Teuku Heriansyah
Faculty Of Medicine Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN PENTOKSIFILIN TERHADAP PERUBAHAN KADAR TUMOR NEKROSIS FAKTOR-ALFA PADA CEDERA REPERFUSI-ISKEMIK TUNGKAI AKUT Teuku Heriansyah
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 12, No 2 (2012): Volume 12 Nomor 2 Agustus 2012
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Komplikasi tindakan revaskularisasi pasca suatu periode iskemik semakin penting dalam praktek klinis dewasa ini. Reperfusi pada jaringan iskemik menimbulkan repon inflamasi lokal dan sistemik kompleks yang bermuara pada peningkatan kerusakan jaringan. Banyak bukti ilmiah menunjukkan tumor nekrosis faktor alfa (TNF-α) berperan penting dalam patogenesis cedera reperfusi-iskemik (R-I) di berbagai organ, termasuk otot skelet. Upaya mencegah dan mengatasi progresivitas cedera R-I sampai saat ini belum memperlihatkan hasil yang memuaskan. Salah satu obat yang memberikan harapan untuk mencegah cedera R-I adalah pentoksifilin (PTX) melalui potensi anti inflamasinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa pemberian PTX mengurangi cedera R-I pada hewan coba kelinci dengan R-I tungkai akut. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan melakukan tindakan iskemik total tungkai kiri selama 3 jam yang diikuti 3 jam periode reperfusi pada 12 ekor kelinci New Zealand White jantan yang dibagi menjadi 3 kelompok (A, B dan C) secara acak. PTX dengan dosis 40 mg/kg BB yang diikuti dosis rumatan 1 mg/kg BB/jam mulai diberikan 2,5 jam periode iskemik pada kelompok A, sementara cairan garam fisiologis diberikan dengan kecepatan yang sama pada kelompok B. Kelompok C sebagai kontrol negatif. Tindakan R-I dilakukan dengan oklusi dan reperfusi pangkal arteri iliaka komunis sinistra. Kadar TNF-α diperiksa pada 2,5 jam iskemik dan pada 2 jam reperfusi. Pada periode iskemik, didapatkan kadar rerata TNF-α kelompok A 103.66 ± 39.20 pg/ml, rerata kelompok B 149.66 ± 67.23 pg/ml, sementara pada periode reperfusi kadar rerata kelompok A 496.33 ± 97.37 pg/ml dan rerata kelompok B 881.66 ± 164.50 pg/ml. Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar rerata TNF-α diantara kedua kelompok pada periode iskemik (p = 0.222). Terjadi peningkatan bermakna kadar rerata TNF-α pada tiap kelompok perlakuan dari periode iskemik ke reperfusi (p = 0.001). Pemberian PTX pada kelompok A mampu menekan secara bermakna peningkatan kadar TNF-α saat reperfusi sebesar 392.66  ± 114 pg/ml dibanding kelompok B (p = 0.015). Disimpulkan bahwa PTX menurunkan kadar TNF-α plasma kelinci dengan cedera R-I tungkai akut. Abstract. Nowadays, the importance of revascularization complication after an ischemic period in clinical practice has grown. Reperfusion of an ischemic tissue causes complex local and systemic inflammation response leading to increase in tissue damage. Many studies has shown that Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α) plays a major role in the pathogenesis of ischemic reperfusion (I-R) injury in various organs, including skeletal muscle. Until now, efforts to prevent and to suppress the progressivity of I-R injury has not been satisfying. One promising drug for the prevention or I-R injury through its anti-inflammatory effect is Pentoxifylline (PTX). Therefore we studied the effect of PTX on I-R injury in rabbits with acute limb I-R marked by TNF-α level. This study was an animal experimental study using twelve male New Zealand White rabbits. The rabbits were divided randomly within 3 groups (A,B, and C). All of the animals experienced total ischemia of the left limb for 3 hours followed by 3 hours of reperfusion period. Group A were given 40 mg/BW PTX followed with 1 mg/BW/Hour maintenance dose. The drug was given after 2.5 hours of ischemia. Rabbits assigned to group B were given normal saline and group C were negative control. I-R were conducted by occluding and reperfusing proximal of the left common iliac artery. Level of TNF-α were measured after 2.5 hours of ischemia and after 2 hours of reperfusion. The mean level of TNF- α in the ischemic period were : 103.66 ±39.20 pg/ml (group A) and 149.66 ±67.23 pg/ml (group B), while in the reperfusion period the mean level of TNF-α were 496.33 ±97.37 pg/ml (group A) and 881.66 ±164.50 pg/ml (group B). There were no significant difference of TNF-α level in both groups in the ischemic period (p = 0,222). Significant increase of the mean TNF-α were seen in both experimental groups from the ischemic to the reperfusion period. PTX in group A significantly suppresses the TNF-α increase while reperfusion as much as 392.66 ±114 pg/ml compared to group B (p = 0.015). It was concluded that  the administration of PTX decreased the TNF-α level in rabbits with acute limb I-R injury.
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DENGAN JUMLAH CIRCULATING ENDOTHELIAL CELL Teuku Heriansyah
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 14, No 1 (2014): Volume 14 Nomor 1 April 2014
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah indikator sederhana dari hasil pembagian berat badan dengan kuadrat tinggi badan (kg/m2) yang dapat menentukan seberapa besar risiko seseorang dapat terkena penyakit kardiovaskular. IMT diatas normal dan obesitas dapat memicu terjadinya dislipidemia yang dapat mengakibatkan perubahan struktur vaskular. Struktur yang berperan penting dalam sistem vaskular adalah sel endotel(penting dalam proses homeostasis). Apabila mengalami kerusakan, sel endotel akan terlepas dari dinding lumen dan ikut bersirkulasi di dalam darah dan disebut sebagai Circulating endothelial Cell (CEC) yang dalam keadaan normal sangat sedikit jumlahnya. Metode pengukuran CEC menggunakan flowcytometry. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan positif antara IMT dengan CEC. Penelitian ini dilakukan secara observational analytic dengan mengukur berat badan, tinggi badan dan pengambilan darah pada karyawan di Universitas Brawijaya. Hasil analisis statistik menggunakan uji korelasi parametric Pearson  menunjukkan nilai signifikansi (P-value) = 0,234 (p 0,05), correlation coefficient positif (r= 0.168 ; 0≤ r 0,2). Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan tidak terdapat korelasi atau hubungan yang bermakna antara IMT dengan jumlah CEC pada karyawan Universitas Brawijaya, correlation coefficient sangat rendah, akan tetapi nilai tersebut bernilai positif yang artinya semakin tinggi nilai IMT maka semakin tinggi jumlah CEC. Abstract. Body Mass Index (BMI) is a formula derived from body weight (kg)/height (m2) which can be used to determine how much a person can be exposed to the risk of cardiovascular disease. Overweight and obesity (abnormal BMI) may induce dyslipidemia and can lead to changes in vascular structure. Structure that plays an important role in the vascular system is endothelial cells (important in the process of homeostasis). If damaged, endothelial cells are released from the lumen wall then circulated in the blood and called circulating endothelial Cell (CEC), which in a normal person very few in number. CEC measurement method using flowcytometry. The objective of this study was to prove the existence of a positive correlation between BMI and CEC. This was an observational study done by measured weight, height and blood sampling.  From the results, pearson correlation test showed a significance value (P-value) = 0.234 (p 0.05), a positive correlation coefficient (r = 0.168; 0 ≤ r 0.2). Based on these results, we can conclude there is no correlation or a significant association between BMI and the number of CEC at UB employees, correlation coefficient was very low, but had the positive correlation, which means the higher the BMI, the higher the number of CEC. 
PENGARUH BERBAGAI DURASI PEMBERIAN DIET TINGGI LEMAK TERHADAP PROFIL LIPID TIKUS PUTIH (Rattus Novergicus Strain Wistar) JANTAN Teuku Heriansyah
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 13, No 3 (2013): Volume 13 Nomor 3 Desember 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v13i3.3418

Abstract

Abstrak. Atherosklerosis merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di berbagai negara termasuk di Indonesia. Penyebab terjadinya atherosklerosis diantaranya dislipidemia, radikal bebas, disfungsi endotel dan inflamasi. Kadar profil lipid seperti Low Density Lipoprotein (LDL), High Density Lipoprotein (HDL) dan Trygliseride (TG) dalam darah merupakan indikator proses terjadinya atherosklerosis. Diet tinggi lemak berkontribusi terhadap kadar TG, LDL, dan HDL. Saat ini telah banyak dilakukan penelitian dengan mengunakan model hewan coba yang diberikan diet tinggi lemak untuk memodifikasi profil lipidnya. Akan tetapi, belum ada standar  pemberian diet tinggi lemak dalam membuat model hewan coba dengan kadar TG dan LDL di atas normal dan kadar HDL di bawah normal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh berbagai durasi pemberian diet tinggi lemak terhadap profil lipid pada tikus putih (Rattus Novergicus Strain Wistar) jantan. Penelitian eksperimental murni laboratoris, menggunakan hewan coba tikus putih Rattus Novergicus Strain Wistar yang diberikan High Fat Diet (HFD) selama 8,16 dan 22 minggu, dengan kontrol diet normal. Pengukuran kadar TG, LDL dan HDL pada serum darah menggunakan alat cobasmira. Hasil penelitian menunjukan durasi pemberian HFD berpengaruh terhadap peningkatan kadar TG dan LDL serta penurunan kadar HDL dalam darah. Kadar TG tertinggi rata-rata 150 mg/dl, kadar LDL tertinggi rata-rata 216 mg/dl dan kadar HDL terendah rata-rata 19,75 mg/dl didapatkan pada kelompok dengan pemberian diet tinggi lemak selama 22 minggu. Hal tersebut membuktikan bahwa peningkatan asam lemak yang didapat dari diet tinggi lemak akan meningkatkan kadar TG dalam darah. TG merupakan bahan dasar LDL. Peningkatan kadar TG akan meningkatkan kadar LDL sehingga mengakibatkan penurunan HDL. Peningkatan kadar TG dan LDL serta penurunan kadar HDL secara signifikan didapatkan pada pemberian diet tinggi lemak selama 22 minggu. Durasi pemberian diet tiggi lemak berpengaruh terhadap peningkatan kadar TG dan LDL serta menurunkan kadar HDL pada tikus putih Rattus Novergicus Strain Wistar  jantan.Abstract. Atherosclerosis is one cause of death in many country including Indonesia. The causes of atherosclerosis are dyslipidemia, free radical, endothelial dysfunction and inflamation. Level of  lipid profile including Low Density Lipoprotein (LDL), High Density Lipoprotein (HDL) and Trygliseride (TG) on the blood are indicators of atherogenesis.High Fat Diet (HFD) contributesin TG, LDL and HDL level. Recently, so many study using animal model high fat diet giving to modifies lipid profil. There is no standart  duration of high fat diet giving to make animal model with level of TG and LDL higher than normal. The objective this research is to invetigate effect of duration high fat diet giving to increase lipid profile rattus novergicus strain wistar. This research is true experimental laboratory, using animals white rats of Wistar strain Rattus Novergicus, given High Fat Diet (HFD) for 8, 16 and 22 weeks, with a normal diet as control. Measurement levels of TG, LDL and HDL cholesterol in blood serum using cobasmira. Results showed that duration HFD giving elevated levels of TG and LDL and lower HDL levels in the blood. The highest TG level 150 mg/dl, LDL level 216 mg/dl and the lowest HDL level 19,75 mg/dl in 22 weeks HFD giving. Its proven increasing fatty acid from HFD will be increased TG level so caused HDL level decreased. The elevation TG and LDL significantly occured in 22 weeks HFD giving. The duration of HFD giving influences TG, LDL, and HDL level at Rattus Novergicus Strain Wistar.
PENGARUH BERBAGAI DURASI PEMBERIAN DIET TINGGI LEMAK TERHADAP PROFIL LIPID TIKUS PUTIH (Rattus Novergicus Strain Wistar) JANTAN Teuku Heriansyah
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 13, No 3 (2013): Volume 13 Nomor 3 Desember 2013
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Atherosklerosis merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di berbagai negara termasuk di Indonesia. Penyebab terjadinya atherosklerosis diantaranya dislipidemia, radikal bebas, disfungsi endotel dan inflamasi. Kadar profil lipid seperti Low Density Lipoprotein (LDL), High Density Lipoprotein (HDL) dan Trygliseride (TG) dalam darah merupakan indikator proses terjadinya atherosklerosis. Diet tinggi lemak berkontribusi terhadap kadar TG, LDL, dan HDL. Saat ini telah banyak dilakukan penelitian dengan mengunakan model hewan coba yang diberikan diet tinggi lemak untuk memodifikasi profil lipidnya. Akan tetapi, belum ada standar  pemberian diet tinggi lemak dalam membuat model hewan coba dengan kadar TG dan LDL di atas normal dan kadar HDL di bawah normal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh berbagai durasi pemberian diet tinggi lemak terhadap profil lipid pada tikus putih (Rattus Novergicus Strain Wistar) jantan. Penelitian eksperimental murni laboratoris, menggunakan hewan coba tikus putih Rattus Novergicus Strain Wistar yang diberikan High Fat Diet (HFD) selama 8,16 dan 22 minggu, dengan kontrol diet normal. Pengukuran kadar TG, LDL dan HDL pada serum darah menggunakan alat cobasmira. Hasil penelitian menunjukan durasi pemberian HFD berpengaruh terhadap peningkatan kadar TG dan LDL serta penurunan kadar HDL dalam darah. Kadar TG tertinggi rata-rata 150 mg/dl, kadar LDL tertinggi rata-rata 216 mg/dl dan kadar HDL terendah rata-rata 19,75 mg/dl didapatkan pada kelompok dengan pemberian diet tinggi lemak selama 22 minggu. Hal tersebut membuktikan bahwa peningkatan asam lemak yang didapat dari diet tinggi lemak akan meningkatkan kadar TG dalam darah. TG merupakan bahan dasar LDL. Peningkatan kadar TG akan meningkatkan kadar LDL sehingga mengakibatkan penurunan HDL. Peningkatan kadar TG dan LDL serta penurunan kadar HDL secara signifikan didapatkan pada pemberian diet tinggi lemak selama 22 minggu. Durasi pemberian diet tiggi lemak berpengaruh terhadap peningkatan kadar TG dan LDL serta menurunkan kadar HDL pada tikus putih Rattus Novergicus Strain Wistar  jantan. Abstract. Atherosclerosis is one cause of death in many country including Indonesia. The causes of atherosclerosis are dyslipidemia, free radical, endothelial dysfunction and inflamation. Level of  lipid profile including Low Density Lipoprotein (LDL), High Density Lipoprotein (HDL) and Trygliseride (TG) on the blood are indicators of atherogenesis.High Fat Diet (HFD) contributesin TG, LDL and HDL level. Recently, so many study using animal model high fat diet giving to modifies lipid profil. There is no standart  duration of high fat diet giving to make animal model with level of TG and LDL higher than normal. The objective this research is to invetigate effect of duration high fat diet giving to increase lipid profile rattus novergicus strain wistar. This research is true experimental laboratory, using animals white rats of Wistar strain Rattus Novergicus, given High Fat Diet (HFD) for 8, 16 and 22 weeks, with a normal diet as control. Measurement levels of TG, LDL and HDL cholesterol in blood serum using cobasmira. Results showed that duration HFD giving elevated levels of TG and LDL and lower HDL levels in the blood. The highest TG level 150 mg/dl, LDL level 216 mg/dl and the lowest HDL level 19,75 mg/dl in 22 weeks HFD giving. Its proven increasing fatty acid from HFD will be increased TG level so caused HDL level decreased. The elevation TG and LDL significantly occured in 22 weeks HFD giving. The duration of HFD giving influences TG, LDL, and HDL level at Rattus Novergicus Strain Wistar.