Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Economics Studies

Pengaruh Produk Domestik Regional Bruto dan Indeks Pembangunan Manusia terhadap Kemiskinan di Indonesia Debby Noor Muzdalifa; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 1 No. 1 (2021): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (354.397 KB) | DOI: 10.29313/bcses.v1i1.41

Abstract

Abstract. Destitutions is a serious problem in many countries, one of them is Indonesia which has different levels in every province. A way to reduce its number is by increasing the rate of economic growth marked by enhancement of Gross Domestic Regional Product (GDRP). And by increasing Human Development Index (HDI) through education, health and public purchasing strength. In addition, characteristics difference in each region can affect the destitutions pattern. This study aims to see the characteristics of the region will determine the destitutions pattern based on Klassen Tipologi. Second, this study aims to find out the influence and how the GRDP and HDI can change the number of destitutions in Indonesia. Regressions were done by using Panel Data through the Fixed Effect Method approach. Based on the results of the characteristic provincial study of the pattern region I, is a good domain because the destitutions level is below the national average, high rate of economic growth and higher HDI. Meanwhile, region IV is deficient domain because the level of destitutions is above the national average but has a lower rate of economic growth and HDI. Regression results show that GRDP has positive influence and insignificant effect to destitutions, while HDI enhancement has negative influence and significant effect to destitutions in 2011 to 2015. Abstrak. Kemiskinan merupakan permasalahan serius di berbagai negara, salah satunya Indonesia yang memiliki tingkat kemiskinan yang berbeda di berbagai provinsi setiap tahunnya. Salah satu cara untuk mengurangi angka kemiskinan yaitu dengan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi yang ditandai oleh peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Kemudian dengan meningkatkan pembangunan sumber daya manusia (IPM) melalui pendidikan, kesehatan serta daya beli masyarakat. Selain itu, perbedaan karakteristik di setiap wilayah dapat mempengaruhi kemiskinan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat karakteristik wilayah yang didasarkan pada LPE dan IPM akan menentukan pola kemiskinan yang didasarkan pada Tipologi Klassen yaitu terdapat wilayah yang tingkat kemiskinannya lebih tinggi atau rendah dari rata – rata kemiskinan tingkat Nasional. Kedua, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh serta berapa besar perubahan PDRB dan IPM terhadap angka kemiskinan di Indonesia. Regresi yang dilakukan menggunakan data Panel dengan pendekatan Fixed Effect Method. Berdasarkan hasil penelitian provinsi karakteristik wilayah pola I merupakan wilayah yang baik karena memiliki tingkat kemiskinan dibawah rata-rata Nasional dan laju pertumbuhan ekonomi serta IPM yang lebih tinggi. Sedangkan, wilayah IV merupakan wilayah yang kurang baik karena tingkat kemiskinan berada di atas rata-rata Nasional namun memiliki laju pertumbuhan ekonomi dan IPM lebih rendah. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa PDRB berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap kemiskinan, sedangkan peningkatan IPM berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan tahun 2011 sampai tahun 2015.
Identifikasi Potensi Ekonomi Kabupaten di Provinsi Jawa Barat Periode 2017 - 2021 Devi Rahayu Handayani; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.396 KB) | DOI: 10.29313/bcses.v2i2.4624

Abstract

Abstract. National development in developing countries focuses on development in the economic sector through economic growth efforts. Economic growth itself is related to the increase in the production of goods and services which can be measured through GRDP. This study aims to identify potential sectors in each district in West Java Province and get an overview of the spread of economic potential in West Java Province. The research method used is Location Quetient (LQ) analysis, Growth Ratio Model (MRP), and Overlay Analysis. The data used in this study is secondary data in the period 2017-2021 sourced from the Provincial BPS, District BPS, and the Bappeda of West Java Province. The results of this study conclude that each district has its own potential according to the conditions of the area. The results of the LQ analysis state that the sector in the district of West Java Province has shifted its base sector to the tertiary sector, meanwhile there are only 10 districts that still have a base sector in the primary sector. MRP analysis states that the sector in West Java Province, when viewed from the side of growth, is in the tertiary sector. Abstrak. Pembangunan nasional di negara berkembang berfokus pada pembangunan di sektor ekonomi melalui usaha pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi sendiri berkaitan dengan peningkatan produksi barang dan jasa yang dapat diukur melalui PDRB. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sektor-sektor potensial di setiap kabupaten di Provinsi Jawa Barat dan mendapat gambaran mengenai penyebaran potensi ekonomi di Provinsi Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis Location Quetient (LQ), Model Rasio Pertumbuhan (MRP), dan Analisis Overlay. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dalam kurun waktu tahun 2017- 2021 bersumber dari BPS Provinsi, BPS Kabupaten, serta Bappeda Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa setiap kabupaten mempunyai potensi masing-masing sesuai dengan kondisi daerahnya. Hasil dari analisis LQ menyatakan bahwa sektor di kabupaten Provinsi Jawa Barat sektor basisnya sudah beralih pada sektor tersier, sementara itu hanya terdapat 10 kabupaten yang masih memiliki sektor basis di sektor primer. Analisis MRP menyatakan bahwa sektor di kabupaten Provinsi Jawa Barat jika dilihat dari sisi pertumbuhannya berada di sektor tersier, Berdasarkan hasil analisis overlay, kabupaten di Jawa Barat pada umumnya memiliki subsektor yang sangat potensial di sektor primer dan sektor tersier.
Pola Konsumsi Generasi Z Pengguna E-Wallet di Kota Bandung Aghnisha Veny Mourizka; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v3i1.5887

Abstract

Abstract. E-wallet is a means of payment in conducting transactions for consumption. Every human being consumes to fullfill needs and desires in order achieve satisfaction. A person’s consumption expenditure will be affected by their income, the more income they earn, the more a person’s consumption expenditure will also be. This condition will form a pattern of public consumption. The consumption. The consumption pattern of a person or group of people can be influenced by the expenditures made by other people or group of people (Dusenberry, 1949). The purpose of E-wallets and to find out what factors determine the consumption patterns of funds set aside in E-Wallets in generation Z in Bandung City. The method used in this research is descriptive qualitative. The data sources used in this research are primary data and secondary data. The data collection technique in this study was by distributing questionnaires to 10respondents and interviews. The sampling technique in this study used a purposive sampling technique. The results of this study indicate that the consumption patterns of the z generation in using E-Wallets are spent on buying food, clothing, and transportation costs. Convenience and promotion are the reasons why Generation Z uses E-Wallets as a means of payment. As well as the factors that determine consumption patterns, namely income/allowance set aside in E-Wallets, lifestyle and reference groups. Lifestyle factors and reference groups determine the consumption patterns of the z generation in using E-Wallets Abstrak E-Wallet merupakan salah satu alat pembayaran dalam melakukan transaksi untuk melakukan konsumsi. Setiap manusia melakukan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan demi mencapai suatu kepuasan. Pengeluaran konsumsi seseorang akan dipengaruhi oleh pendapatannya semakin banyak pendapatan yang mereka peroleh maka semakin banyak juga pengeluaran konsumsi seseorang. Kondisi ini akan membentuk suatu pola konsumsi masyarakat. Pola konsumsi seseorang atau sekelompok masyarakat dapat dipengaruhi oleh pengeluaran yang dilakukan oleh orang lain atau sekelompok orang (Duesenberry, 1949). Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui pola konsumsi generasi Z Kota Bandung dalam menggunakan E-Wallet dan untuk mengetahui faktor-faktor apa yang menentukan pola konsumsi dari dana yang disisihkan di E-Wallet pada generasi Z Kota Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan penyebaran kuesioner pada 100 responden dan wawancara. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Pola konsumsi generasi z dalam menggunakan E-Wallet dihabiskan untuk keperluan membeli makanan, pakaian, dan biaya transportasi. Kemudahan dan promosi menjadi alasan mengapa generasi z menggunakan E-Wallet sebagai alat pembayarannya. Serta faktor-faktor yang menentukan pola konsumsi yaitu terdapat pendapatan/ uang saku yang disisihkan di E-Wallet, gaya hidup dan kelompok acuan. Faktor gaya hidup dan kelompok acuan menentukan pola konsumsi generasi z dalam menggunakan E-Wallet.
Pola Konsumsi Generasi Z Pengguna E-Wallet di Kota Bandung Aghnisha Veny Mourizka; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v3i1.5926

Abstract

Abstract. E-wallet is a means of payment in conducting transactions for consumption. Every human being consumes to fullfill needs and desires in order achieve satisfaction. A person’s consumption expenditure will be affected by their income, the more income they earn, the more a person’s consumption expenditure will also be. This condition will form a pattern of public consumption. The consumption. The consumption pattern of a person or group of people can be influenced by the expenditures made by other people or group of people (Dusenberry, 1949). The purpose of E-wallets and to find out what factors determine the consumption patterns of funds set aside in E-Wallets in generation Z in Bandung City. The method used in this research is descriptive qualitative. The data sources used in this research are primary data and secondary data. The data collection technique in this study was by distributing questionnaires to 10respondents and interviews. The sampling technique in this study used a purposive sampling technique. The results of this study indicate that the consumption patterns of the z generation in using E-Wallets are spent on buying food, clothing, and transportation costs. Convenience and promotion are the reasons why Generation Z uses E-Wallets as a means of payment. As well as the factors that determine consumption patterns, namely income/allowance set aside in E-Wallets, lifestyle and reference groups. Lifestyle factors and reference groups determine the consumption patterns of the z generation in using E-Wallets. Abstrak - E-Wallet merupakan salah satu alat pembayaran dalam melakukan transaksi untuk melakukan konsumsi. Setiap manusia melakukan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan demi mencapai suatu kepuasan. Pengeluaran konsumsi seseorang akan dipengaruhi oleh pendapatannya semakin banyak pendapatan yang mereka peroleh maka semakin banyak juga pengeluaran konsumsi seseorang. Kondisi ini akan membentuk suatu pola konsumsi masyarakat. Pola konsumsi seseorang atau sekelompok masyarakat dapat dipengaruhi oleh pengeluaran yang dilakukan oleh orang lain atau sekelompok orang (Duesenberry, 1949). Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui pola konsumsi generasi Z Kota Bandung dalam menggunakan E-Wallet dan untuk mengetahui faktor-faktor apa yang menentukan pola konsumsi dari dana yang disisihkan di E-Wallet pada generasi Z Kota Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan penyebaran kuesioner pada 100 responden dan wawancara. Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Pola konsumsi generasi z dalam menggunakan E-Wallet dihabiskan untuk keperluan membeli makanan, pakaian, dan biaya transportasi. Kemudahan dan promosi menjadi alasan mengapa generasi z menggunakan E-Wallet sebagai alat pembayarannya. Serta faktor-faktor yang menentukan pola konsumsi yaitu terdapat pendapatan/ uang saku yang disisihkan di E-Wallet, gaya hidup dan kelompok acuan. Faktor gaya hidup dan kelompok acuan menentukan pola konsumsi generasi z dalam menggunakan E-Wallet.
Tingkat Kepuasan Eksportir Terhadap Pelayanan Ekspor Di Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sukabumi Wildania Harbi Suarni; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v3i1.5953

Abstract

Abstract. Concept of good governance stems from dissatisfaction with the performance of the government which has been trusted to carry out public affairs. The implementation of good governance practices can be carried out in stages, depending on the capacity of the government, civil society and market mechanisms. The government realizes the need to encourage the industrial and trade sectors to strengthen the Indonesian economy. One possibility is to offer various conveniences or facilities in service. One way to implement good governance in Indonesia is by providing quality public services. In applying the concept of good governance, it is necessary to improve the quality of public services, one of which is to improve the quality of service at the Trade and Industry Office of Sukabumi Regency. For this reason, it is necessary to know how the satisfaction level of export services at the Sukabumi Regency Trade and Industry Office is.The method is descriptive quantitative and analytical method using a Likert Scale.The results of this study indicate that the level of export satisfaction felt by exporters is very satisfied with an average value of 87.71. The aspect with the highest average is the service aspect of responsiveness with an average value of 89.33. The aspect with the lowest average is the aspect of service to guarantees with an average value of 85. The most dominant aspect in determining the level of satisfaction is the aspect of service to responsiveness. With the largest average results obtained by the responsiveness aspect with an average value of 89.33. Abstrak - Konsep good governance bermula dari ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah yang telah dipercaya untuk menyelenggarakan urusan publik. Penerapan praktik tata kelola yang baik dapat dilakukan secara bertahap, bergantung pada kapasitas pemerintah, masyarakat sipil, dan mekanisme pasar. Pemerintah menyadari perlunya mendorong sektor industri dan perdagangan untuk memperkuat perekonomian Indonesia. Salah satu kemungkinannya adalah dengan menawarkan berbagai kemudahan atau kemudahan dalam pelayanan. Salah satu cara untuk menerapkan good governance di Indonesia adalah dengan memberikan pelayanan publik yang berkualitas. Dalam penerapan konsep good governance diperlukan peningkatan kualitas pelayanan publik, salah satunya dengan meningkatkan kualitas pelayanan pada Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Sukabumi. Untuk itu perlu diketahui bagaimana tingkat kepuasan pelayanan ekspor pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sukabumi. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dan metode analitik dengan menggunakan Skala Likert. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat ekspor kepuasan yang dirasakan eksportir sangat puas dengan nilai rata-rata 87,71. Aspek dengan rata-rata tertinggi adalah aspek pelayanan ketanggapan dengan nilai rata-rata 89,33. Aspek dengan rata-rata terendah adalah aspek pelayanan terhadap jaminan dengan nilai rata-rata 85. Aspek yang paling dominan dalam menentukan tingkat kepuasan adalah aspek pelayanan terhadap daya tanggap. Dengan hasil rata-rata terbesar diperoleh aspek responsiveness dengan nilai rata-rata 89,33.
Eksternalitas Objek Wisata Farmhouse dan The Great Asia Afrika di Desa Gudangkahuripan Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat Muhamad Chandra Gunawan Chandra; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v3i1.6172

Abstract

Abstract. Farmhouse and the Great Asia Afrika is a tourist attraction located in Gudangkahuripan Village, Lembang District. The existence of the Farmhouse and the Great Asia Afrika opens up opportunities for the surrounding community to carry out economic activities in the form of trade and services for tourists and can open new jobs. The rapid development of tourism in Gudangkahuripan village can cause positive externalities and negative externalities felt by various parties.This study aims to identify the positive externalities and negative externalities caused by Attractions Farmhouse and the Great Asia Africa. This type of research is qualitative descriptive using primary data and secondary data. The population in this study is the people of Gudangkahuripan village, with a sample of 99 respondents. The method of data collection was conducted by interviews and questionnaire filling. Then the measurement scale used in this study is the Likert scale.The results of the study showed positive externalities in the economic aspects of Farmhouse and the Great Asia Africa, namely increasing community income, opening up jobs, increasing PAD, and the availability of new business opportunities. Then, on the social aspects, namely changes in livelihoods, reducing the number of unemployed, increasing cultural preservation, and improving public facilities. Meanwhile, the negative externalities in social aspects are caused by the increase in crime, the density of tourists who disturb the community, and the increasing population density. Meanwhile, on environmental aspects, namely air pollution, waste problems, reduced environmental sustainability, and traffic congestion. Abstrak. Farmhouse dan The Great Asia Afrika merupakan objek wisata yang berada di Desa Gudangkahuripan Kecamatan Lembang. Keberadaan Farmhouse dan The Great Asia Afrika membuka kesempatan bagi masyarakat sekitar untuk melakukan aktivitas ekonomi dalam bentuk perdagangan maupun layanan jasa bagi wisatawan, serta dapat membuka lapangan kerja baru. Perkembangan wisata yang cukup pesat di Desa Gudangkahuripan dapat menimbulkan eksternalitas positif dan eksternalitas negatif yang dirasakan oleh berbagai pihak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi eksternalitas positif dan eksternalitas negatif yang ditimbulkan objek wisata Farmhouse dan The Great Asia afrika. Jenis penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa Gudangkahuripan, dengan sampel berjumlah 99 responden. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan pengisian kuesioner. Kemudian skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala likert. Hasil dari penelitian, menunjukan eksternalitas positif pada aspek ekonomi dari Farmhouse dan The Great Asia Afrika yaitu peningkatan pendapatan masyarakat, terbukanya lapangan kerja, meningkatkan PAD, dan tersedianya peluang usaha baru. Kemudian, pada aspek sosial yaitu perubahan mata pencaharian, menurunkan jumlah pengangguran, meningkatkan pelestarian budaya, dan peningkatan fasilitas publik. Sedangkan, eksternalitas negatif pada aspek sosial yang ditimbulkan yaitu peningkatan kriminalitas, kepadatan wisatawan yang mengganggu masyarakat, dan meningkatnya kepadatan penduduk. Sedangkan, pada aspek lingkungan yaitu polusi udara, permasalahan sampah, berkurangnya kelestarian lingkungan, dan kemacetan lalulintas.
Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi, Tingkat Pendidikan, Tingkat Kesehatan dan Laju Pertumbuhan Penduduk terhadap Tingkat Kemiskinan di Provinsi Jawa Barat pada Tahun 2016 – 2020 Iqbal Salsabil; Westi Riani; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v3i1.6383

Abstract

Abstract. One of the crucial problems in this developing country is poverty. Some of the factors that cause poverty are unstable and declining economic growth, lack of quality of human resources due to lack of education and rapid health and population growth. The large and dense population in West Java Province is a challenge for the government to make this human resource which in the future will have a positive or negative impact. This study aims to determine the effect of economic growth, education level, health level and population growth rate on the poverty rate in West Java Province in 2016-2020. This research data is secondary data sourced from the Central Statistics Agency (BPS). The method used is regression with a data panel covering twenty-seven regencies/cities in West Java Province. Estimation of data panel model parameters using Fixed Effect Model (FEM). The results of the study showed that economic growth, education level and health level had a negative and significant effect on the poverty rate in West Java Regency/City in 2016-2020, while the population growth rate had a positive and significant effect on the poverty rate in West Java province in 2016-2020. Abstrak. Salah satu masalah pembangunan utama di negara berkembang yakni kemiskinan. Penyebab utama kemiskinan diantaranya, pertumbuhan ekonomi yang tidak stabil dan cenderung menurun, kurangnya kualitas sumber daya manusia yang diakibatkan kurangnya pendidikan dan tingkat kesehatan dan pertumbuhan penduduk yang begitu cepat. Banyak dan padatnya jumlah penduduk di Provinsi Jawa Barat menjadi tantangan pemerintah untuk menjadikan sumber daya manusia yang kedepannya dapat berdampak postif atau negatif. Berdasarkan hal ini maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pertumbuhan ekonomi, tingkat pendidikan, tingkat kesehatan dan laju pertumbuhan penduduk terhadap tingkat kemiskinan di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2016-2020. Data penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS). Metode yang digunakan adalah regresi dengan panel data meliputi dua puluh tujuh kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat. Estimasi parameter model panel data menggunakan Fixed Effect Model (FEM). Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi, tingkat pendidikan dan tingkat kesehatan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Barat tahun 2016-2020, sedangkan laju pertumbuhan penduduk berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan di provinsi Jawa Barat tahun 2016-2020.
Karakteristik Penduduk Miskin dan Penyebab Kemiskinan di Desa Sukagalih lisnawati sopiah Lisna; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v3i1.6566

Abstract

Abstract. The research objective was to find out the characteristics and causes of poverty in Sukagalih Village. Sukagalih Village is an area with the highest poverty rate in Cikalongkulon District. Low access to health and clean water, dense slum areas, and low level of public education. This type of research is descriptive quantitative using primary data. The population in this study is the people of Sukagali Village. The research sample consisted of 90 respondents who were determined by the slovin formula with simple random sampling technique. Data collection methods were carried out by questionnaires, interviews, and documentation. The results of this study indicate that the causes of poverty in Dukagalih Village are low income, Sukagalih Village has poor characteristics, especially from the variables of income patterns, consumption expenditure and fulfillment of food needs. Meanwhile, from the health variable, the poor in Sukagalih Village are still able to meet standard health needs, namely they are still able to buy medicine and seek treatment at the puskesmas or midwife. For the residential housing variable, the poor residents of Sukagalih Village are still able to have their own houses with permanent buildings. Abstrak. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana karakteristik penduduk miskin dan penyebab kemiskinan di Desa Sukagalih. Desa Sukagalih merupakan daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Kecamatan Cikalongkulon. Rendahnya aksesibilitas kesehatan dan air bersih, padatnya kawasan pemukiman kumuh, dan rendahnya tingkat pendidikan masyarakat. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan data primer. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Desa Sukagali. Sampel penelitian berjumlah 90 responden yang ditetapkan dengan rumus slovin dengan teknik simple random sampling. Metode pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner, wawancara, dan dokumentazi.Hasil penelitian ini menunjukan faktor penyebab kemiskinan pada Desa Dukagalih adalah pendapatan rendah, Desa Sukagalih memiliki karakteristik miskin terutama dari variable pola pendapatan, pengeluaran konsumsi dan pemenuhan kebutuhan pangan. Sementara dari variabel kesehatan penduduk miskin Desa Sukagalih masih dapat memenuhi kebutuhan kesehatan yang standar yaitu masih mampu membeli obat dan berobat ke puskesmas atau bidan. Untuk variable perumahan penduduk, penduduk miskin Desa Sukagalih masih mampu memiliki rumah sendiri dengan bangunan yang bersifat permanen.
Preferensi Pengusaha Muda Kota Bandung dalam Keputusan Memilih Bentuk Asset: Emas, Saham dan Deposito Aulia Puspita Ningrum Arsyad; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v3i1.7034

Abstract

Abstract. The issue of an impending recession can encourage increasing inflation in several countries, especially Indonesia. When inflation increases, it will reduce the value of money as a result, capital owners must think smartly to transfer their assets from money into other assets. Likewise with entrepreneurs in the city of Bandung. Entrepreneurs are business actors by having a measurable and clear organizational and management system. The title of the Entrepreneur preference was chosen because most young entrepreneurs are cool with investment trends obtained from information from technological developments that make entrepreneurs get information from the price of gold, stocks and so on. In the end, entrepreneurs determine the assets to be stored by choosing the form of gold assets, stocks or deposits. Abstrak Isu resesi yang akan terjadi dapat mendorong meningkatnya inflasi di beberapa negara khususnya negara Indonesia. Saat inflasi meningkat akan menurunkan nilai uang akibatnya para pemilik modal harus berfikir cerdas untuk mengalihkan assetnya dari uang kedalam bentuk asset yang lain. Begitu juga dengan Pengusaha di kota Bandung. Pengusaha adalah pelaku usaha dengan memiliki sistem organisasi dan manajemen yang terukur dan jelas. Judul preferensi Pengusaha dipilih karena kebanyakan Pengusaha muda sedang asik asiknya dengan trend investasi yang diperoleh informasi dari perkembangan teknologi yang cangih pengusaha memperoleh informasi dari harga emas, saham dan sebagainya. Pada akhirnya pengusaha mementukan asset untuk disimpannya dengan memilih bentuk asset emas, saham atau deposito. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui preferensi pilihan alternative bentuk asset emas, saham, atau deposito bagi pengusaha muda di Kota Bandung serta untuk mengetahui faktor-faktor yang mendorong pemilihan keputusan pemilihan asset tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan populasi sebesar 245 pengusaha muda Kota Bandung, kemudian ditarik sampel sebesar 63 pengusaha dengan menggunakan metode purposive sample berdasarkan omset usaha yang diperolehnya. Hasil pengujian data 63 Pengusaha muda ini ternyata hanya 32 Pengusaha muda yang datanya valid dan nilai consistency index nya dibawah < 0,1 %. Alat analisis yang digunakan dalam penelitan ini adalah model analytical hierarchy process dimana membandingkan kriteria dalam keputusan pemilihan bentuk asset dengan mempertimbangkan multi kriteria. Software yang digunakan untuk mengolah data adalah expert choice. Sebelum dilakukan pengolahan data hasil survey, maka dilakukan uji konsistensi terhadap jawaban-jawaban yang diberikan responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengusaha muda memilih bentuk alternative Asset berdasarkan kriteria keuntungan yang diperoleh dengan bobot nilai sebesar 50,9% dikarenakan keuntungan yang diperoleh lebih penting dibandingkan dengan kriteria lain. Kriteria kedua yaitu likuiditas dengan bobot nilai sebesar 29,1%. Kemudian kriteria ketiga yaitu rasa aman dengan bobot nilai sebesar 20,0%. Dari hasil penelitian ini juga didapat bahwa Pengusaha muda lebih prefer memilih asset berupa emas dengan nilai sebesar 38,1%. Emas dalam hal ini dijadikan sebagai penyimpanan asset..
Preferensi Penghuni Rusunawa Cingised Kota Bandung dalam Memilih Lokasi Tempat Tinggal Sevira Julistia; Ria Haryatiningsih
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcses.v3i2.8015

Abstract

Abstract. The increasing population growth makes Bandung City included as one of the largest metropolitan cities in West Java. The increase in a population causes the land to decrease in residence, so the construction of Rusunawa is used as one solution so that Low-Income People have a place to live. There is a residential period with a maximum period of 10 years. So that residents who are approaching the deadline must be able to choose the next place to live. This study aims to determine the location and dominant criteria chosen by the residents of Rusunawa Cingised. This study used the AHP (Analyctical Hierarchy Process) method, data used primary and secondary data with interview questionnaire tools and processed using Super Decision software. Based on the results of the analysis that has been carried out, it shows that the residents of Rusunawa Cingised Bandung City are more dominant in choosing locations in the City Center with a weight of 64.04% and the criteria chosen with the most important sequential ranking are comfort criteria 31.90%, safety 29.88%, legality 15.50%, transportation 11.87%, and the last rank distance criteria 10.69%. Abstrak. Pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat menjadikan Kota Bandung termasuk sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Jawa Barat. Meningkatnya suatu penduduk menyebabkan lahan tempat tinggal semakin berkurang, sehingga pembangunan Rusunawa dijadikan salah satu solusi agar Masyarakat Berpenghasilan Rendah memiliki tempat tinggal. Terdapat jangka waktu penghunian dengan maksimal waktu 10 tahun. Sehingga penghuni yang telah mendekati batas masa waktu harus bisa memilih tempat tinggal selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lokasi dan kriteria dominan yang dipilih oleh penghuni Rusunawa Cingised. Penelitian ini menggunakan metode AHP (Analyctical Hierarchy Process), data yang digunakan data primer dan sekunder dengan alat kuesioner wawancara serta diolah menggunakan software Super Decision. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa Penghuni Rusunawa Cingised Kota Bandung lebih dominan memilih lokasi di Pusat Kota dengan bobot sebesar 64,04% dan kriteria yang dipilih dengan peringkat berurutan paling utama ialah kriteria kenyamanan 31,90%, keamanan 29,88%, legalitas 15,50%, transportasi 11,87%, dan peringkat terakhir kriteria jarak 10,69%.