Masgaba Umar
Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Selatan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BUDAYA BELAJAR DAN PERILAKU SOSIAL ORANG TUA DAN PESERTA DIDIK PADA MASA PANDEMI COVID-19 Masgaba Umar; Rismawidiawati Rusli
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 8, No 1 (2022)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v8i1.221

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan budaya belajar dan prilaku sosial orang tua dan peserta didik ketika belajar dari rumah pada masa pandemi Covid-19 dengan mengambil kasus pembelajaran di SMP 1 Sungguminasa dan SMP 1 Manuju di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan. Pengumpulan data dilakukan dengan focus group discussion (FGD), wawancara, pengamatan, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya belajar dan prilaku sosial orang tua dan peserta didik selama pandemi covid-19 mengalami perubahan. Semenjak covid-19, peserta didik di SMPN 1 Sungguminasamelakukan proses belajar dari rumah (BDR) secara daring tidak lagi dilakukan secara tatap muka. Namun, bagi SMPN 1 Manuju yang terbatas fasilitas dan jaringan internet terpaksa menerima tugas secara langsung di sekolah setelah beberapa bulan, sekolah mencoba melakukan BDR secara daring namun tidak mencapai hasil yang baik. Pada proses BDR ini, orang tua memiliki peran yang cukup penting, yaitu orang tua berperan sebagai partner dengan anaknya dalam pembelajaran secara daring di rumah; mendampingi anak-anaknya dalam melaksanakan belajar secara daring; dan menyiapkan segala fasilitas anaknya yang dapat menunjang kegiatan pembelajaran. Namun demikian, terdapat juga orang tua yang mengeluh karena menurutnya menambah pekerjaan rumah, harus memfasilitasi anaknya berupa handphone (HP), kuota internet, ditambah anak-anak mereka menjadi tidak disiplin. Sedangkan respons dari peserta didik pada umumnya lebih menyukai belajar dari sekolah daripada belajar dari rumah. Alasan mereka, lebih mudah memahami materi pelajaran jika bertatap muka (sidallekang) dengan guru, dan dapat berinteraksi secara langsung dengan teman-temannya di sekolah. 
ETOS KERJA KOMUNITAS NELAYAN PENDATANG DI SODOHOA KENDARI BARAT masgaba umar
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 5, No 1 (2019)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1803.051 KB) | DOI: 10.36869/.v5i1.23

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan pada komunitas nelayan pendatang di Sodohoa Kendari Barat, Kota Kendari. Metode pengumpulan data berupa wawancara, focus group discussion, dan pengamatan. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive. Nelayan pendatang yang ada di Kelurahan Sodohoa berasal dari daerah Pangkep, Ujung Lero, dan Makassar. Mereka bermigrasi ke Kendari dengan alasan bahwa di perairan Kendari terdapat banyak ikan seperti ikan tongkol yang memiliki nilai jual yang bagus. Selain itu, di             Kendari ada “bos” yang bisa memberi modal pinjaman berupa uang yang dapat digunakan dalam beraktivitas mencari dan menangkap ikan di laut. Pada dasarnya motif utama mereka melakukan migrasi karena faktor ekonomi dan faktor sosial budaya daerah asal. Faktor ekonomi timbul akibat nelayan pendatang tidak memiliki modal uang untuk beraktivitas melaut, sehingga mereka meminjam pada bos yang ada di Kendari. Pengembalian pinjaman dilakukan setiap kali melaut atau setelah bagi hasil dengan pemilik modal yang sekaligus sebagai distributor hasil tangkap nelayan.  Faktor sosial budaya timbul sebagai akibat adanya naluri untuk bekerja agar memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Menjadi nelayan merupakan warisan yang turun temurun dari orang tua mereka, tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukan karena keterbatasan keterampailan dan keahlian yang dimiliki. Semangat kerja mereka termotivasi adanya perasaan malu (siri’) jika tidak memiliki penghasilan. Kata kunci: Nelayan pendatang, etos kerja, Sodohoa