Semarang merupakanibukotaprovinsiJawa Tengah yang pada beberapabagianwilayahnyaberbatasanlangsungdenganperairanyakniLautJawa. Hal inidapatmenjadipotensi yang baikjikaditanganidengantepat. Namunsayangnya area yang berbatasanlangsungdenganperairan, terutama area penduduk sangat lekatdengan area padat dan kumuh. Permasalahan yang paling umumterjadi di area waterfront adalahbanjir ROB. Hal inilah yang dialami oleh salah satu kampung waterfront terbesar di Semarang yakni Kampung BahariTambaklorok, yang sudahbergelutdenganpermasalahanbanjir ROB selama 10 tahunterakhir. Banjir ROB mempengaruhiseluruhaspekmasyarakat, sepertimasalahlingkungan, social, ekonomi dan berimbasmenjadi kampung yang kumuh dan miskin. Untukmengatasihalini, Diperlukanperancanganrevitalisasi Kampung BahariTambaklorokdenganpendekatanarsitekturkontekstualismeuntukmenghasilkanlingkungan yang responsif. Hasil analisaberupa strategi-strategi perancangan yang sesuaidenganaspekkontekstualkawasan Kampung BahariTambaklorokserta strategi yang tepatdalampengaplikasiandesainarsitektur waterfront. Metodepengumpulan data kontekstual yang akanmenjadiaspekperancangandidapatdari survey lokasilangsung, data dan jurnaldari internet maupunbukusertawawancaralangsungdenganpenduduk Kampung BahariTambaklorok Semarang sehinggadihasilkanprodukperancangan berupabeberapabangunanrusun yang terintegrasi pada kawasandengankelengkapanfasilitasumum dan fasilitas social yang sesuaidengankebutuhanmasyarakat yang ada dan diharapkanseluruhaspekperancangankawasaninidapatmemberidampakpositif dan dapatmenyelesaikanpermasalahandengantepat