Andryan Suhendra
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Studi Konfigurasi Susunan & Material Pengisi Pada Ban Bekas Sebagai Solusi Alternatif Dinding Penahan Tanah Michael Limanow; Andryan Suhendra
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 5, Nomor 2, Mei 2022
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v5i2.16565

Abstract

Recycling processed used tyres and alternative solution of earth retaining materials that cost-effective, environmental friendly, prompted the study of using waste tyres as geotechnical structures’ material. Studies show that the use of waste tyres, either whole scrap tyre, shredded to chips or flakes, granulated and powdered, are feasible as reinforcement material for retaining structure. This time, an idea arose to analyze the reuse of whole scrap tyres for Retaining Wall as an alternate substitution to Gabion wall. The purpose of this analysis is to measure the behavior and the effectiveness of waste tyre as a retaining wall with variety of stack configurations and types of tyre filler. On the analysis, manual calculations were carried out with the help of Plaxis 2D program and literature studies to compare and complete the analysis of the retaining walls’ behavior. Sand embankment behind the retaining wall is 6 meters height. The analysis shows that waste tyre retaining wall is more effective and a proper alternative retaining wall compared to Gabion wall.
ANALISIS DEFORMASI LATERAL MSE WALL DENGAN PERKUATAN GEOGRID TERHADAP VARIASI JENIS MATERIAL TIMBUNAN Charisma Aziza; Andryan Suhendra
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 5, Nomor 1, Februari 2022
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v5i1.16652

Abstract

ABSTRACTThe advantages of MSE walls are simple construction techniques, have aesthetic value and material resistance and are more economical. In this study, analysis was carried out on variations in anchor length, tensile strength and vertical spacing of the reinforcement elements, namely the geogrid, which was then modeled with sand and clay reinforcement soil. The analysis is carried out with the help of a finite element program, which will result in the value of the lateral deformation of the wall. Based on the analysis, the anchor length and tensile strength of the geogrid, the greater the anchor length and tensile strength, the smaller the resulting lateral deformation. Whereas at vertical distance, the results obtained are just the opposite. The results also show that the use of clay soils tends to be more stable in resisting lateral forces than sandy soils. Then in an effort to reduce the value of lateral deformation that occurs, further considerations can be focused on the selection of tensile strength or vertical spacing rather than the length of the anchorage. The results also produce a correlation equation that can be used to predict and determine the value of horizontal deformation according to the desired variation value. ABSTRAKKelebihan dinding MSE ialah teknik konstruksi yang sederhana, punya nilai estetika dan ketahanan material serta lebih ekonomis. Pada penelitian ini, analisis dilakukan terhadap variasi panjang penjangkaran, kuat tarik dan spasi vertikal elemen perkuatannya yaitu geogrid, yang kemudian dimodelkan dengan tanah perkuatan pasir dan lempung. Analisis dilakukan dengan bantuan program metode elemen hingga, yang akan menghasilkan nilai deformasi lateral dari dinding MSE untuk dianalisis. Berdasarkan analisis, pada panjang penjangkaran dan kuat tarik geogrid, semakin besar nilai panjang penjangkaran dan kuat tariknya, maka semakin kecil deformasi lateral yang dihasilkan. Sedangkan pada jarak vertikal, hasil yang didapat justru sebaliknya. Perbandingan hasil juga didapat dari dua jenis tanah perkuatan yang berbeda, yang mana dapat disimpulkan bahwa pengunaan jenis tanah lempung cenderung lebih stabil dalam menahan gaya lateral dibandingkan dengan jenis tanah pasir. Kemudian untuk upaya mengurangi nilai deformasi lateral yang terjadi, pertimbangan lebih lanjut dapat difokuskan pada pemilihan kuat tarik ataupun spasi vertikalnya dibanding pada panjang penjangkarannya. Dari hasil analisis juga menghasilkan persamaan korelasi sehingga dapat digunakan untuk memprediksi dan menentukan nilai deformasi horizontal sesuai dengan nilai variasi yang diinginkan.
STUDI PENGARUH MATERIAL GEOSINTETIK DALAM DISTRIBUSI BEBAN KERJA PADA KONSTRUKSI JALAN DI ATAS TANAH LUNAK Sastrawinata Sastrawinata; Andryan Suhendra
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i1.7055

Abstract

Soft soil is commonly become the main problem in various types of construction processes. It causes a very big load distribution in soils that will affect the construction process that will take place.  Soft soils have a low bearing capacity which can result in loss, costs that become more expensive to construction safety, that is, structures that are made unable to stand stable and are not sturdy. This can be prevented by stabilizing soft soils using geotextile reinforcement. Geotextile material works using membrane effect method which only relies on its own tensile strength which can help to reduce the load distribution that occur on sof soils. In one of the road projects in Jakarta, road will be made with very soft soil subgrade. To reduce the load distribution, embankment is carried out on existing land with geotextile reinforcement in between. This geotextile material is proven to reduce the load distribution that occurs in soft soils so the value of the load distribution will be smaller. For more effective use, the geotextile used in this project must be placed at 0,2 metres height above the subgrade. AbstrakTanah lunak seringkali menjadi sumber masalah yang paling banyak terjadi pada berbagai jenis proses kontruksi. Tanah ini menyebabkan distribusi beban yang terjadi sangatlah besar sehingga akan berpengaruh terhadap proses konstruksi yang akan berlangsung. Tanah lunak mempunyai daya dukung yang sangat kecil yang dapat mengakibatkan kerugian, mulai dari kerugian biaya yang menjadi lebih mahal hingga keselamatan konstruksi, yaitu struktur yang dibuat tidak mampu berdiri stabil dan tidak kokoh. Hal ini dapat dicegah dengan menstabilisasi tanah lunak dengan menggunakan perkuatan geotekstil. Material geotekstil bekerja menggunakan metode membrane effect yang hanya mengandalkan kuat tariknya sendiri yang dapat membantu mengurangi distribusi beban yang terjadi pada tanah lunak. Pada salah satu proyek jalan di Jakarta, akan dibuat jalan dengan tanah dasar tanah yang sangat lunak. Untuk membantu dalam mengurangi distribusi beban yang terjadi, dilakukan penimbunan tanah di atas tanah eksisting dengan perkuatan geotekstil di antaranya. Material geotekstil ini terbukti dapat mengurangi distribusi beban yang terjadi pada tanah lunak sehingga nilai distribusi beban yang terjadi menjadi lebih kecil. Untuk penggunaan yang lebih efektif, letak geotekstil yang digunakan pada proyek ini harus diletakkan pada ketinggian 0,2 meter di atas tanah dasar.
ANALISIS DEFLEKSI DAN KAPASITAS LATERAL TIANG TUNGGAL PADA TANAH KOHESIF DENGAN BERBAGAI JENIS KONSISTENSI TANAH Gregory Agustino; Andryan Suhendra
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 1, Februari 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i1.7056

Abstract

There are 2 main elements on a foundation that must be retained from the structure above, the axial force and lateral force. The ability of the foundation to resist lateral forces and deflections that occur due to these forces can be measured by various methods, one of the methods that used in this case is the p-y curve method. In addition to soil types, the lateral capacity and lateral deflection of the pile are also affected by the consistency of the soil itself. Therefore, the writer wants to compare the lateral capacity and lateral displacement of the pile in clay with the consistency of soft, medium, and hard soils. The lateral capacity of medium clay has 100% greater capacity compared to soft clay. The lateral capacity of hard soil increase 600% greater than soft soil. The lateral capacity of the pile also varies with the depth of the pile reviewed. On soft and medium soils with a depth of 5 m the pile has an increase in lateral capacity of 12% to 17% when compared to the lateral capacity at a depth of 10 m. AbstrakPada suatu fondasi terdapat 2 elemen utama yang harus ditahan dari struktur di atasnya, yaitu gaya aksial dan gaya lateral. Kemampuan fondasi dalam menahan gaya lateral dan defleksi yang terjadi akibat gaya tersebut dapat diukur dengan berbagai metode, salah satu metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode p-y curve. Selain jenis tanah, kapasitas lateral dan defleksi lateral tiang ini juga dipengaruhi oleh konsistensi tanah itu sendiri. Oleh karena itu, dalam penulisan ini penulis hendak membandingkan kapasitas lateral dan perpindahan lateral tiang pada tanah lempung dengan konsistensi tanah lunak, sedang, dan keras. Kapasitas lateral tanah lempung sedang memiliki kapasitas yang lebih besar 100% jika dibandingkan dengan tanah lempung lunak. Sedangkan kapasitas lateral tanah keras memiliki kenaikan kapasitas lateral mencapai 600% jika dibandingkan dengan tanah lunak. Kapasitas lateral tiang ini juga berbeda tiap kedalaman tiang yang ditinjau. Pada tanah lunak dan sedang dengan kedalaman tiang 5 m memiliki kenaikan kapasitas lateral sebesar 12% sampai 17% jika dibandingkan dengan kapasitas lateral pada kedalaman 10 m. 
STUDI PENGARUH KEMIRINGAN, JARAK, DAN PANJANG SOIL NAILING TERHADAP STABILITAS LERENG Melin Ester Simorangkir; Andryan Suhendra
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 3, Agustus 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i3.8754

Abstract

A landslide happened at a slope in South Sulawesi. The slope has 4 soil layers with a height of 15 m and a slope angle of 69,86°. Stability of the slope needs to be analized with a program based on limit equilibrium to know the value of its safety factor. After being analyzed, the safety factor of the slope is 0,883, which is less than 1,5. It shows that the slope need a soil reinforcement. For this analysis, soil nailing is being used to be the soil reinforcement. With using soil nailing, the stability of the slope needs to be analyzed again with a program based on limit equilibrium . In each analysis, there are some variations. The first analysis is a variety of nail inclination. The second analysis is a variety of nail spacing. The third analysis is a variety of nail length. The result of the safety factor of all analysis is more than minimal, 1,5. Pada suatu lereng di daerah Sulawesi Selatan, terjadi longsor. Lereng yang mengalami longsor tersebut memiliki 4 lapisan tanah dengan ketinggian lerengnya 15 m dan kemiringan lerengnya 69,86°. Stabilitas lereng perlu dianalisis menggunakan sebuah program berbasis metode kesetimbangan batas untuk mengetahui nilai keamanan lereng tersebut. Setelah dianalisis, diketahui nilai keamanan lereng di bawah 1,5, yaitu 0,883. Nilai keamanan lereng tersebut menunjukkan bahwa lereng tersebut membutuhkan sebuah metode perkuatan tanah. Pada analisis ini, metode perkuatan tanah yang digunakan pada lereng adalah soil nailing. Dengan menggunakan soil nailing, dilakukan analisis stabilitas lereng kembali menggunakan program berbasis metode kesetimbangan batas untuk memperoleh angka faktor keamanan lereng. Di setiap analisis menggunakan soil nailing, digunakan beberapa variasi nail. Analisis stabilitas lereng pertama menggunakan variasi kemiringan nail. Analisis stabilitas lereng kedua menggunakan variasi jarak antar nail. Analisis stabilitas lereng ketiga menggunakan variasi panjang nail. Hasil akhir faktor keamanan lereng setelah dilakukan semua analisis adalah lebih dari 1,5.
STUDI PENGARUH KEMIRINGAN, JARAK, DAN PANJANG SOIL NAILING TERHADAP STABILITAS LERENG Harryanto Harryanto; Andryan Suhendra
JMTS: Jurnal Mitra Teknik Sipil Volume 3, Nomor 3, Agustus 2020
Publisher : Prodi Sarjana Teknik Sipil, FT, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmts.v3i3.8377

Abstract

Soft soil is commonly become the main problem in various types of construction. This type of soil has a low carrying capacity that could affect the stability of structure on it. As time goes by, there’s a various way to improving the stability of soil, such as using geotextile as the reinforcement. This material works by using membrane effect which only relies on its own tensile strength which can helps the subgrade by bearing the loads of embankment. In one project, embankment will be made with a very soft soil subgrade. To make sure the stability of the embankment, geotextile reinforcement is used. To save costs, the length of geotextile anchoring must be planned. The lower that embankment, the shorter geotextile anchoring is used. Meanwhile if the tensile capacity is getting higher, the shorter geotextile anchoring that will be used. And in this study, the ratio between the length of geotextile anchoring and the tensile strength is 0,9. Tanah lunak seringkali menjadi sumber berbagai masalah terhadap proses pada berbagai jenis konstruksi. Tanah lunak memiliki daya dukung yang kecil sehingga sangat berpengaruh terhadap proses konstruksi yang akan berlangsung dan terhadap stabilitas struktur yang berada di atasnya. Seiring berkembangnya zaman, salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan stabilitas tanah yaitu dengan menggunakan perkuatan berupa geotekstil. Geotekstil merupakan suatu geosintetik yang berbentuk seperti karpet atau kain yang bersifat permeable (tidak kedap air). Cara kerja geotekstil yaitu dengan menggunakan metode membrance effect dimana hanya menggunakan kuat tariknya sendiri yang dapat membantu tanah dasar untuk memikul beban agar struktur yang berada di atasnya menjadi lebih stabil. Pada suatu proyek akan dibuat timbunan dengan ketinggian yang beragam di atas tanah dasar yang lunak. Material geotekstil terbukti dapat menstabilkan timbunan yang berada di atas tanah lunak. Untuk menghemat biaya yang dikeluarkan maka panjang penjangkaran yang digunakan harus direncanakan. Untuk timbunan yang rendah, panjang penjangkaran geotekstil yang digunakan lebih kecil dibandingkan dengan timbunan yang lebih tinggi dan apabila kekuatan tarik geotekstil ingin ditingkatkan maka panjang penjangkaran yang dibutuhkan akan semakin kecil, begitupun juga sebaliknya dan pada penelitian kali ini rasio panjang penjangkaran terhadap kuat tarik yang didapatkan adalah sebesar 0,9.