Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Mengembangkan kompetensi global melalui Model Service Learning Yoga Adi Pratama
Inovasi Kurikulum Vol 19, No 2 (2022): Inovasi Kurikulum, August 2022
Publisher : Himpunan Pengembang Kurikulum Indonesia (HIPKIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jik.v19i2.44216

Abstract

The 21st century, with all its technological developments and globalization, had succeeded in removing barriers between countries, cultures, and races, thus forcing us to be able to live side by side with other individuals with different backgrounds. Nevertheless, not everyone had a high sensitivity to these individual differences. This study aimed to examine global competence as one of the skills that can help people live in harmony with the intercultural atmosphere and investigate service learning as an innovation in building global competence. This research used a literature study method by analyzing several studies related to the topic of discussion, which was worldwide competence and service learning. Researchers used secondary data sources. The study results showed that the service-learning model was suitable for building students' global competencies because the service-learning mode’s syntax, preparation, action, reflection, and celebration followed global competency indicators. Furthermore, the service-learning model was considered appropriate because this model provided opportunities for students to take real action in providing services in the community. The conclusion was the service-learning model was considered capable of internalizing global competencies because this model was service-based, which would make students act in real terms to create service solutions to create a harmonious life. AbstrakAbad ke-21 dengan segala perkembangan teknologi dan globalisasinya berhasil menghilangkan sekat antar negara, budaya, dan ras, sehingga memaksa kita untuk hidup berdampingan dengan berbagai individu yang memiliki latar belakang yang berbeda. Meskipun begitu, tidak semua orang memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perbedaan individu tersebut. Tujuan studi ini adalah mengkaji kompetensi global sebagai salah satu keterampilan yang dapat membantu orang-orang untuk hidup harmonis dengan suasana interkultural dan untuk menelisik inovasi pembelajaran model service learning dalam membangun kompetensi global. Metode penelitian ini menggunakan studi literatur dengan menganalisis beberapa kajian yang berkaitan dengan topik pembahasan yaitu kompetensi global dan service learning. Peneliti menggunakan sumber data sekunder. Hasil kajian menunjukkan bahwa model service learning cocok untuk membangun kompetensi global peserta didik, karena sintak dalam model service learning yaitu preparation, action, reflection, dan celebration sesuai dengan indikator kompetensi global. Lebih lanjut, model service learning dipandang tepat karena model ini memberikan kesempatan peserta didik untuk melakukan aksi nyata dalam memberikan pelayanan di masyarakat. Kesimpulan penelitian ini adalah model service learning dipandang mampu menginternalisasikan kompetensi global karena model ini berbasis pelayanan yang akan membuat peserta didik bertindak secara nyata membuat solusi pelayanan untuk menciptakan kehidupan yang harmonis.Kata Kunci: Abad ke-21; kompetensi global; model service learning
Indeks Kesalehan Sosial Kabupaten Madiun Tahun 2021 yoga adi pratama
Birokrasi Pancasila: Jurnal Pemerintahan, Pembangunan dan Inovasi Daerah Vol 4 No 2 (2022)
Publisher : Pemerintah Kabupaten Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potret “Kesalehan Sosial” masyarakat disaat pandemi menjadi fenomena yang sangat unik karena perilaku masyarakat dalam kehidupan beragama dihadapkan pada pilihan harus mendahulukan “Kesalehan Sosial” atau “Kesalehan Individu”. Di Pemerintah Kabupaten Madiun, Indeks Kesalehan Sosial merupakan indikatortujuan (IKU) yang didukung 3 sasaran yaitu (1) Menguatkan karakteristik kebudayaan; (2) Terwujudnya nilai – nilai keagamaan dan gotong royong dalam kehidupan masyarakat; dan(3) Terciptanya ketentraman dan ketertiban masyarakat, sedangkan indikator sasaranyakni: (1) Persentase budaya lokal yang dilestarikan, (2) Indeks Toleransi, (3) Indeks Solidaritas, dan (4) Indeks Stabilitas. Setelah dilakukan pengukuran melalui survei dan kajian, diperoleh hasil nilai Capaian Indeks Kesalehan Sosial Kabupaten Madiun Tahun 2021 = 65,86 (>50) termasuk kategori TINGGI. Hasil ini merupakan rata-rata dari tiga Dimensi, yakni Dimensi Kegiatan Ibadah Individual (D-1) = 85,26; Dimensi Pengetahuan Kesalehan Sosial (D-2) = 50,00, dan Dimensi 3 Sikap & Perilaku Mencerminkan Kesalehan Sosial (D-3) = 62,32. Hasil ini berada di atas atau melampui target tahun 2021 yang ditentukan yakni 65,69 atau lebih 0,17 point. Perolehan nilai IKS Kabupaten Madiun setiap tahun secara konsisten menunjukkan peningkatan, tahun 2019 = 61,67; tahun 2020 = 61,90; dan tahun 2021 = 65,86. Hal ini tidak lepas pula dari adanya peran yang signifikan dari Pemerintah Kabupaten Madiun dan para tokoh agama. Tokoh agama telah menyadarkan umat beragamanya untuk peduli terhadap keadaan lingkungan, kemanusiaan, dan negara. Sehingga kesalehan yang merupakan penghayatan dan pengamalan ajaran agama secara sempurna mampu ditunaikan oleh warga masyarakat, khususnya para penganut dan pengikut agama masing-masing.Kata kunci: Indeks Kesaelhan; Kabupaten Madiun.
ANALISA DAN STRATEGI PENGEMBANGAN WISATA HUTAN PINUS NONGKO IJO DI KABUPATEN MADIUN yoga adi pratama
Birokrasi Pancasila: Jurnal Pemerintahan, Pembangunan dan Inovasi Daerah Vol 4 No 2 (2022)
Publisher : Pemerintah Kabupaten Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Madiun Regency Government through the Youth and Sports Tourism Office is very serious about developing tourism potential around the Wilis. One of the potential tourist objects that can be an alternative is the Nongko Ijo pine forest. The Nongko Ijo Pine Forest is a natural tourist destination located on the western slopes of Mount Wilis, to be precise in Kare Village, Kare District, Madiun Regency, East Java.Therefore, a deeper study of analysis and development strategies for each tour needs to be carried out to serve as a guide, direction, and reference for the Tourism Office and Madiun Regency government stakeholders to carry out the arrangement and development of Nongko Ijo Pine Forest tourism. The study process was carried out using the descriptive analysis method, the SWOT analysis method, and the EFAS and IFAS analysis methods. Based on the results of the analysis carried out, it can be concluded that the Nongko Ijo pine forest tourism development plan is to collaborate with the Kandangan Coffee plantation, Kare District. This priority area is divided into five tourism activity zones, namely: 1) the information and service center zone, 2) the coffee village zone, 3) the coffee education tourism zone, 4) the forest ecotourism zone, and 5) the homestay zone. Keywords: SWOT, EFAS dan IFAS, Nongko Ijo