Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Membangun Kesadaran Sebagai Manusia Spiritual-Ekologis Dalam Menghadapi Krisis Ekologi di Toraja Yudha Nugraha Manguju
SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 1 (2022): SOPHIA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/sophia.v3i1.66

Abstract

The destruction of nature today is not only an economic and ecological issue, but also a sociological and theological issue. The main cause of the ecological crisis is caused by irresponsible human behavior in exploiting the universe. This paper uses a qualitative research method with a literature study approach on the main literature on John Cobb's thoughts on Natural Theology (ecotheology) as well as books and journals from several theologians that discuss the topic of the ecological crisis. In this paper, it is found that there are at least two main crises in ecological issues, namely a crisis of understanding that makes humans massively exploit, dominate and discriminate against the surrounding environment, and a crisis of awareness of the importance of preserving nature. Thus, the author offers the concept of spiritual-ecological man as a keeper to preserve the universe which can be interpreted as nature as a common home, nature as intergenerational responsibility, and nature as the unity and harmony of creation Kerusakan alam dewasa kini bukan hanya sekadar sebuah isu ekonomis dan ekologis saja, melainkan juga isu sosiologis dan teologis. Selain karena proses alamiah, penyebab utama dari krisis ekologi diakibatkan oleh tingkah laku manusia yang tidak bertanggung jawab dalam mengeksploitasi alam semesta. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka atas literatur utama mengenai pemikiran John Cobb tentang Teologi Alam (ekoteologi) serta buku dan jurnal dari sejumlah teolog yang membahas topik krisis ekologi. Dalam tulisan ini, ditemukan bahwa setidaknya ada dua krisis utama dalam isu ekologis, yaitu krisis pemahaman yang membuat manusia secara masif melakukan eksploitasi, dominasi dan diskriminasi terhadap lingkungan di sekitarnya dan krisis kesadaran (awareness) akan pentingnya melestarikan alam. Dengan demikian, penulis menawarkan konsep manusia spiritual-ekologis sebagai pemelihara untuk melestarikan alam semesta yang dapat dimaknai dengan alam sebagai rumah bersama, alam sebagai tanggung jawab antargenerasi, serta alam sebagai kesatuan dan keharmonisan ciptaan
Gereja Yang Elastis Sebagai Model Bergereja di Era Digital Yudha Nugraha Manguju
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 5, No 2 (2022): Vol 5, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v5i2.355

Abstract

Abstract: The church in the 21st century is undergoing such great development and change. This is due to the Industrial Era 4.0 which is marked by advances in digital technology and the COVID-19 pandemic which requires churches to rethink their ministry models in the digital space. The Church has entered a new era in the pattern of its ministry mediated by digital technology. This study aims to find models of churches that are emerging in the digital age by utilizing the idea of a liquid church in Pete Ward's thinking as a development of the new character of the church. The research method used is qualitative with a literature study and interview approach. This research shows that the face of the church in the digital era can be distinguished into four models, namely Analog Church, Digilog Church or Phygital Church, E-Church and Virtual Reality Church. The new characteristics offered in this paper are the "Elastic Church" as a model of church in the digital era which can be understood in three aspects, namely the church as a network-participatory community, a resilient-adaptive community, and a missional-inspirational community. Keywords: Digital Church, Ecclesiology,  Liquid Church, Elastic Church, Pete Ward.  Abstrak: Gereja di abad 21 mengalami perkembangan dan perubahan yang begitu besar. Hal ini disebabkan oleh Era Industri 4.0 yang ditandai dengan kemajuan teknologi digital yang mengharuskan gereja untuk memikirkan kembali model pelayanannya di ruang digital. Gereja telah memasuki era baru dalam corak pelayanannya yang distimulasi oleh teknologi digital. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model-model gereja yang muncul di era digital dengan memanfaatkan gagasan gereja cair dalam pemikiran Pete Ward sebagai pengembangan karakter gereja yang baru. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Penelitian ini memperlihatkan bahwa wajah gereja di era digital sebagai dapat dibedakan menjadi empat model, yakni Analog Church, Digilog Church atau Phygital Church, E-Church dan Virtual Reality Church.  Karakteristik baru yang ditawarkan dalam tulisan ini yaitu “Gereja Elastis” sebagai model bergereja di era digital yang dapat dipahami dalam tiga aspek, yakni gereja sebagai komunitas jejaring-partisipatif, komunitas resiliensi-adaptif dan komunitas misional-inspiratif. Kata Kunci: Eklesiologi, Gereja Cair, Gereja Digital, Gereja Elastis,  Pete Ward.
To Sangserekan dan Air Sungai Maiting: Upaya Membangun Teologi Ekonomi Berwawasan Ekologis Toraja Yudha Nugraha Manguju
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 2 (2023): April 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30648/dun.v7i2.861

Abstract

Abstract. Ecological issues have become global and local problems that are increasingly expanding into humanitarian issues, namely social, spiritual, political and economic. This article focuses on ecological damage and social injustice that occur in the lives of the lembang Paku and Ma'dong communities. This research aimed to propose the concept of Panenteism-Sangserekan as an effort to build Theology-Ecology-Economy in the Toraja context. The research used qualitative methods through a literature review approach. The result of this study is Christian theology and local wisdom that can be the basis of spirituality and morality of the Toraja people in the face of ecological damage.Abstrak. Persoalan ekologis telah menjadi masalah global maupun lokal yang kian hari semakin meluas menjadi masalah kemanusiaan, yakni sosial, spiritual, politik, dan ekonomi. Artikel ini menitikberatkan pada kerusakan ekologis dan ketidakadilan sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Lembang Paku dan Ma’dong. Penelitian ini bertujuan untuk mengusulkan konsep Panenteisme-Sangserekan sebagai upaya membangun Teologi-Ekologi-Ekonomi dalam konteks Toraja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif melalui pendekatan kajian pustaka. Dari kajian ini dihasilkan Teologi Kristen dan kearifan lokal yang dapat menjadi dasar spiritualitas dan moralitas orang Toraja dalam menghadapi kerusakan ekologis.
CHARACTER BUILDING SEBAGAI MODEL KONSELING PASTORAL BAGI KAUM MUDA YANG MENGALAMI GAYA HIDUP SHOPAHOLIC Jeni Palette; Yudha Nugraha Manguju
POIMEN Jurnal Pastoral Konseling Vol. 4 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Program Studi Pastoral Konseling, Fakultas Teologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Consumptive culture has become an inseparable part of the lifestyle of young people. The shopaholic phenomenon is very important to know the causes and how to overcome it, especially in the frame of pastoral counseling so that church residents can understand and understand shopaholic problems. This study uses qualitative methods by observing and conducting interviews with the aim of obtaining information about factors, impacts, and techniques that can be used in conducting pastoral counseling for young people who experience a shopaholic lifestyle in order to recover and minimize a distorted lifestyle by excessive shopping addiction. Shopaholic behavior is very detrimental to young people from various aspects such as psychic, financial, moral, spiritual, and social. This deviant behavior is caused by a disorder in individuals, namely compulsive obsessions characterized by repetitive thoughts that cause them to want constantly to immediately fulfill their shopping desires. The character-building technique can be practiced by building emotional closeness and building a model of spirituality as a model of Christian character.