Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

Quantitative Analysis of Secondary Metabolites and Solvent Optimization of Secang Wood Extract (Caesalpinia Sappan L/BiancaeaSappan) as Disclosing Agent Naning Kisworo Utami; Metty Amperawati; Muhammad Ikhwan Rizki
Jurnal Kesehatan Gigi Vol 9, No 1: Juni 2022
Publisher : Jurusan Keperawatan Gigi, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jkg.v9i1.7844

Abstract

Disclosing solution is a material that is often used to see the presence of plaque, made of erythrosine base material. Erythrosine is one of the food coloring ingredients and can also be used for bacterial staining, can cause allergic reactions and this dye also has the potential as a carcinogen. The purpose of the study is to figure 1). qualitative of the secondary metabolites of brazilin compounds in secang wood extract, 2). quantitative of the secondary metabolites of brazilin compounds in secang wood extracts and 3). toxicity in secang wood extract using the BSLT shrimp larva toxicity test (Brine Shrimp Lethality Test). The study design is a non-experimental one that will examine quantitatively on secondary metabolites of secang wood extract and toxicity tests. The research tools used are ovens, grinders, mechanical sieves, maceration vessels, hydraulic presses, rotary evaporators, water baths, Uv-Vis spectrophotometers, glass tools and materials used are secang wood and other materials used namely ethanol pro analysis, methanol pro analysis, hexane pro analysis, ethyl acetate pro analysis, aqua sterile, what man paper, FeCl3, HCl, shrimp larvae, and larval growing media. Quantitative analysis test obtained the level of secang wood brazilin which is 8.54% b / b. In toxicity tests using Uv-Vis spectrophotometers, the results of wood extracts are not toxic to living things based on toxicity tests with shrimp larva test models. Conclusion, secang wood contains brazilin which plays a role in giving red color and is not toxic to living creatures so that it is safe to use in humans.  
HUBUNGAN KONSUMSI AIR MINERAL DAN AIR SUNGAI DENGAN INDEKS DMF-T DI KALIMANTAN SELATAN Naning Kisworo Utami; Metty Amperawati; Siti Salamah
An-Nadaa: Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol 9, No 1 (2022): AN-NADAA JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (JUNI)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/ann.v9i1.6904

Abstract

AbstrakAir merupakan kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia di bumi ini (Wardhana,2001). Di dalam air terkandung berbagai unsur-unsur mineral sekalipun jumlah dan kandunganya berbeda-beda seperti, kalsium, fluoride, magnesium, sulfat. Kekurangan dan kelebihan dari unsur-unsur mineral tersebut diatas dapat berakibat terganggunya kesehatan gigi dan mulut (Murni, 2001). Karies gigi adalah suatu  proses kerusakan yang terbatas pada jaringan keras gigi dimulai dari lapisan email, dentin dan menjalar ke pulpa (Kidd dkk.,1992). Kalimantan Selatan penyakit karies gigi masih termasuk 10 (sepuluh) penyakit terbanyak yang ada dipuskesmas-puskesmas yaitu urutan ke 4 dan 5 dan secara geografis merupakan daerah gambut dimana dengan keadaan lingkungan terutama kandungan airnya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan  konsumsi air mineral dan air Sungai dengan  indeks DMF-T Di SDN Rantau Kanan dan SDN Sungai Bahalang  Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas IV dan Kelas V. Pengambilan sampel secara Purposive Sampling.  Hasil penelitian menunjkkan konsumsi air minum yang berasal dari air sungai dengan  indeks DMF-T  di SDN Rantau Kanan  diperoleh sebanyak 8 (20,5%) baik dan  sebanyak 31 (79,5%)  buruk, dan SDN Sungai Bahalang Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan. Sedangkan 43 (84,3%) murid yang mengkonsumsi air mineral  indeks DMF-T baik dan 8 (15,7%) buruk. Berdasarkan hasil uji statistic diperoleh nilai p=0,000, maka dapat disimpulkan ada hubungan konsumsi air minum dengan indeks DMF-T  Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR = 0.048.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU ORANGTUA DALAM MEMELIHARA KESEHATAN GIGI DENGAN KARIES GIGI PADA ANAK TAMAN KANAK KANAK Rasuna Ulfah; Naning Kisworo Utami
An-Nadaa: Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol 7, No 2 (2020): AN-NADAA JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (DESEMBER)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/ann.v7i2.3927

Abstract

Karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi, yaitu email, dentin dan sementum, yang disebabkan oleh aktifitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat yang diragikan. Peran orangtua sangat diperlukan untuk membimbing anak dalam hal pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, ini berarti pengetahuan dan perilaku orangtua dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut anak prasekolah. Penelitian ini bertujuan ini untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan perilaku orangtua dengan karies gigi pada anak TK Pertiwi Simpang Empat Kabupaten Banjar. Penelitian ini bersifat analitik dengan rancangan cross sectional,dengan populasi penelitian seluruh anak di TK Pertiwi Simpang Empat Kabupaten Banjar. Sampel berjumlah 60 anak yang berusia 5 sampai 6 tahun. Data diambil dengan cara pemeriksaan karies gigi pada anak serta pembagian daftar pertanyaan (kuesioner) pada orangtua anak. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan orangtua dengan karies gigi anak yaitu 0,000 (p=0,000), dengan tingkat kemaknaan 5% (0,05) sehingga p<0,05 dan perilaku orangtua dengan karies gigi anak yaitu 0,000 (p=0,000), dengan tingkat kemaknaan 5% (0,05) sehingg a p<0,05. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan orangtua dengan karies gigi anak dan ada hubungan antara perilaku orangtua dengan karies gigi anak. Disarankan untuk dilakukan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut pada orang tua sehingga diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut.
HUBUNGAN KADAR GULA DARAH PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DENGAN KASUS KEGOYANGAN GIGI PADA PUSKESMAS PENGARON KABUPATEN BANJAR Anderi Fansurna; Naning Kisworo Utami
An-Nadaa: Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol 7, No 2 (2020): AN-NADAA JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (DESEMBER)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/ann.v7i2.3925

Abstract

Masalah kesehatan salah satunya kesehatan rongga mulut termasuk kesehatan gigi. Gigi dan mulut dapat mengalami kelainan akibat suatu penyakit lokal maupun sistemik, antara lain penyakit sistemik adalah diabetes mellitus, akumulasi plak dan modulasi dari respon host melalui efek dari diabetes dapat berubah menjadi severe dan terjadi kerusakan periodontal yang luas termasuk gigi goyang. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan kadar gula darah penderita diabetes mellitus tipe 2 dengan kasus kegoyangan gigi. Jenis penelitian bersifat analitik observasional dengan rancangan cross sectional, populasi penelitian 359 orang, sampel 36 orang diambil dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian dengan uji korelasi menggunakan produk moment pearson diketahui kriteria pengujian adalah Ho=Sig>alpha dan Ha=Sig<alpha dengan nilai alpha=0,05 dan nilai sig yaitu Sig. (2-tailed) 0,170, (0,170>0,05) dapat diambil kesimpulan tidak ada hubungan kadar gula darah penderita diabetes mellitus tipe 2 dengan kasus kegoyangan gigi dengan menggunakan kriteria Periodontal Disease Indeks (PDI), karena Sig lebih besar dari alpha. Perlu perhatian dari tenaga kesehatan gigi tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut penderita diabetes mellitus, pemeriksaan dan pengontrolan kadar gula darah serta kesehatan gigi secara berkala termasuk pembersihan karang gigi, pemeliharaan bagi pemakai gigi tiruan sehingga faktor lokal yang menjadi penyebab terjadinya infeksi pada gusi dan efek lanjut penyebab kegoyangan gigi dapat dihindari.
UJI IN VIVO TERHADAP EKSTRAK KAYU SECANG (CAESALPINIA SAPPAN L/BIANCAEA SAPPAN) SEBAGAI DISCLOSING AGENT Naning Kisworo Utami; Metty Amperawati; Muhammad Ikhwan Rizki
An-Nadaa: Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal) Vol 9, No 2 (2022): AN-NADAA JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (DESEMBER)
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/ann.v9i2.9031

Abstract

Plak tidak bisa dilihat karena warnanya transparan seperti warna kaca putih tembus cahaya. Cara melihat  plak dapat dengan menggunakan zat pewarna (bisa merah atau ungu) yang disebut dengan disclosing solution/ disclosing agent. Disclosing solution adalah bahan yang sering digunakan untuk melihat adanya plak, terbuat dari bahan dasar eritrosin. Eritrosin ini merupakan salah satu bahan pewarna makanan dan dapat juga digunakan untuk pewarnaan bakteri, dapat menimbulkan reaksi alergi serta bahan pewarna ini juga memiliki potensi sebagai bahan karsinogen. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran uji in vivo ekstrak kayu secang pada hewan uji. Rancangan penelitian adalah eksperimental. alat  penelitian yang digunakan yaitu oven, grinder, ayakan mekanik, bejana maserasi, press hidrolic, rotary evaporator, waterbath, spektrofotometer uv-vis, alat gelas dan bahan yang digunakan kayu secang dan bahan lain yang digunakan yaitu bahan ekstrak, HPMC, propilen glikol, gliserol, metil paraben, dan propil paraben.Kesimpulan Uji in vivo yang dilakukan untuk melihat potensi efek samping dari penggunaan gel ekstrak kayu secang dengan parameter tekanan darah, kadar gula darah dan kadar kolesterol menunjukkan tidak terdapat efek samping terhadap tikus sehingga aman untuk digunakan pada manusia. Kata Kunci : Uji In Vivo; kayu secang ; disclosing agent
LITERATUR REVIEW : PENGARUH MENGKONSUMSI KARBOHIDRAT SEDERHANA (BISKUIT KELAPA) DAN KARBOHIDRAT KOMPLEKS (PISANG AYAM) TERHADAP pH SALIVA Rudy Dwi Firdiansyah; Siti Sabatul Habibah; Naning Kisworo Utami
JURNAL TERAPIS GIGI DAN MULUT Vol. 1 No. 2 (2020): JURNAL TERAPIS GIGI DAN MULUT
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat masyarakat dalam bentuk peningkatan kesehatan gigi. Menurut penelitian dunia, bahwa anak-anak sekolah diseluruh dunia pernah menderita karies gigi. Karbohidrat dalam makanan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu karbohidrat sederhana dan kompleks. Setelah makan, khususnya makanan karbohidrat akan mengalami fermentasi terhadap glukosa makanan. Hasilnya berupa senyawa bersifat asam. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskiptif. Rancangan penelitian ini adalah studi literatur. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa skripsi dan jurnal yang terkait dengan pH saliva, karbohidrat sederhana (biskuit kelapa) dan karbohidrat kompleks (pisang ayam). Kesimpulan dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh mengkonsumsi karbohidrat sederhana (biskuit kelapa) dan karbohidrat kompleks (pisang ayam) terhadap pH saliva. Diharapkan setelah makan makanan yang mengandung karbohidrat sebaiknya menyikat gigi setelah 30 menit sesudah makan.
PERBEDAAN PENGETAHUAN CARA MENYIKAT GIGI SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN PENYULUHAN DENGAN MEDIA RODA PUTAR (Roulatte) PADA SISWA MTsN 3 HULU SUNGAI TENGAH Raudatul Septia Anggraini; Waljuni Astu Rahman; Naning Kisworo Utami
JURNAL TERAPIS GIGI DAN MULUT Vol. 2 No. 1 (2021): JURNAL TERAPIS GIGI DAN MULUT
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The national prevalence of dental and oral problems is 25.9%. In fact, in the teeth, it was found that most of the Indonesian population's dental behavior during bathing in the morning and evening showers was 76.6%. And those who teeth properly after eating and before going to bed at night for Indonesians were found to be 2.3%. Through outreach programs, they can increase knowledge and awareness of the importance of maintaining dental and oral health and can actively participate in improving self-care efforts. In addition, with counseling, a person can work himself in an effort to prevent teeth and mouth This study aims to determine the difference in knowledge of how to teeth before and before counseling with a swivel wheel (roulette). The research design used is "One Group Pretest-Posttest". The research population found 223 people and the research sample found 49 people, the sampling technique used purposive sampling with the Wilcoxon test. Research on dental knowledge before and before the test was carried out with counseling using roulette with the average value obtained before counseling was 5.31 and before counseling was 8.86. Based on the Wilcoxon test, the Asymp value was obtained. Signature. (2-tailed) 0.000 with a = 0.05 so that p < a. The conclusion of the study was that there was a difference in knowledge of dental procedures before and before counseling with media was carried out on students at MTsN 3 Hulu Sungai Tengah. It is recommended to use effective counseling with this rotating media because it increases dental knowledge in students. Keywords: Knowledge, Dental Media Method, Counseling, Spin Wheel
Hubungan Motivasi Berobat Gigi Dengan Keparahan Karies Pada Pengunjung Poli Gigi Di Puskesmas Daerah Banjarbaru Rizky Nurul Bayani; siti salamah; Danan Danan; Naning Kisworo Utami
Jurnal Karya Generasi Sehat Vol. 1 No. 1 (2023): Edisi Desember Tahun 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31964/jkgs.v1i1.67

Abstract

Hasil Riskesdas Tahun 2018 Kalimantan Selatan masyarakat menerima perawatan tenaga medis gigi umur 25-34 (12,19%) dan 35-44 (11,91%) kunjungan. Fakta yang terjadi 46,90% masyarakat Kalimantan Selatan memiliki masalah gigi rusak/berlubang/sakit. Data yang diperoleh dari laporan Puskesmas Sungai Besar Kota Banjarbaru bulan Agustus-Oktober tahun 2022, ditemukan jumlah kunjungan 938 orang didapat 173 kasus keparahan karies gigi. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan motivasi berobat gigi dengan keparahan karies gigi pada pengunjung poli gigi di Puskesmas Sungai Besar Kota Banjarbaru. Jenis penelitian bersifat survei analitik dengan rancangan cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar memiliki motivasi berobat gigi positif dan memiliki keparahan karies gigi kategori buruk.
N PENGARUH PEMBERIAN CPP ACP (CASEIN PHOSPHOPETIDE AMORPHOUS Ca PHOSPHAT) TERHADAP pH SALIVA PADA MAHASISWA JURUSAN KEPERAWATAN GIGI POLTEKKES KEMENKES BANJARMASIN KALIMANTAN SELATAN Utami, Naning Kisworo
Journal of Oral Health Care Vol. 9 No. 1 (2021): 2021
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.053 KB) | DOI: 10.29238/ohc.v9i1.972

Abstract

Kesehatan rongga mulut adalah merupakan salah satu bagian yang sangat penting dalam tubuh manusia karena rongga mulut merupakan tempat masuknya makanan dan minuman. Kesehatan gigi dan mulut masih merupakan hal yang perlu diperhatikan, bahwa 90% penduduk Indonesia menderita penyakit gigi dan mulut, karies gigi merupakan masalah utamanya. Di Indonesia, prevalensi karies gigi juga cukup tinggi. Angka kejadian masalah kesehatan gigi dan mulut Kalimantan Selatan termasuk kategori tertinggi ketiga setelah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, yakni 36,1% penduduknya menderita kesehatan gigi dan mulut. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel penelitian sebanyak 34 orang. Sampel diambil dengan teknik total sampling pada mahasiswa D4 semester VI. Variabel bebas adalah pemberian CPP ACP dan variabel terikat adalah pH saliva. Hasil analisis statistic dengan menggunakan uji Chi-Square Tests diperoleh nilai p = 0.000 lebih kecil dari pada 0.05, maka dapat dikatakan bahwa Ho ditolak dan Ha di terima. Hasil penelitian ini adalah ada Pengaruh Pemberian CPP ACP (Casein Phosphopetide Amorphous Ca Phosphat) terhadap pH Saliva pada Mahasiswa Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Kalimantan Selatan.
Hipertensi dengan Mulut Kering (xerostomia) pada Pasien di Puskesmas Heristalina, Yulia; Utami, Naning Kisworo; Sari, Emilda
Journal of Oral Health Care Vol. 12 No. 1 (2024): 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/ohc.v12i1.2395

Abstract

Pendahuluan: Hipertensi merupakan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih dari sama dengan 140 mmHg dan diastolik lebih dari sama dengan 90 mmHg.  Mulut kering merupakan suatu keluhan di rongga mulut yang diderita  pasien dan gejala umum yang sering disebabkan oleh penurunan jumlah saliva atau terjadinya perubahan kualitas saliva. Tujuan: untuk mengetahui hubungan hipertensi dengan mulut kering (xerostomia). Metode:Jenis penelitian ini bersifat survey analitik dengan rancangan cross sectional. Lokasi Penelitian di Puskesmas Banjarbaru Utara Kota Banjarbaru. Sampel penelitian adalah pasien yang datang berkunjung di poliklinik gigi Puskesmas Banjarbaru Utara, jumlah sampel 36 responden dengan teknik Accidental Sampling. Hasil: Pasien yang menderita hipertensi dengan pengukuran sistol 140-150 mmHg sebanyak (33,3%) dan pengukuran diastol 95->100 mmHg sebanyak (41,7%). Pasien dengan kondisi mulut kering (xerostomia) dengan skala 1-3 sebanyak (77,8%). Nilai koefisien ( r ) telah di dapatkan 1,000 pada pengukuran tekanan darah sistol dan 0,237 pada pengukuran tekanan darah diastol yang berarti  tidak memiliki hubungan. Kesimpulan: Penelitian ini menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara hipertensi dan mulut kering (xerostomia).