk menempuh mekanisme praperadilan yang tujuannya adalah menguji tentang sah atau tidaknya penghentian penyidikan tersebut.
Criminal Liability of Hospitals and Medical Personnel for Medical Malpractice in Indonesia Mulyana Riskiawati Pratiwi; Azizul Hakiki
DE RECHT (Journal of Police and Law Enforcement) Vol. 4 Issue 1 (2026)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55499/derecht.v4i1.403

Abstract

Medical malpractice cases represent a serious concern in healthcare services, as they have the potential to cause physical harm, psychological distress, and even death to patients. This study aims to analyze the forms of criminal liability imposed on hospitals and medical personnel in malpractice cases, based on a review of Court Verdict Number 85/Pdt/2021/PT PAL. The research adopts a normative juridical approach with a case study method, examined through applicable legislation, legal doctrine, and an analysis of the court decision's substance. The findings indicate that in the aforementioned decision, legal responsibility was not solely attributed to individual medical personnel, but extended to the hospital institution as a party bearing administrative and operational responsibility for healthcare services. The panel of judges determined that negligence had occurred in the application of standard medical procedures, alongside the hospital's failure to exercise adequate supervision over its medical staff. This decision serves as a significant precedent in strengthening the criminal dimension within the domain of medical malpractice, and affirms that hospitals cannot absolve themselves of legal responsibility when ethical and professional violations are committed by medical personnel under their institutional authority.
Law Enforcement Against Online Gambling Advertising on Social Media: An Empirical Study of Polres Sidoarjo Teguh R. D Putra; Azizul Hakiki
DE RECHT (Journal of Police and Law Enforcement) Vol. 3 Issue 2 (2025)
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55499/derecht.v3i2.380

Abstract

The rapid expansion of digital technology has enabled online gambling operators to exploit social media platforms as primary channels for advertising illegal services, posing significant challenges to law enforcement in Indonesia. This study examines how the Sidoarjo District Police (Polres Sidoarjo) identify and respond to criminal acts involving the promotion of online gambling sites through social media, and what law enforcement measures are applied against perpetrators. Employing an empirical legal research design, primary data were gathered through semi-structured interviews with the Head of the Special Crime Sub-Unit (Kasubmit Tipiter) of Polresta Sidoarjo, supplemented by secondary data drawn from statutory instruments and academic literature. The findings indicate that Polres Sidoarjo relies primarily on cyber patrol conducted in coordination with the Cybercrime Polda Jatim to detect and flag gambling-related promotional content across major social media platforms. Enforcement, however, is constrained by a structural bifurcation of authority between the police and the Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), limited digital forensic capacity at the local unit level, and the transnational character of illegal gambling operations. In response to these limitations, the unit has institutionalized weekly community education programs as a demand-side complement to criminal prosecution. These findings confirm and empirically specify prior scholarly conclusions regarding the persistent gap between Indonesia's legal framework on online gambling and its practical enforcement, underscoring the urgency of sustained inter-agency coordination and institutional capacity building at the local policing level.