p-Index From 2021 - 2026
1.259
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Mabasan
Lukmanul Hakim
Badan Riset dan Inovasi Nasional

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MAKIAN DALAM BAHASA SASAK DIALEK E-E Lukmanul Hakim
MABASAN Vol. 16 No. 1 (2022): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v16i1.506

Abstract

Ungkapan makian di setiap daerah memiliki keunikan dan kecirikhasan tersendiri. Ungkapan makian merupakan bentuk pelampiasan perasaan yang terpendam dalam hati karena situasi yang tidak menyenangkan. Bahasa Sasak dialek e-e juga memiliki ungkapan makian yang unik dan berciri khas tersendiri. Tujuan penelitian ini mendeskripsikan bentuk dan referensi makian bahasa Sasak dialek e-e. Metode dalam penelitian ini ialah metode kualitatif deskriptif. Tahap penelitian meliputi (1) penyediaan data; (2) penganalisisan data, dan (3) penyajian hasil analisis data. Data diperoleh melalui teknik pustaka dan wawancara langsung dengan teknik libat cakap catat. Data diklasifikasikan berdasarkan permasalahan yang ada. Data diperoleh dari beberapa informan bahasa Sasak dialek e-e. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk makian bahasa Sasak dialek e-e adalah makian berbentuk kata dan frasa. Makian bahasa Sasak dialek e-e dalam bentuk kata adalah kapir ‘kapir’, jahanam ‘jahanam’, haram ‘haram’, telaknat ‘dilaknat’, jadah ‘jadah’, setan ‘setan’, iblis ‘iblis’, tele ‘nakal’, perot ‘penakut’, penipu ‘penipu’, melak ‘rakus’, noaq ‘durhaka’, ekik ‘pengotor’, bodo ‘bodoh’, belok ‘bodoh’, bungun ‘bodoh’, bongoh ‘bodoh’, jadik ‘durhaka’, gedok ‘tuli’, letaq ‘dekil’, benguq ‘bau’, belang ‘binal’, lekak ‘pembohong’, jogang ‘gila’, melut ‘agak gila’, tele ‘kemaluan perempuan’, dagun ‘besar kepala’, butak ‘botak’, bontet ‘besar perut’, buntet ‘pendek tubuh’, koyos ‘sangat kurus’, mokoh ‘gemuk’, tempang ‘pincang’, densrot ‘pincang’, bute ‘buta’, jeweh ‘besar bibir’, jungaq ‘mulut maju’, pengot ‘miring mulut’, bungkuk ‘bungkuk’, pesot ‘kempes paha’, borot ‘besar kemaluan’, basong ‘anjing’, bewi ‘babi’, godik ‘monyet’, sempi ‘sapi’, jaran ‘kuda’, ujat ‘serigala’, ulah ‘ular’, lentaq ‘lintah’, tekeq ‘tokek’, ngerodok ‘makan’, jeler ‘lihat’, maling ‘maling’, copet ‘copet’, sundel ‘sundal’, ubek ‘pelacur’, pekir ‘pengemis’, dan berong ‘penyakit kusta’. Makian bahasa Sasak dialek e-e dalam bentuk frasa adalah anak kapir ‘anak kafir’, anak jadah ‘anak haram’, maraq setan ‘seperti setan’, anak setan ‘anak setan’, maraq iblis ‘seperti iblis’, anak iblis ‘anak iblis’, teu selaq ‘leak’, tain tele ‘kotoran kemaluan perempuan’, loang tele ‘lubang kemaluan perempuan’, pesok mue ‘peot’, tunggak elak ‘pangkal lidah, beleq baduk ‘besar perut’,  maraq basong ‘seperti anjing’, anak basong ‘anak anjing’, maraq bewi ‘seperti babi’, anak bewi ‘anak babi’, anak godik ‘anak monyet’, maraq sempi ‘seperti sapi’, maraq jaran ‘seperti kuda’, maraq ujat ‘seperti serigala’, maraq ulah ‘seperti ular’, maraq lentaq ‘seperti lintah’, tain basong ‘kotoran anjing’, tain jaran ‘kotoran kuda’, dan dengan gawah ‘orang hutan. Referensi makian yang ditemukan dalam Bahasa Sasak dialek e-e mengacu pada agama/kepercayaan, makhluk gaib, sifat/keadaan, anggota tubuh, binatang, aktivitas, profesi rendah, asal daerah terpencil, dan penyakit.
MEDAN MAKNA AKTIVITAS TANGAN DALAM BAHASA SASAK Lukmanul Hakim
MABASAN Vol. 16 No. 2 (2022): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v16i2.571

Abstract

Penelitian ini bertujan untuk mendeskripsikan komponen medan makna aktivitas tangan dalam bahasa Sasak. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitiaan ini ialah metode deskriptif dengan bentuk kualitiatif. Data dalam penelitian ini didapatkan dari 30 sampel penutur asli bahasa Sasak dialek a-e dari dua desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Lombok Tengah. Data dalam penelitian ini berupa data Kamus bahasa Sasak Indonesia dan data lisan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode pustaka, cakap, dan simak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa medan makna aktivitas tangan dalam bahasa Sasak 125 leksem dan dikelompokkan berdasarkan komponen makna yang ada di dalamnya menjadi 25 submedan makna aktivitas tangan dalam bahasa Sasak.
MEDAN MAKNA AKTIVITAS KAKI DALAM BAHASA SASAK DIALEK A-E Lukmanul Hakim; Roveneldo; Nasikhatul Ulla al Jamiliyati; Arjulayana
MABASAN Vol. 17 No. 1 (2023): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v17i1.715

Abstract

Inventarisasi bahasa-bahasa daerah perlu terus dilakukan karena hasilnya dapat digunakan, di antaranya untuk memperkaya kosakata dan menambah lema Kamus Besar Bahasa Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menjaga kelestarian bahasa dan budaya daerah, seperti memasukkan pelajaran bahasa daerah sebagai sebagai muatan lokal di sekolah dasar dan menengah. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi leksikon bahasa Sasak, dialek a-e yang berkaitan dengan medan makna aktivitas kaki. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitiaan ini adalah metode deskriptif-kualitiatif. Data dalam penelitian ini didapatkan dari komunitas tutur asli bahasa Sasak, dialek a-e di dua desa dan kelurahan yang berada di Kabupaten Lombok Tengah. Data dalam penelitian ini berupa data Kamus bahasa Sasak Indonesia dan data lisan dari penutur bahasa Sasak, dialek a-e. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah telaah pustaka, teknik cakap, dan teknik simak. Adapun teknik yang digunakan untuk analisis data adalah teknik analisis komponen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa Sasak memiliki 37 leksem dan 6 submedan makna yang berkaitan aktivitas kaki. Leksem-leksem medan makna aktivitas kaki dalam bahasa Sasak yang berhasil dijaring adalah nganjeng ‘berdiri’, terenjeng ‘berdiri terpaku’, betelékot ‘berdiri santai, betelinjaq ‘berjinjit’, betomet ‘berdiri dengan tumit’, ngangkang ‘berdiri mengangkang, nyerutat ‘bangun tergopoh-gopoh’, toès ‘bangun’, lampaq ‘berjalan’, melèce ‘lalu lalang’, bekasor ‘berjalan dengan menggesek-gesekkan telapak kaki’, ngampang ‘berjalan merangkak’, kebunjaq ‘berjalan tidur’, beténgkak ‘berjalan dengan satu kaki’, ngésot ‘berjalan dengan pantat’,  ngelamang ‘keluyuran’, pelai ‘lari’, rarat ‘lari cepat’, ngijik ‘lari dengan langkah-langkah pendek’, kebur ‘kabur’, mimit ‘lari sangat cepat’, babar-abar ‘lari tunggang langgang’, barong-arong ‘berlomba lari’, maléq ‘mengejar’,  ngober ‘mengusir’, nyeran ‘memburu’, nendang ‘menendang’, nyépor ‘menendang dari belakang’, ngelanjak ‘menendang dengan telapak kaki bawah’, ngapér ‘menendang  menyapu’, ngetik ‘menendang ke belakang’,  ngapak ‘menendang ke belakang dengan perut  telapak kaki’, begenjah ‘menginjak’, ngerencak ‘menginjak dengan keras’,  ngémoq ‘menginjak-injak cucian’, ngicaq ‘menginjak pelan’, nyelontak ‘melompat’, ngeléngkak ‘melangkahi’, berunjaq ‘berlompat-lompat’, dan nyerimpoh ‘terjun’.
KONSEPTUALISASI METAFORA EMOSI DAN SIFAT: ANALISIS LINGUISTIK KOGNITIF TERHADAP IDIOM BAHASA SASAK Lukmanul Hakim
MABASAN Vol. 19 No. 2 (2025): Mabasan 19 (2)
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v19i2.1110

Abstract

Penelitian ini menganalisis idiom-idiom dalam bahasa Sasak yang merefleksikan emosi dan sifat manusia melalui kerangka Teori Metafora Konseptual (CMT). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, data dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk kamus standar, korpus daring, dan konfirmasi dari penutur asli. Metode ini memungkinkan identifikasi dan klasifikasi metafora yang digunakan untuk mengonseptualisasikan pengalaman batin. Hasil analisis menunjukkan bahwa metafora emosi dan sifat dalam bahasa Sasak tidak hanya berfungsi sebagai ornamen linguistik, melainkan juga sebagai mekanisme kognitif fundamental. Teridentifikasi beberapa domain sumber yang sangat produktif, seperti hewan, benda padat, dimensi/ukuran, dan tindakan fisik. Masing-masing domain ini dipetakan secara sistematis ke domain target yang abstrak, yaitu emosi dan sifat/karakteristik manusia. Lebih lanjut, temuan penelitian ini mengungkapkan bahwa pemilihan domain sumber mencerminkan pandangan dunia dan sistem nilai moral masyarakat Sasak. Sebagai contoh, idiom seperti ate basong ‘hati anjing’ dan otak udang ‘kepala udang’ secara konsisten menggunakan domain hewan untuk merepresentasikan sifat-sifat negatif seperti kejahatan dan kebodohan. Sebaliknya, domain benda padat seperti ate waje ‘hati baja’ digunakan untuk mengonseptualisasikan sifat positif seperti ketangguhan. Sementara itu, panas ate ‘panas hati’ memetakan sensasi fisik panas ke emosi amarah, yang merupakan pola universal dalam banyak bahasa. Dengan demikian, studi ini menegaskan peran krusial metafora sebagai alat kognitif dan budaya bagi penutur bahasa Sasak untuk memahami dan mengartikulasikan pengalaman batin yang kompleks. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi kajian linguistik kognitif, khususnya dalam konteks bahasa daerah di Indonesia, serta menekankan pentingnya pelestarian bahasa lokal sebagai cerminan kearifan budaya yang unik dan kaya.