Gerald Moratua Siregar
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENCARIAN YESUS SEJARAH: THE QUEST OF THE HISTORICAL JESUS? Paulus Sentot Purwoko; Gerald Moratua Siregar
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 6, No 1 (2022): Vol, 6 No.1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v6i1.95

Abstract

“Kata orang, Siapakah Aku ini?” (Markus 8:27). Pertanyaan Yesus ini telah menjadi perdebatan serius sepanjang masa. Mulai dari catatan pertama tentang Yesus pada zaman pra gereja mula-mula sampai ke masa kini. Permasalahan Siapa Yesus sebenarnya sudah dimulai sejak Ia hidup bersama murid-murid-Nya. Murid-murid-Nya menjawab pertanyaan-Nya berdasarkan pengamatan orang sezaman-Nya; ada yang menjawab bahwa Yesus ialah Yohanes Pembaptis, Elia atau hanya sekedar nabi belaka. Lantas Siapakah Dia sebenarnya?  Pada zaman Pencerahan ini, rasionalisme berkembang pesat, berbagai macam bidang studi muncul dan berkembang, termasuk bidang studi sejarah. Para ahli sejarah menemukan berbagai macam metodologi untuk meneliti obyek-obyek sejarah secara lebih kritis, termasuk Alkitab dan semua tokoh yang ada di dalamnya. Mereka mengakui bukanlah hal mudah untuk melakukan observasi dan menggabungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya, serta kemudian menarik benang merah dari padanya. Rentang waktu yang sangat panjang, kurangnya bukti-bukti otentik, serta tidak adanya tulisan langsung seorang tokoh sejarah (autobiography) membuat observasi menjadi sulit. Para ahli PB melihat bahwa para reformator lebih banyak membahas doktrin tentang Kristus daripada sejarah Yesus. Mereka lebih banyak menjawab pertanyaan: “Mengapa Yesus mati?”, namun jarang menjawab pertanyaan: “Bagaimana Yesus hidup?
Beyond Religious Tolerance in Interfaith Dialogue Spaces in Yogyakarta: Reading from a Hospitality Perspective Gerry Nelwan; Gerald Moratua Siregar
Vol. 1 No. 1 (2022): Proceeding of International Conference Cultures & Languages 2022 174-185
Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/n3fpb434

Abstract

Diversity in Indonesian society is part of the reality that must be interpreted as the riches or uniqueness of this nation. However, conflicts and violence continue to be issues that disturb this diverse reality. These issues have forced the campaign for religious tolerance in society to continue to be carried out. This study aims to analyze the interfaith encounters that occurred in Yogyakarta and then proceed to read it from the perspective of hospitality. This research will use a descriptive qualitative methodology with observations, literature analysis, and interviews. The focus is on the Ahmadiyya group in Yogyakarta as one of the interfaith meeting spaces. The Ahmadiyya group often opens space and provides a place for interfaith dialogue for students and young people from different religious, cultural, and belief backgrounds. The formation of a dialogue space as a form of building an attitude of tolerance is not the end of achieving harmony or peace, but establishing the dimension of hospitality is also important in this particular discourse. Especially in enrolling in the post-pandemic period, a hospitality-based meeting room is needed.